Tiga Tirakat Santri

By: Hanif Muslim | 30 April 2021 | 1057
Banyuanyar.net
Banyuanyar.net

Dari Gurunda tercinta (RKH. Hasbullah Muhammad Syamsul Arifin). Pagi ini beliau menyampaikan nasehat pesan dan doa untuk semua santri yang hendak pulang, dari beliau kita belajar banyak hal, namun ini bukan soal kalimat yang dirangkai rapi dengan kata-kata menarik semata yang menjadi sebabnya, melainkan peduli yang besar, dan hubungan emosi hebat yang melingkupinya saat menyampaikan. Sehingga nasehat itu bisa hidup, memberi nafas untuk menembus spasi di sela-sela hurufnya, meniupkan ruh ke ubun-ubun kata, yang kebijaksanaannya tak bisa dihentikan tanda titik, apalagi (sekedar) koma. 


Santri, dalam petutur bijak bahasa Jawa adalah urip Kuwi urup, Urip Kuwi urap (hidup itu menyala dan bercahaya, hidup itu Membaur dan bermasyarakat). Begitulah semestinya santri harus menyala dan bercahaya di tengah-tengah masyarakat dan lingkungannya ketika sudah liburan,  menyibukkan diri dengan kegiatan positif yang senantiasa dibiasakan di pondok dengan tidak menafikan kebaikan yang lain dan menegasikan kemuliaan yang lain. Beliau menganalogikan santri seperti seseorang yang sedang mengikuti rihlah atau perjalanan, Menjalin silaturrahim dengan sanak family dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.
Dalam kesempatan itu beliau juga menyampaikan tiga tirakat santri Banyuanyar yang beliau dengar dari kakeknya Kyai Abdul Hamid Baqir
Yang pertama, adalah Istiqomah shalat berjamaah, kedua, adalah Istiqomah ke congkop, ketiga, Istiqomah mengikuti kajian-kajian yang ada di Banyuanyar.
Terakhir, beliau juga berpesan untuk senantiasa menjaga tradisi nyadran (ziarah kubur) sebagaimana poin kedua dari pesan kyai Baqir, paling tidak  ucapkanlah salam kepada keluarga yang telah meninggal dan semua ahli kubur. 

Demikianlah beliau (guru yang sumur untuk ditimba airnya) mengajarkan kepada segenap santrinya untuk tidak gampang mati dalam kehidupan dan tetap hidup dalam kematian.