Samudera Pengetahuan dan Pribadi Mulia Nabi Musa AS

By: Hanif Muslim | 15 Maret 2021 | 287
Banyuanyar.net
Banyuanyar.net

Dari semua petuah dan sederet  buku-buku  tips dan trik menulis, membaca selalu menjadi salah satu syarat paling kunci  dan cara paling  ideal untuk menghasilkan tulisan yang berotot dan bersosok. Dan memang seperti itu yang saya rasakan, ada semacam suplemen dan kemudahan ketika sedang menulis, sekalipun tulisan saya tidak kunjung berotot.  
Satu pekan yang lalu, ketika membuat ulasan dengan tema Isra’ Mi’raj, tentu saja  saya yang hanya sebutir debu dibelah menjadi tujuh  harus membaca beberapa ayat dari surah Al-Isra' sebelum kemudian membuat ulasan dengan tema itu. Lalu didapati beberapa poin menarik yang dijumpai dalam QS. Al-Isra': 101-102. Yang belum sempat saya tumpahkan Minggu lalu.
Al-Quran berkisah pada ayat 101 Surah al-Isra' bahwa Nabi Musa datang menjumpai Bani Israil dengam sembilan bukti (mukjizat) kuat akan kerasulannya, lalu dengan sekonyong-konyong, Firaun melayangkan tuduhan bahwa Nabi Musa telah terkena sihir.
Mendapat tuduhan demikian, Nabi Musa memberi respon tegas dan menarik. Beliau berkata: 
"...لقد علمتَ ماأنزَلَ هؤلآء الَّا ربُّ السموات والارض بصائر، وإنى لأظنُّك يافرعون مثبورًا"
"... Sungguh engkau telah mengetahui bahwa tidak ada yang menurunkan (bukti / mukjizat) itu kecuali Tuhan yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti yang nyata; dan sungguh aku benar-benar menduga bahwa engkau, wahai Firaun, akan celaka."
Ketegasan beliau terletak pada jawaban bahwa si tiran itu telah menyembunyikan kebenaran yang ia sendiri sudah ketahui. Dan yang menarik adalah Nabi Musa menduga bahwa raja, dengan nama asli Menepthan putra Ramses itu, akan celaka.
Yang membuat saya kagum dan terkesan adalah oposite status antara Nabi Musa yang merupakan  nabi mulia, termasuk ulul azmi, memiliki julukan Kalimullah, dan kita semua tentu tahu tentang kedalaman pengetahuannya,  seandainya semua lautan menjadi tintanya dan semua kayu-kayu menjadi kertasnya niscaya keduanya tidak akan cukup untuk menuliskan ilmu-Nya, kita juga tentu masih ingat tentang kisah nabi musa dan nabi Khidir. Sementara Firaun adalah raja tiran, kafir dan jelas sekali kekejamannya. Tapi sejagat kemulian Nabi Musa tidak membuatnya berani menjustifikasi kesesatan Firaun lalu memastikannya masuk neraka! Sebab itu, kata yang digunakan beliau adalah "Sunggu aku benar-benar menduga (إنى لأظنك)". Hanya sebatas dugaan (cogant) bukan memastikan. Sungguh jawaban elegan dan menunjukkan kemuliaan pribadi dan kedalaman pengetahuan sang Nabi.
Dan yang tak kalah menarik, dan membuat saya berfikir ulang adalah ada manusia yang bukan nabi apalagi Ulul Azmi, ilmunya masih belum seberapa, tapi, dengan begitu percaya diri mereka menjustifikasi kafir, neraka, dan mengklaim dirinyalah yang paling benar dan paling berhak mencium bau ketiak bidadari,  Dari kisah dan fenomena ini saya kemudian berkesimpulan bahwa perbedaan mendasar antara orang yang bengetahuan dan yang tidak, terletak pada apa yang mereka ingat dan lupakan, serta implikasi dari masing-masing dari hal tersebut.
Orang yang berpengetahuan adalah mereka yang “Lupa” pada pengetahuannya, sebab itu mereka terus mencari pengetahuan baru. Sedangkan orang yang tak berpengetahuan adalah mereka yang “Lupa” ketidaktahuannya, sehingga mereka tak ingat belajar dan lebih memilih bermalas-malasan.
Selain itu, orang yang berpengatahuan “Ingat” akan ketidaktahuannya sendiri, sehingga lupa atau tak memiliki cukup waktu untuk menghakimi orang lain.
Sebaliknya, orang yang tak berpengetahuan “ingat ilmu (sedikit) yang mereka punya, hingga tak henti-henti menyalahkan siapapun yang berbeda dengan tempurung sempit mereka.

Dari kisah al-Quran di atas, kita bisa memetik pelajaran bahwa dalam agama selalu ada dua dimensi:
Pertama, klaim kebenaran. Di sini kita bisa dengan tegas memberi garis demarkasi antara benar-salah, hitam-putih, atau ketegasan sejenis. Dengan bahasa yang lebih tajam, diperbolehkan menyalahkan atau membenarkan seseorang.
Kedua, klaim keselamatan, Dalam poin ini, tak satu pun mahluk berhak mengklaim keselamatannya. Boleh jadi seseorang benar dalam berakidah, baik secara sosial atau sahih pada tiap ibadahnya, tapi "apakah ia pasti selamat?" Di titik ini, seluruh mahluk sama-sama diam, tak berkutik, bahkan untuk sekadar menjamin dirinya sendiri, nah apalagi memastikan celaka bagi orang lain.
Ayat ini bisa menjadi teladan bagi kita untuk bersikap dan menyikapi perbedaan, tidak merasa tinggi, selazimnya hakim zalim: menginjak yang tabah, menghantam yang pasti kalah.

Selamat menghasrati ilmu.....

​​​​