Santri Tidak Ada Bedanya dengan yang Bukan Santri Kecuali Karena Akhlak dan Keistiqomahannya

By: Mukmin Faishal | 19 November 2018 | 553
Pengasuh PP Banyuanyar KH Muhammad Syamsul Arifin
Pengasuh PP Banyuanyar KH Muhammad Syamsul Arifin

SUNGGUH memprihatinkan melihat situasi dan keadaan saat ini. Kerusakan terjadi di mana-mana. Bahkan sepertinya, sifat-sifat dajjal, firaun, setan, dan lain sejenisnya mulai menyebar dan merusak manusia.

Demikian disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Banyuanyar KH. Muhammad Syamsul Arifin, pada malam perpisahan libur maulid 1440 Hijriyah, Sabtu malam (17/11/2018).

Dalam hal ini beliau menharap agar santri menjaga diri dari banyak kerusakan tersebut, khususnya ketika pulang ke rumah masing-masing.

Guleh ngarep dek cakanca kabhi nikah, jhek sampe rosak, engki,” dawuh beliau sambil diamini oleh semua santri.

Beliau menyampaikan bagaimana santri Banyuanyar mulai pulang dari pondok hingga ketika berada di rumah senantiasa menggunakan akhlak yang baik dan istiqomah dalam mengerjakan kebaikan, khususnya dalam hal shalat berjamaah. Karena menurut beliau, santri tidak ada bedanya dengan yang bukan santri kecuali karena akhlak dan keistiqomahannya dalam melakukan kebaikan.

Karana santre tade’ bhidhenah ben oreng laen, kecuali bidhenah akhlak ben istiqomanah,”

Oleh karena itu, beliau berharap supaya santri senantiasa memiliki etika dan sopan santun yang baik. Terutama kepada teman, guru, orang tua, keluarga dan orang lain. Kemudian bagaimaana salalu memberikan mafaat kebaikan, sambil menyitir hadits, khairunnas anfauhum linnas, sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat kepada lainya.

Selain itu beliau mengharap santri di rumah dapat senantiasa melakukan amal kebaikan, termasuk meringankan beban orang tua di rumah. Bukan malalah sebaliknya yaitu membuat mereka resah dan gelisah.

Usahaaki, nambei karinganan e delem beban oreng toa. Ngarep bisa seneng ben nyenengaki dek ka keluarga. Moghe-moghe nikah..,” lanjut beliau sambil diamini oleh semua santri.

Dan dengan ini beliau mengharap santri Banyuanyar dikenal orang berakhlak yang baik, dan istiqomah dalam shalat berjamaah. Sehingga kebiasaan shalat berjamaah tidak hanya di pondok, tapi juga dibawa hingga ke rumah.

“Saengghe santri Banyuanyar ekenal bekus tatakramanah, tepat wektoh, istiqomanah e delem shalat berjama’ah,” tutur beliau.

Untuk istqomah beliau menyampaikan pentinya. Menurut beliau tidak perlu mencari karamah, karena istiqomah adalah karomah, sebagaimana dikatakan Uthlubil istiqamah, wa la tathlubil karomah! fainnal istiqamah, ainul karamah,.

Dan beliau sangat berharap istiqomah dalam melakukan kebaikan ini dijalankan mulai dari masih santri, sampai pulang ke rumah masing-masing, khususnya dalam shalat berjamaah.

Di akhir sekali lagi beliau menyampaikan bagaimana santri dapat berbuat kebaikan dan bermafaat kepada orang tua, kepada pesantren, guru, orang lain. Dan beliau menyatakan kepada santri agar menyampaikan salamnya kepada orang tua di rumah. Dan apabila waktu kembali santri tiba, untuk segera kembali ke pondok tepat waktu.

“Terakhir gule ngarep, dek keluarga e compoen, atoraki salam guleh, tor epakon tulih abelih mon ladepa’ ka wektonah” jelas beliau sambil mengakhiri tausiyah.

Acara perpisahan ini bertempat di Aula Madrasah Masjid Banyuanyar dan diikuti oleh semua santri.

(asd)