Kegiatan lepas pisah bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari pengamalan ilmu dalam kehidupan nyata. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Pengurus LPI Darul Ulum Banyuanyar Drs. H. Moh. Khalil Asy'ary dalam acara Lepas Pisah Siswa Kelas Akhir, Kamis (09/04/2026), yang berlangsung di Masjid Banyuanyar.
Dalam sambutannya, Drs. H. Moh. Khalil Asy’ary mengawali dengan mengaitkan perjalanan pendidikan para siswa dengan firman Allah Swt.:
وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
“Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok.”
Ia menjelaskan bahwa seluruh proses pendidikan yang telah dilalui siswa mulai dari PAUD hingga jenjang menengah atas merupakan bekal untuk menghadapi masa depan. Oleh karena itu, menurutnya, acara lepas pisah tidak boleh dimaknai sebagai berakhirnya proses belajar.
“Jangan pernah beranggapan bahwa ini adalah akhir dari menuntut ilmu. Ilmu harus terus dicari sepanjang hayat,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya mengamalkan ilmu yang telah diperoleh. Ilmu, menurutnya, tidak cukup hanya dipahami, tetapi harus dipraktikkan dan disebarkan agar menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengutip sebuah nadzom yang sarat makna tentang semangat menuntut ilmu:
احْرِصْ عَلَى كُلِّ عِلْمٍ تَبْلُغِ الآمَالَا
وَلَا تُعَوِّلَنَّ بِعِلْمٍ وَاحِدٍ كَسَلًا
النَّحْلُ لَمَّا رَعَتْ مِنْ كُلِّ فَاكِهَةٍ
أَبْدَتْ لَنَا الْجَوْهَرَيْنِ الشَّمْعَ وَالْعَسَلَا
الشَّمْعُ فِي اللَّيْلِ ضَوْءٌ يُسْتَضَاءُ بِهِ
وَالشَّهْدُ يُبْرِي بِإِذْنِ الْبَارِئِ الْعِلَلَا
Beliau kemudian menguraikan makna nadzom tersebut secara mendalam. Ia menjelaskan bahwa lebah menjadi simbol bagi penuntut ilmu. Lebah tidak memilih sembarang tempat, melainkan hanya mendatangi yang baik, harum, dan bermanfaat. Dari proses itu, lebah menghasilkan dua hal bernilai tinggi: lilin dan madu.
Menurutnya, lilin melambangkan kemampuan seorang berilmu untuk menjadi penerang bagi orang lain, sementara madu melambangkan manfaat nyata yang dapat dirasakan oleh masyarakat.
“Jangan sampai kita hanya memiliki satu jenis ilmu karena malas belajar. Jadilah seperti lebah, yang selalu mencari yang terbaik dan menghasilkan manfaat bagi banyak orang,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa semangat belajar harus terus dijaga hingga akhir hayat. Menuntut ilmu bukanlah proses sesaat, melainkan perjalanan panjang yang tidak mengenal batas waktu.
Di akhir sambutannya, ia menyampaikan harapan agar seluruh siswa yang dilepas mampu mengamalkan ilmu yang telah diperoleh serta menebarkan manfaat di tengah masyarakat.
“Semoga ilmu yang telah dipelajari menjadi ilmu yang bermanfaat, diamalkan, dan diajarkan kembali, sehingga menjadi amal jariyah,” pungkasnya.
Acara yang berlangsung khidmat ini diikuti oleh 577 siswa kelas akhir dari berbagai lembaga, yakni MA, SMAT, SMAI, dan SMK Darul Ulum Banyuanyar. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Ketua Pengurus Bidang Madrasiyah Prof. Dr. H. Zainuddin Syarif, M.Ag., Wakil Ketua Pengurus Bidang Ma’hadiyah Baisuni Salim, M.Pd., Wakil Rektor III Institut Darul Ulum Banyuanyar Samsul AR, M.Pd., Sekretaris Umum Pengurus Masturil Kirom, S.Pd.I, serta seluruh kepala sekolah di bawah naungan LPI Darul Ulum PP Banyuanyar.
(Jll)