Website Resmi PP Darul Ulum Banyuanyar Info: 087888868818

“Suara yang Menentukan Suasana"

“Suara yang Menentukan Suasana"

Dalam banyak acara di masyarakat, sering kita temui seorang MC yang tampil seadanya. Suara kurang jelas, gugup, bahkan terlihat tidak siap. Padahal, MC adalah wajah pertama sebuah acara. Dari awal ia berbicara, orang sudah bisa menilai bagaimana jalannya kegiatan tersebut.

Dalam Pembekalan Guru Tugas Masa Bakti 2026/2027, Mohammad Halili Anshori, M.Pd.I. menegaskan bahwa menjadi MC bukan sekadar membaca susunan acara, tetapi membutuhkan kesiapan mental, teknik, dan adab.

Ia menekankan bahwa hal pertama yang harus dimiliki seorang MC adalah mental yang baik (good mentality).

“MC harus percaya diri di depan semua orang. Kalau mentalnya baik, hadirin akan senang. Tapi kalau berdiri saja sudah tidak meyakinkan, orang akan ragu,” jelasnya.

Menurutnya, kepercayaan diri bukan hanya soal berani berbicara, tetapi juga terlihat dari cara berdiri, ekspresi wajah, dan ketenangan saat memegang mikrofon.

Selanjutnya, ia mengingatkan pentingnya memberikan salam penghormatan. Ini bukan sekadar formalitas, tetapi bentuk adab kepada orang-orang yang hadir.

“Seorang MC wajib menyebut dan menghormati tamu penting. Urutkan dari yang paling tinggi kedudukannya, seperti ulama, tokoh masyarakat, hingga para hadirin,” ujarnya.

Selain teknik berbicara, Halili juga menyinggung hal-hal kecil yang sering dianggap sepele, namun berdampak besar. Salah satunya adalah menjaga kondisi suara.

Ia menyarankan agar MC menghindari makanan berminyak sebelum tampil agar suara tetap jernih dan tidak mudah batuk. Ia juga mengingatkan agar tidak makan terlalu kenyang.

“Kalau terlalu kenyang, nanti sulit bernapas. Padahal MC butuh napas yang stabil saat berbicara,” tambahnya.

Hal penting lainnya adalah menyesuaikan bahasa dan penampilan dengan audiens. Ia menegaskan bahwa seorang MC harus peka terhadap siapa yang dihadapi.

“Kalau acaranya anak TK, jangan pakai bahasa berat, apalagi bahasa Arab atau Inggris. Audiens tidak akan paham. Begitu juga dengan acara pernikahan atau halal bihalal, penampilan harus menyesuaikan,” jelasnya.

Menurutnya, keberhasilan seorang MC terletak pada kemampuannya “masuk” ke dunia audiens, bukan memaksakan gaya sendiri.

Terakhir, ia menekankan pentingnya koordinasi dengan tuan rumah sebelum acara dimulai. MC harus memahami susunan acara, siapa saja yang akan mengisi, dan alur kegiatan secara keseluruhan.

“Jangan sampai saat acara berlangsung, MC malah sibuk bertanya ke tuan rumah. Itu membuat penampilan terlihat tidak siap, bahkan bisa merusak jalannya acara,” tegasnya.

Dari materi tersebut, para calon Guru Tugas diingatkan bahwa menjadi MC bukan perkara sepele. Dibutuhkan kesiapan mental, adab, dan ketelitian. Sebab, dari suara seorang MC, suasana acara bisa hidup—atau justru menjadi kaku.

Pesan sederhana namun dalam: jadilah MC yang siap, peka, dan beradab, karena dari situlah kepercayaan orang akan tumbuh.