Makna Filosofis Isra` Mi`raj

By: Hanif Muslim | 08 Maret 2021 | 821
Banyuanyar.net
Banyuanyar.net

سُبۡحٰنَ الَّذِىۡۤ اَسۡرٰى بِعَبۡدِهٖ لَيۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَـرَامِ اِلَى الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِىۡ بٰرَكۡنَا حَوۡلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنۡ اٰيٰتِنَا‌ ؕ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيۡعُ الۡبَصِيۡرُ

 

Semarak kegiatan keagamaan sudah umum digelar untuk meperingatan Isra’  mi’raj pada 27 Rajab, kemasan acaranya juga beragam bisa pengajian akbar, festival dst. kalau di pesantren umumnya diisi dengan kajian kitab Dardir. Meskipun jika hendak diperhatikan secara presisi tidak hanya sekedar acara seremonial saja, namun juga beragam tulisan dan ulasan senantiasa mengemuka setiap kali menjelang peringatan peristiwa luar bisa itu.  Seolah semuanya tidak ingin ketinggalan untuk menunjukkan ekpresi dan beragam penemuan baru untuk menambah rasa takjub.

Dan tentu saja dengan tulisan dan ulasan yang juga beragam dan berbeda-beda, mereka yang ahli di bidang sains mengkaji dari perspektif sain, teolog dengan seperangkat teori teologi dan metafisiknya, para failasuf menggali makna filosofisnya, ada juga yang menguraikan kisah isra’ mi’raj dengan nuasah  metaforik atau puitik, berbentuk sya’ir  dan sedikit berbau mistik. 

Seperti yang ada di dalam buku Al-Qur’an de Vincis Code diceritakan bahwa ketika Nabi Muhammad saw. melakukan perjalanan mi’rajnya menuju Sidratul muntaha keringat beliau menetes ke bumi, dan dari tetesan keringat itulah asal muasal tumbuhnya bunga mawar pertama,  dari kisah ini muncul prisma pemikiran atau nata’ij bahwasanya  orang Islam yang beriman masih memiliki kesempatan untuk mencium bau tubuh dan keringat Rasulullah saw melalui semerbak harumnya bunga mawar. 

ada juga kitab yang secara ekslusif hanya membahas peristiwa dan sandal beliau saja. Nabi Musa as. Adalah khalilullah yang diberitakan sering bertemu dengan Allah di bukit tursina, pada saat hendak memasuki lembah suci (al mustawa) beliau diperintahkan oleh Allah Swt. untuk melepas sandalnya, Sekaliber malaikat jibril pun yang memiliki tugas mulia menyampaikan wahyu tidak memiliki kapasitas untuk memasuki al mustawa. Namun yang menarik adalah ketika Rasulullah saw. hendak menginjakkan kakinya di al mustawa tidak ada perintah kepada Rasulullah saw untuk melepas saldalnya sebagaimana yang terjadi pada Nabi Musa as. dari ulasan ini kemudian muncul satu pertanyaan nakal  yang berbunyi “lebih mulia manakah antara malaikat jibril dengan sandalnya Rasulullah saw?” sandalnya Rasulullah dapat masuk ke dalam Al mustawa sedang malaikat Jibril tidak. tulisan ini ke belakang akan mencoba menyajikan aneka tafsir menarik para mufassir seputar ayat tentang Isra’ mi’raj yang akan menambah khazanah keilmuwan kita sekaligus akan membuat kita tercengang di sepanjang tulisan dan eureka pada akhir tulisan Insyaallah. 

Kita mulai dari lafadz bi abdihi pada surah Al isra ayat 1 kenapa Allah tidak menggunakan redakasi “bi Rasulihi”? Tentunya akan banyak sekali penafsiran untuk pertanyaan di atas namun saya lebih  memilih salah satu komentar yang menurut saya pribadi, tergolong  unik dan tentunya menarik yaitu komentar dari Imam Al Qusayiri di dalam kitabnya Latha’if Al isyarah. Menurut beliau kenapa Nabi disandingkan dengan redaksi Bi abdihi , tidak lain agar penduduk bumi belajar tentang “ubudiyah” atau ibadah sementara penduduk langit belajar tentang “adab al ibadah” atau bagaimana tata etika beribadah.

