SUASANA pelepasan santri Pondok Pesantren Banyuanyar pagi ini terasa begitu emosional. RKH. Hasbullah Muhammad Syamsul Arifin memberikan wejangan perpisahan yang bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah transmisi ruh dan kepedulian mendalam bagi para santri yang hendak melangkahkan kaki kembali ke kampung halaman.
Dalam nasihatnya, beliau menekankan filosofi Jawa, "Urip iku Urup, Urip iku Urap". Hidup itu harus menyala layaknya cahaya, dan hidup itu harus membaur layaknya garam dalam masakan. Santri diharapkan tidak hanya membawa ilmu secara kognitif, tetapi menjadi energi positif di tengah masyarakat dengan tetap menjaga kebiasaan baik yang telah ditempa di pesantren.
Mengutip wasiat dari kakek beliau, RKH. Abdul Hamid Baqir, Kyai Hasbullah menitipkan tiga "Tirakat Utama" bagi santri Banyuanyar untuk menjaga keberkahan ilmu: yaitu
Istiqomah Shalat Berjamaah: Sebagai fondasi kedisiplinan dan hubungan dengan Sang Pencipta.
Istiqomah ke Congkop: Menjaga ketersambungan spiritual dengan para masyayikh.
Istiqomah dalam Kajian: Menunjukkan bahwa belajar adalah proses tanpa henti.
Beliau juga mengingatkan pentingnya menjaga tradisi Nyadran (ziarah kubur). Paling tidak, santri diharapkan tidak lupa mengirimkan salam dan doa kepada keluarga serta ahli kubur lainnya. Di tengah perjalanan pulang (rihlah) dan silaturahmi dengan keluarga, beliau tetap menghimbau santri untuk waspada terhadap kesehatan dan mematuhi protokol yang ada.
Pesan penutup beliau menjadi puncak perenungan yang mendalam: santri diajarkan untuk "tidak gampang mati dalam kehidupan, dan tetap hidup dalam kematian." Sebuah ajakan agar setiap amal dan langkah santri memiliki dampak yang abadi, melampaui usia raga mereka sendiri.