Pada kehidupan hari ini, sering kali orang merasa bahwa sebuah tugas akan selesai ketika masa waktunya berakhir. Padahal, dalam pandangan pesantren, justru setelah selesai itulah ujian yang sebenarnya dimulai.
Dalam acara Silaturrahmi Guru Tugas yang sudah semenyelesaikan pengabdiannya di Masjid Banyuanyar, Ahad (12/04/2026), Drs. H. Moh. Khalil Asy'ary menyampaikan tausiyah yang sederhana, namun menyentuh hati para hadirin.
Beliau mengingatkan bahwa status sebagai ustaz bukanlah sesuatu yang sementara.
“Dulu kalian masih dalam proses, masih dibekali. Lalu menjadi ustaz. Dan sekarang tetap ustaz, bukan mantan ustaz. Kalau sekali jadi ustaz, selamanya harus jadi ustaz,” tegas beliau.
Pesan ini bukan sekadar soal gelar, tetapi tentang tanggung jawab. Seorang ustaz tidak boleh berhenti menjadi teladan, meskipun masa tugasnya telah selesai.
Kemudian beliau mengajak hadirin merenungkan sebuah peristiwa penting dalam sejarah Islam, yaitu turunnya ayat terakhir:
اَلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
Artinya: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, serta Aku ridai Islam sebagai agamamu.”
Saat ayat ini turun, para sahabat merasa sangat bahagia. Mereka tersenyum, bahkan ada yang tertawa karena mengira agama telah sempurna. Namun, ada satu sahabat yang justru menangis, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq.
Ketika ditanya mengapa ia menangis, Abu Bakar menjawab dengan pandangan yang dalam. Ia memahami bahwa jika sesuatu telah mencapai kesempurnaan, maka itu adalah tanda bahwa akan ada perubahan besar setelahnya. Dan benar saja, tidak lama setelah itu, Rasulullah wafat.
Dari kisah ini, beliau menarik pelajaran untuk para guru tugas.
“Kalian sudah menyelesaikan tugas satu tahun. Tapi jangan merasa itu sudah selesai. Setelah ini, akan muncul kekurangan-kekurangan yang mungkin baru kalian sadari,” ungkapnya.
Beliau mengajak para guru tugas untuk tidak cepat merasa cukup. Justru setelah kembali dari pengabdian, saat itulah waktu untuk merenung, memperbaiki diri, dan terus belajar.
Beliau juga menyinggung pengalaman para guru tugas saat awal berangkat. Banyak yang merasa belum mampu, bingung harus mengajar apa, dan ragu dengan diri sendiri. Namun, ketika sudah berada di tempat tugas, ternyata mampu mengajar, mengisi kegiatan, bahkan membimbing masyarakat.
“Itu bukan karena kalian hebat. Itu karena barokah. Barokah orang tua, barokah para guru, dan barokah dari Banyuanyar,” jelasnya dengan penuh ketenangan.
Tausiyah ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan bukan semata hasil usaha pribadi, tetapi juga karena doa dan keberkahan. Maka, sikap yang harus dijaga adalah tetap rendah hati, terus belajar, dan tidak pernah merasa selesai dalam berjuang.
Di akhir penyampaiannya, tersirat pesan sederhana namun dalam: menjadi ustaz bukanlah fase, melainkan jalan hidup. Jalan yang harus terus dijaga, diluruskan, dan dihidupi sepanjang hayat.