Sampai disini mungkin sebagian masih merasa kesulitan untuk memahaminya  “di mana pelajaran ubudiyah dan tata etikanya?” maka, dalam hal ini para mufassirin menjadikan redaksi  “lailan minal masjidil haram” sebagai jawaban dari pertanyaan di atas. kata “lailan” inilah yang menjadi salah satu bentuk analisis para mufassirin untuk menjelaskan apa yang dimaksud “adab al ibadah”.

Sebab jika diperhatikan di dalam Al-Qur’an malam itu adalah sesuatu yang unik ia disebut dengan redaksi “wa minal laili fatahajjad bihi nafilatan laka asaa an yab atsaka rabbuka maqaaman mahmuudan” (QS. Al Isra’: 79) jadi malam sangat erat kaitannya atau berhubungan dengan maqam (kedudukan) atau level dan barang siapa yang menggunakan malamnya dengan baik maka ia akan mendapatkan “maqaaman mahmuudan” itu adalah salah satu keistimewaan malam dan kenapa Nabi diisra’ mi’rajkan pada malam hari. Lalu apa yang dimaksud dengan “adab al ibadah” di mana kita bisa mengambil pelajaran itu dari perjalanan Rasulullah saw? maka pelajarannya adalah sederhana  “usahakan dalam beribadah jangan hanya mencari maqam atau kedudukan” itu saja sebenarnya. Jadi salah satu adab Nabi muhammad saw di sebutkan dalam (QS. An najm :17)  “penglihatannya Muhammad tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya”  Nabi tidak melihat kemana-mana atau tidak jelalatan “ ma dzawa Al basharu”  dan tidak berlebihan misalnya pergi ke surga lalu selfi-selfi  dulu “ma thawa”. Pandangan beliau sangat terjaga tidak lihat kiri dan kanan seperti yang ada di lagu anak-anak itu, jadi kalau mengacu pada ayat ini, lagu “naik-naik ke puncak gunung” itu sepertinya perlu direvisi. hehe 

Salah satu point yang tak pentingnya dan  perlu dicatat dari Peristiwa Isra’ itu adalah “minal masjidil haram ilal masjidil Aqsa” dari masjid al Haram menuju Masjid Al Aqsa, makna Al-Haram menurut Imam sya’rawi adalah tempat yang suci dan tempat yang  diharamkan untuk  melakukan sesuatu yang menodai kesucian dan hal-hal tertentu lainnya. maka, ketika seseorang memiliki keinginan atau sebuah  tujuan idealnya mulailah dari masjid al Haram, maksudnya bagaimana? saya coba kasih tamsil atau analogi misalnya begini “jika hanif memiliki komitmen dengan seorang wanita“ ukhty aku mencintaimu”. Kita semua pasti tahu bahwa jika hanif mengungkapkan cinta pada siapapun itu boleh-boleh saja. namun berbeda, ketika hanif sudah berkomitmen maka dia memiliki batas haram misalnya tidak boleh mengatakan cinta pada yang lain, gombalin cewek lain yang lebih cantik apalagi godain  sesama jenis naudzubillah summa naudzubillah.

 Jadi yang dimaksud “Masjidil Haram” sederhananya adalah tidak melakukan hal-hal yang tidak menyampaikan seseorang kepada “Masjidil Aqsa” sebab makna Aqsa adalah puncak atau tujuan, suatu tempat yang paling jauh itu dinamakan Aqsa. 

Sejauh mana saya bisa membentuk pribadi yang “masjidil Haram” sejauh itulah saya akan sampai  pada “Masjidil Aqsa”. Dengan kata lain dari mana kita berangkat sejauh itulah kita akan sampai, kalau kita “Masjidil Haramnya hanya level sepuluh maka level sepeuluh juga Masjidil Aqsanya”. 

