Dalam sambutannya di hadapan para wisudawan pada Sabtu (20/12/2025),
Rektor Institut Darul Ulum Banyuanyar, RKH. Shalehuddin Syamsul Arifin, Lc.,
MA., menyampaikan pesan mendalam mengenai tanggung jawab intelektual. Beliau
menegaskan, "Ilmu yang telah kalian dapat dari IDB ini adalah amanah.
Ijazah yang kalian pegang hari ini adalah amanah ilmiah yang harus
dipertanggungjawabkan untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi masyarakat luas.
Jangan malas untuk memulai; jika ada kesempatan atau fursah, maka
ambillah meskipun terkadang tidak sesuai dengan keinginan awal, karena mungkin
di jalan itulah Allah memberikan perkembangan untuk masa depan kalian."
Melalui penyampaian tersebut, Rektor menekankan bahwa gelar
sarjana bukanlah sekadar atribut formalitas, melainkan sebuah tanggung jawab
sosial. Beliau mengajak para lulusan untuk memiliki fleksibilitas dalam
menghadapi peluang kerja maupun pendidikan lanjutan. Dengan mengambil setiap
kesempatan yang ada, meskipun harus keluar dari zona nyaman atau lintas
disiplin ilmu, mahasiswa diajarkan untuk bersikap realistis namun tetap
progresif dalam membangun karier dan kemanfaatan di tengah masyarakat.
Lebih lanjut, beliau mengingatkan agar para wisudawan tidak
cepat berpuas diri dan siap menghadapi realitas kehidupan yang penuh tantangan.
Beliau berpesan, "Jadilah insan berilmu dan berakhlakul karimah. Menjadi
sarjana itu bahagianya cuma sementara, karena di masyarakat kalian akan
menemukan hal-hal yang lebih berat. Hidup itu masalah, jika tidak mau punya
masalah maka jangan hidup. Jadilah problem solving (solusi pemecah
masalah) di masyarakat. Teruslah belajar, jangan bangga hanya dengan lulusan
S1, manfaatkan itu untuk mengabdi hingga kalian bisa mencapai jenjang
pendidikan yang lebih tinggi lagi."
Pesan ini mengandung makna bahwa esensi dari seorang
intelektual adalah kemampuan untuk menjadi solusi, bukan justru menjadi bagian
dari masalah. Rektor mendorong para alumni IDB untuk menjadi pribadi yang
tangguh dan memiliki mentalitas pembelajar sepanjang hayat (long-life
learner). Beliau memotivasi lulusan untuk terus meningkatkan kualifikasi
akademik, mulai dari sertifikasi hingga menempuh jenjang S2 dan S3, sebagai
bentuk dedikasi kepada ilmu pengetahuan dan pengabdian bangsa.
Sebagai penutup yang menggugah, RKH. Shalehuddin Syamsul
Arifin mengutip syair legendaris dari Imam Syafi'i untuk membakar semangat
juang para wisudawan: "Bi qadril kaddi tuktasabul ma’ali, wa man
thalabal ‘ula sahiral layali. Kalau kalian ingin mencapai sesuatu, maka
bergeraklah! Usahakan sesuatu itu untuk dapat kalian raih. Jangan cuma
berleha-leha ingin sesuatu tapi kalian tidak berusaha. Pergi menyelam mencari
mutiara, ombak besar tak gentar dihadapi. Cita tinggi diraih dengan usaha,
tanpa kerja keras mimpi takkan pernah terjadi."
Penjelasan dari kutipan tersebut merupakan seruan bagi para
lulusan untuk meninggalkan sikap malas dan pasif. Rektor mengibaratkan
kesuksesan sebagai "mutiara" yang tidak akan didapat jika seseorang
takut menghadapi "ombak" atau tantangan. Melalui syair ini, beliau
menitipkan harapan agar alumni IDB menjadi petarung kehidupan yang berani
berkorban waktu dan tenaga demi meraih derajat yang mulia, seraya mendoakan
agar mereka senantiasa mendapat taufik dan rida dari Allah SWT dalam mengarungi
lautan kehidupan.