Isbat Ali, Raih Master of Tesol di Monash University Australia

By: Ach. Jalaludin | 12 September 2023 | 205
foto dokumentasi Banyuanyar Media Team
foto dokumentasi Banyuanyar Media Team

Lahir di Pamekasan, 25 Januari 1993 di kampung Ponjuk Somor Bulangan Haji Pegantenan Pamekasan. Isbat menempuh pendidikan formalnya di TK Dhama Wanita pada tahun 1997, hungga kemudian ia mondok di Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar dan mengambil sekolahnya di Madrasah Aliyah Darul Ulum Banyuanyar.

Selama mondok inilah Isbat banyak belajar tentang berbagai bidang keilmuan, baik yang berhubungan dengan ilmu agama ataupun ilmu umum lainnya. Ketekunannya belajar dapat dilihat dari banyaknya kegiatan yang ia geluti seperti Qori, Forum Lingkar Pena (FLP), Kaligrafi dan yang paling ia tekuni adalah bahasa Inggris.

Di bahasa Inggris ia mulai dengan mengikuti kursus bahasa Ingris di Branch of English Course (BEB). Setelah selesai belajar di BEB, ia melanjutkan ke Banyaunyar English Course (BEC) yang merupakan pusat pembelajaran bahasa Inggris di Banyuanyar. Setelah menamatkan belajarnya di BEC, kemudian ia membuat cabang kursus baru dengan teman-temannya yang ia niatkan untuk menampung santri yang masih pemula belajar bahasa Inggris, yaitu Branch of English Assosiation (BLESS).   

Selesai menjalani pendidikannya di Banyuanyar pada tahun 2008, ia melanjutkan ke perguruan tinggi di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura dan lulus pada tahun 2012. Sempat mengajar di beberapa instansi pendidikan seperti MA Darul Ulum Banyuanyar, SMA Negeri 3 Pamekasan, MTs-MA Nurul Jihad Robatal Sampang dan SMP-SMA Diniah Islamiah Thailand.

Semasa menjalani pekerjaannya sebagai guru itulah dia mendapatkan beasiswa untuk mengikuti kursus di Pare hingga menjadi tutor selama tiga tahun. Di sanalah dia kemudian mendaftar beasiswa LPDP yang kemudian lulus dan mengantarkannya kuliah di Monash University Australia.

Tentu dalam perjuangannya hingga menyelesaikan kuliah di luar negeri tidak mudah, butuh keteguhan baik badan maupun mental. Beberapa kali harus mendapatkan komentar negatif dari orang lain, bahkah ada yang mengatakan “kama’ah akuliyah juwu kelluh, karo matada’ saba (mau ke mana kuliah jauh-jauh, cuma menghabiskan sawah,” tutur Isbat dalam wawancara.

Tapi semua anggapan negatif tidak membuat Isbat kendur, melainkan menjadi motivasi untuk terus mewujudkan impiannya, bahkan ia berencana untuk melanjutkan pendidikan doktornya. Isbat percaya meski terlahir dari keluarga yang sederhana tetapi dengan tekat yang kuat , mampu mengantarkannya meraih master pendidikan bahasa Inggris di Monash University dengan gelas M.Tesol (Master of Teaching English to Speakers of Other Languages).