Perumpaan yang lainnya misalnya ada anak nakal yang mencintai atau memiliki hubungan dengan putri seorang kyai atau ustadz” sebelum memiliki hubungan mungkin bagi anak nakal itu akan mengatakan kullu syai’in ibahah, Hehe.  Mau nakal seperti apapun boleh-boleh saja, tapi ketika dia sudah memiliki hubungan dengan anak kyai dia harus berubah ada batas haram yang mesti dia jaga misalnya (tidak malu-maluin keluarga kyai). 

Analisis unik berikutnya adalah, “Subhaanal laziii asraa bi'abdihii lailam minal Masjidil Haraami ilal Masjidil Aqsal-lazii baaraknaa haw lahuu linuriyahuu min aayaatinaa;innahuu Huwas Samii'ul-Basiir” ada tiga huruf  jar di dalam redaksi ayat ini  yaitu haruf Ba’,  Min, dan  ila.  ini kalau dalam kajian tafsir isyari akan menjadi Huruf Ba’ menjadi billahi, huruf  Min menjadi minallah dan huruf  ila menjadi ilallah. Mengapa urutannya dimulai dari billahi (huruf  Ba’) karena Allah lah yang menceritakan maka, diceritakanlah menjadi. Billahi, minallah, ilallah. Dan adapun bagi hamba model nalar logikanya tentu saja berbeda yaitu dari Minallah (Syari’at)  ilalallah menuju (Haqiqat) Billahi (Ma’rifat). Dan urutan semacam ini bisa dijumpai di dalam surah al ra’  "rabbi adhilni mudhola dzidqin wa akhrijni mukhraja dzidkin wa'adhilni milladunka sultonan nasiro" itu adalah ma’rifat billah, ketika selesai melewati tiga fase ini maka kita akan selesai dengan persaksian Tuhan (QS. Ali imran: 18)

Di pembabakan berikutnya kita akan dihadapkan dengan satu pertanyaan lagi prihal Kemuliaan Nabi ibrahim dan Nabi Muhammad saw, di antara keduanya yang manakah yang lebih mulia?  alasan yang mendasari pertanyaan ini berangkat dari Surah Al an am ayat 75  yang berbunyi “dan demikianlah kami  memperlihatkan kepada Ibarahim kekuasaan (yang terdapat ) di langit dan di bumi, dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin”   Allah mengangkat Nabi ibrahim untuk diperlihatkan kerajaan langit, sedangkan Nabi Muhammad saw di Mi’raj kan hanya diperlihatkan sebagian dari ayat-ayat-Nya “linuriyahu min ayaatina” para mufassirin menjawab tetap lebih mulia Nabi Muhammad saw. karena huruf  “Nun” pada lafadz “ayatina” bentuk penyandaran langsung kepada Allah swt. Maka menurut tafsir An Naisaburi diceritakan ketika Allah bertanya kepada nabi Muhammad “ya Mummad bima usarrifuka? “Wahai Muhammad dengan apa akan kumuliakan engkau” maka Nabi menjawab dengan cerdas “Tunsibuni  ila nafsik bi al Ubudiyah” 

 jadi, Kemuliaan Nabi justru terletak pada bentuk ke hambaannya, beliau bangga disebut sebagai Abdun,  dimana penyandaran “bi abdihi” menyandarkan “Abdun” dan “Hi” nya kepada Allah. Syekh Najmuddin al kubra juga mengomentari terkait lafadz bi abdihi” dalam surah Maryam ayat 2 pada lafadz “Abdahu zakariyya” kenapa Allah menyebutkan lafadz Abdahu sekaligus dengan Nama, tetapi pada surah al isra’ hanya menyebut “bi abdihi” saja beliau menjawab karena nabi Muhammad tidak lagi terpisahkan antara ubidiyahnya dengan status Muhammadnya maka menurutnya secara  spiritualitas lebih tinggi nabi Muhammad saw. selanjutnya saya ingin menambahkan tulisan ini dengan nilai edukasi yang dapat diserap dari isra’ mi’raj  karena Sejatinya peristiwa Isra adalah "kurikulum hidup" (manhajal-hayah) bagi tiap pribadi. Siapapun yang menjalani hidup dalam sirkuit tersebut, akan meraih sukses di finish perjalanan.

