Website Resmi PP Darul Ulum Banyuanyar Info: 087888868818

Pondok Pesantren Banyuanyar Lepas 570 Guru Tugas untuk Mengabdi di Penjuru Negeri hingga Malaysia

Pondok Pesantren Banyuanyar Lepas 570 Guru Tugas untuk Mengabdi di Penjuru Negeri hingga Malaysia

BANYUANYAR — Suasana khidmat dan haru menyelimuti Masjid Banyuanyar pada Ahad, 19 April 2026. Lembaga Pendidikan Islam Darul Ulum Pondok Pesantren Banyuanyar menggelar acara Silaturrahmi dan Pelepasan Guru Tugas periode 2026/2027. Acara dimulai sejak pukul 07.30 WIB hingga berakhir pada pukul 11.00 WIB.

Hadir dalam kesempatan tersebut para masyaikh dan jajaran pengurus, di antaranya Pengasuh, Ketua Umum Pengurus, Wakil Ketua Bidang Ma’hadiyah, Wakil Ketua Bidang Madrasiyah, Wakil Ketua Bidang Humas & Dakwah, Rektor Institut Darul Ulum Banyuanyar, serta para kepala madrasah dan sekolah di lingkungan LPI Darul Ulum Banyuanyar. Turut hadir pula para Penanggung Jawab Guru Tugas (PJGT) dari berbagai wilayah serta wali Guru Tugas.

Sebanyak 570 Guru Tugas secara resmi dilepas untuk mengemban amanah dakwah dan pendidikan di berbagai penjuru negeri, mulai dari Jawa, Kalimantan, Sumatra, hingga Papua. Bahkan, sebagian juga akan mengabdi ke luar negeri, yakni ke Malaysia. Adapun jumlah lembaga penerima Guru Tugas tercatat sebanyak 421 lembaga.

Di sela-sela acara, juga disampaikan sosialisasi Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru Institut Darul Ulum Banyuanyar (IDB) Pamekasan oleh Mabrur Rasi selaku Ketua Program Studi Tarbiyah. Hal ini menjadi bagian dari ikhtiar pesantren dalam melanjutkan estafet pendidikan para santri ke jenjang yang lebih tinggi.

Dalam sambutannya, Ketua Umum Pengurus, Drs. KH. Moh. Khalil Asy’ari, menyampaikan rasa syukur sekaligus harapan besar atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Saya, atas nama pengurus dan para asatir Lembaga Pendidikan Islam Darul Ulum Pondok Pesantren Banyuanyar, pertama-tama menyampaikan ahlan wa sahlan, selamat datang kepada seluruh hadirin dalam acara silaturahmi dan pelepasan guru tugas,” tuturnya.

Beliau berharap, melalui momentum ini, jalinan silaturahmi antara pesantren dan masyarakat semakin erat.

“Dengan eratnya silaturahmi, insyaAllah kita semua akan senantiasa diberi kelancaran oleh Allah dalam setiap upaya, usaha, dan aktivitas kita. Amin ya Rabbal ‘alamin.”

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa program Guru Tugas telah berjalan kurang lebih selama 40 tahun sejak dimulai pada tahun 1986. Hingga kini, program tersebut terus berkembang dan memberikan manfaat luas bagi umat.

Dari total 570 Guru Tugas, sebanyak 14 orang di antaranya merupakan peserta penugasan kedua. Sementara itu, tidak seluruhnya diberangkatkan pada hari yang sama, khususnya bagi mereka yang akan bertugas ke luar Pulau Jawa seperti Aceh, Papua, Malaysia, serta beberapa wilayah di Kalimantan dan Indonesia Timur, mengingat keterbatasan teknis perjalanan.

Ketua Umum Pengurus juga menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada para PJGT.

“Mereka tidak hanya sekadar menjadi guru, tetapi tetaplah santri yang belajar di tengah masyarakat. Oleh karena itu, mereka masih membutuhkan arahan dan bimbingan. Kami sangat berharap para penanggung jawab tetap membersamai mereka,” tegasnya.

Beliau juga memohon maaf atas segala kekurangan dalam pelaksanaan program, sekaligus membuka diri terhadap kritik dan masukan demi perbaikan di masa mendatang.

Sementara itu, Pengasuh, RKH. Hasbullah Muhammad, Lc., dalam tausiyahnya memberikan penekanan kuat pada pentingnya menjaga fokus dalam pengabdian.

“Jangan sampai terjatuh pada syighāl ‘anil maqsūd dan khurūj ‘anil maqsūd, sibuk pada hal yang melalaikan dan keluar dari tujuan,” dawuh beliau.

Beliau mengingatkan agar para Guru Tugas menjauhi la‘ibun wa lahwun, hal-hal yang bersifat permainan dan melalaikan.

“Kalau anak kecil seperti Upin Ipin, memang dunianya bermain. Tapi kalian ini calon guru tugas. Tinggalkan yang melalaikan dan membuang waktu,” pesan beliau dengan nada tegas namun penuh kasih.

Sebagai gantinya, para Guru Tugas diminta fokus pada i‘dādud dars, mempersiapkan materi pelajaran dengan sungguh-sungguh, lalu mengevaluasinya secara bertahap, khutwatan bi khutwah, selangkah demi selangkah.

Pengasuh juga mengingatkan agar tidak tergesa-gesa dalam proses.

“Allah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Itu mengajarkan kita untuk bit ta’annī, tidak terburu-buru,” ungkap beliau.

Selain itu, beliau menyoroti pentingnya meninggalkan budaya “kebut semalam” dalam belajar, serta menegaskan bahwa Guru Tugas adalah cermin bagi masyarakat.

“Apa yang kalian lakukan menjadi hujjah bagi masyarakat. Maka jadilah uswatun hasanah, bukan uswatun sayyi’ah.”

Terkait penggunaan HP Android, beliau menegaskan bahwa pembatasan dilakukan agar para Guru Tugas tidak terjerumus dalam hal-hal yang melalaikan, seperti permainan dan aktivitas yang tidak produktif. Sebaliknya, waktu harus diisi dengan hal-hal yang bermanfaat, seperti muthāla‘ah, takrīrul hifdz, dan murāja‘ah bagi para penghafal Al-Qur’an.

Di akhir tausiyahnya, Pengasuh menegaskan pentingnya menjaga waktu dan amanah.

“Gunakan waktu sebaik mungkin untuk melancarkan hafalan, mengulang pelajaran, dan mempersiapkan materi pengajaran dengan sungguh-sungguh.”

Acara pelepasan ini bukan sekadar seremonial, melainkan awal dari perjalanan panjang pengabdian. Di balik langkah para Guru Tugas, tersimpan harapan pesantren: agar ilmu yang didapat tidak berhenti di dalam bilik-bilik kelas, tetapi hidup dan tumbuh di tengah masyarakat.

Dari Banyuanyar, mereka berangkat. Membawa ilmu, adab, dan harapan menuju ladang-ladang pengabdian yang menanti.