Website Resmi PP Darul Ulum Banyuanyar Info: 087888868818

Catatan Ngaji Mantiq 2# : Pengertian definisi dan pembagiannya

Catatan Ngaji Mantiq 2# : Pengertian definisi dan pembagiannya

Ta'rif secara harfiyah berarti, pengenalan, pengertian, penjelasan atau definisi, dan secara terminologi ta'rif adalah teknik untuk menjelaskan suatu objek agar seseorang memiliki konsepsi yang tepat, dalam sebagian bab seperti tashawur ta'rif juga dikenal dengan qaul syarih yang bertujuan untuk memberikan konsepsi atau gambaran yang sempurna agar tidak keliru pada saat berkomunikasi. Dan itu juga alasan kenapa Ta’rif disebut sebagai puncak dari konsepsi atau tashawur, sebab seseorang dikatakan benar-benar memiliki konsepsi yang sempurna manakala ia mampu melihat jins dan fashl dari objek yang ia gambarkan atau dengan kata lain mampu mendefinisikan

Ta’rif  dibagi menjadi dua yaitu ta'rif hadd (definisi esensial) dan ta'rif Rasm (definisi  aksidental) jika penjelasan diffrensia (fashl) menggunakan esensial (dzati) dalam menjelaskan suatu objek, maka ia disebut sebagai ta'rif  hadd (definisi esensial). Dan jika penjelasan diffrensia (fashl) mengunakan Aksiden (‘ardh) maka ia dinamakan sebagai ta'rif rasm.

setelah pembagian di atas  ta'rif hadd dibagi lagi menjadi Hadd tam (esensial sempurna) dan Hadd naqis (esensial tak sempurna), cara mengenalinya sederhana cukup perhatikan genus yang digunakan jika definisinya tersusun dari genus dekat (Jins Qarib)  maka ia dinamakan Hadd tam dan jika definisinya tersusun dari genus jauh (jins ba’id) atau dicukupkan hanya menyebut diffrensia saja maka ia dinamakan Hadd naqish
Sama dengan ta'rif hadd, dalam pembagiannya ta'rif rasm juga dibagi menjadi dua macam, Rasm tam (aksidental sempurna) dan Rasm naqish, jika definisinya tersusun dari genus dekat dan diffrensianya diambil dari aksiden khusus (khas) maupun aksiden umum (amm) maka ia disebut sebagai Rasm tam dan jika definisinya tersusun dari genus jauh (jins ba’id) atau hanya menyebut diffrensia saja maka ia dinamakan Rasm naqish

Perangkat yang dipakai untuk membuat definisi dalam mantiq umumnya apa yang disebut dengan “lima universal” (al-kulliyyat al-khams) yang terdiri dari:
• spesies (nau’) yang hendak didefinisikan—kita ambil contoh manusia;
• genus (jins)—genus dari manusia ialah hewan;
• differensia (fashl)—differensia manusia dari hewan lain ialah ‘berpikir’;
• aksiden khusus (khas)—misal dari aksiden khas dari manusia yang tidak dimiliki hewan lain adalah ‘tertawa’; dan
• aksiden umum (‘ardh ‘amm)—misal dari aksiden umum yang menjadi sifat bagi manusia maupun hewan lain adalah ‘bersuara’.

Sebagai contoh kita coba definisikan pesantren, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mencari sifat yang esensial dan yang aksidental  dari pesantren (baca di catatan ngaji #1).  Contoh yang Esensi dari pesantren anggaplah (belajar keislaman,  Al-Qur’an, mengkaji kitab klasik dst)  dan yang Aksidental (belajar ilmu umum, belajar seni dan kebudayaan dst)  jika kedua sifat yang melakat pada pesantren ini sudah ketemu maka tinggal kita menyusunya,  Rumus definisi adalah (Genus + diffrensia) contoh “Pesantren adalah tempat belajar keislaman” jika diferensia diambil dari yang sifatnya esensial berarti ia termasuk definisi esensial, adapun jika diffrensianya diambil dari yang sifatnya aksiden baik yang khusus maupun yang umum berarti ia termasuk definisi aksidental sesederna itu sebenarnya. Selanjutnya jika ingin melihat sempurna atau tidaknya definisi itu kita cukup melihat genus yang digunakan, jika genus dekat berarti ia termasuk definisi sempurna dan sebaliknya jika genus jauh maka ia tergolong sebagai definisi tak sempurna sebagai latihan silahkan mulai mencoba menganalisis genus “tempat” pada definisi pesantren di atas, termasuk genus dekat atau jauh? 

Sebagai tambahan dan untuk menunjukkan bahwa sebenarnya hal yang sama berlaku juga dalam biologi, khususnya ketika membuat klasifikasi hewan. Animalia dapat dibagi secara sederhana, misalnya, menjadi dua: bertulang belakang (vertebrata) dan tidak bertulang belakang (invertebrata). Vertebrata dapat dibagi lagi menjadi yang berdarah panas dan berdarah dingin. Bila yang berdarah dingin terdiri dari ikan (pisces), reptilia, dan amfibi, hewan berdarah panas mencakup unggas (aves) dan mamalia. Mamalia bisa dibagi lagi menjadi yang hidup di laut (paus) dan di darat (kambing, sapi, dst). Pembagian bisa bermacam-macam bentuknya, tergantung pada dasar klasifikasinya.

Nah, dari klasifikasi hewan itu (yang versi sederhana sebab saya tergolong anak bahasa waktu nyantri), kita bisa membuat definisi dengan mudah. Misalnya, mamalia adalah ‘vertebrata berdarah panas yang menyusui’. Di sini sifat ‘menyusui’ saya jadikan sebagai differensia yang membedakannya dari vertebrata berdarah panas lainnya—semoga saja saya tidak keliru. Bila seseorang membuat pengertian bagi mamalia sebagai ‘hewan yang beranak’ saja, maka ia tidak sedang membuat definisi, melainkan deskripsi atau Rasm saja. sebab sifat ‘beranak’ (entah dengan cara melahirkan atau bertelur) merupakan aksiden umum, bukan differensia yang mendefinisikan mamalia. 

Maka, sebagai mana yang telah dikatakan pada (catatan ngaji Mantiq #1) esensi adalah yang menjadikan X itu X ini se ruh dengan sifat dan ciri dari  definisi sebagai puncak dari tashawur atau konsepsi, konsepsi itu adanya ketergambaran.  dan tanpa adanya nilai yang Esensi definisi hanyalah sampai pada deskripsi belaka.

 

Topik Terkait:
Tidak ada tag untuk berita ini.