Perjalanan Nabi Saw dari Masjid al-Haram menuju Masjid al-Aqsha adalah simbol perjalanan manusia, yang pada intinya, hendak menuju tempat yang lebih baik lagi diberkahi, sebagaimana ciri Masjid al-Aqsha sebagai:

yang telah Kami berkahi di sekelilingnya..." (QS. Al-Isra': 1) Hal ini seperti seorang anak yang berangkat dari rumah menuju sekolah, ke pondok pesantren atau lain sebagainya; atau juga bapak-bapak yang bekerja ke luar kota demi membeli beras dan sebongkah berlian, misalnya. Untuk mendaptkan hasil yang baik, perjalanan itu membutuhkan 3 hal: 

1. Jibril

Sebagai malaikat yang memiliki tugas utama untuk menyampaikan wahyu, maka ia menjadi simbol hal-hal "spritual". Ya, seseorang melakukan Isra' dalam hidupnya membutuhkan itu. Sebagaimana murid membutuhkan guru di sekolah, atau seorang kyai dan ustadz di pesantren, ataupun seorang pemandu bagi mereka yang baru kerja di luar kota.

2. Mikail

Adalah simbol bagi hal yang "materil". Karena, Mikail adalah malaikat yang mengatur sirkulasi rezeki dan hal-hal duniawi lain. Sebab itu, seorang pelajar membutuhkan kendaraan menuju sekolah, para santri juga memerlukan sangu dan kiriman buat bertahan dari segala jenis serangan lapar waakhowatuha; bahkan pekerja juga butuh sedikit ongkos untuk berangkat dari rumah ke kota tujuannya bekerja.

3. Buraq

Ia diceritakan sebagai mahluk surga yang menjadi kendaraan bagi Nabi Saw. Sebagaimana burung terbang dengan sayapnya, maka manusia berangkat dengan amalnya. Dengan demikian, Buraq adalah simbol dari "ikhtiar atau etos kerja" yang ditekuni para penempuh perjalanan hidup masing-masing. Tak peduli seberapa banyak guru atau ustadz yang mengajar, maupun total uang jajan dan fasilitas yang dimiliki seorang murid atau santri, bila ia tidak belajar dan bersungguh-sungguh dalam menjemput pengetahuan, tak akan sampai ke ilmu yang hendak dituju. Karena Buraq bagi murid dan santri tak lain adalah "kegigihan belajar". Pun demikian bagi seorang pekerja. Sejelas apapun kota dan kerja yang diimpikannya, ataupun dengan bekal yang tidak sedikit dari rumah, bila ia tidak "giat bekerja", tentu tak ada beras yang dapat dibeli, apalagi bongkahan berlian untuk sang istri. Hil yang mustahal.

Secara pribadi, karena saya tidak termasuk kaum tekstualis yang membenci takwil, saya lebih cenderung untuk memberikan ulasan dengan  simbolisasi seperti berikut: Malaikat Jibril (Spiritualitas) Malaikat Mikail (Materi)l Buraq (Etos Kerja) dan Nabi Muhammad (Tiap Pribadi Penempuh Jalan Kehidupan).

Karena menurut hemat saya yang tidak terlalu hemat  hal demikian sangat mengenyangkan, terutama bagi jiwa manusia sebagai "animalesymbolicum" (mahluk simbolis), yang cenderung menghasrati makna dalam hidup, lebih-lebih terhadap makna peristiwa yang Tuhan pun memujinya "Maha Suci Dzat yang telah memperjalankan hambaNya..." (QS. Al-Isra': 1)

Subhanallah. Semoga kita diberi kesanggupan untuk memperoleh hal-hal baik di bulan mulia ini, Amin.