Budaya Literasi Harus Dimulai Sejak Dini

By: Faisal Amir | 29 Maret 2019 | 224
Karya anggota FKMSB Yogyakarta
Karya anggota FKMSB Yogyakarta

banyuanyar.net- BUDAYA MENDIDIK orang tua saat di rumah dan para guru di sekolah yang menjadi kekurangan dari cara mendidiknya adalah tidak memberi perhatian secara khusus terhadap anak didiknya mengenai pentingnya kebiasaan membaca dan menulis. Saat ini orang tua mencari alternatif gampang dalam mendidik anak-anaknya agar ia sendiri lebih mudah dalam bekerja dalam arti fokus agar tidak di ganggu oleh anak-anaknya. Seperti contoh memfasilitasi mereka dengan TV agar tidak keluar rumah tetapi asyik menonton sinetron TV, atau membelikan mereka android canggih sekaligus paket internet atau fasilitas wifi misalya agar si anak bisa main game di layar gadget dan jelajah maya lainnya sesuai keinginan mereka. Sang anak jika sudah ada di depan layar TV atau menggenggam android ia akan lupa dengan hal-hal lain yang sifatnya bisa menggagu pekerjaan orang tua.

Di tempat sekolah juga tidak jauh berbeda, budaya membaca dan menulis jarang diminati siswa-siswi. Terbukti ketika istirahat sekolah atau ketika tidak ada guru di kelas mereka lebih memilih aktifitas bercanda, ngobrol-ngobrol atau main di lapangan. Perpustakaan sekolah sepi dari pengunjung. Di sini guru sebagai orang yang mengurus jalannya sekolah perlu untuk memperhatikan secara khusus kegiatan siswa-siswinya ketika berada di sekolah. Dalam arti bisa membagi dengan baik aktifitas mana yang harus siswa-siswinya lakukan pada waktunya.

Salah satu pengaruh benda mungil tersebut misalnya sekarang ini terjadi di lingkungan masyarakat perkotaan dan saat ini pelan-pelan sudah merambat ke pelosok desa. Contoh kecilnya saja di desa saya sendiri, saat ini jarang sekali di temukan anak-anak kecil yang bermain permainan tradisional di halaman tebuka seperti era saya dahulu. Permainan seru mereka saat ini adalah game di dunia maya satu sama lain. Kelebihan game adalah mereka bisa bermain meskipun sendirian sekaligus efek negatifnya meskipun mereka duduk bersama misalnya seolah duduk berjauhan, karena mereka asyik dengan dirinya masing-masing.

Seorang anak jika sedari kecil sudah di didik seperti itu besarnya nanti ia akan terus seperti itu. Menginjak sekolah di SMA dan bahkan di kampus ia akan asyik dengan dunia maya yang jelas lebih banyak negatifnya. Sebut saja misalnya sat ini mereka lebih asyik dengan selfi pamer diri kemudian di unggah di media sosialnya masing-masing. Aplikasi tiktok banyak di gemari pemuda-puda.

Hal tersebut terjadi karena didikan kecil kurang terlalu diperhatikan, orang tua dalam hal ini yang punya peran besar  kurang mencurahkan perhatian terhadap bagaimana masa depan anak-anaknya kelak. Mereka lebih perhatian dengan biaya hidup dan kebutuhan anak sebagai tanggung jawab, padahal pendidikan dan pengawasan mereka tentang kemajuan anak adalah juga tangung jawab yang jauh lebih penting.

Maka orang tua harus benar-benar memperhatikan pendidikan terhadap anak-anaknya yang kecil ketika di rumah. Selain di ajari secara lisan bagaimana agar rak-rak buku, budaya tulis menulis, menggambar atau kegiatan lain yang bisa menggerakkan imajinasi berpikir mereka juga menjadi keharusan dalam beraktifitas. Kegiatan semacam ini harus di mulai dari orang tua sendiri terlebih dahulu, anak-anak akan belajar dari apa yang jelas di depan mata dan sudah menjadi budaya. Bukan berarti alat lain semacam TV, gadget, atau mainan anak-anak di tiadakan, tetapi bagaimana agar orang tua bisa membagi waktu anak dalam beraktifitas.

Sebab tidak baik juga jika hal-hal yang berbentuk elektronik kemudian di tiadakan di rumah-rumah mengingat bahwa bagaimana pun zaman sekarang ini manusia akan di benturkan dengan hal-hal semacam itu. Menghadapi era revolusi industri dengan kecanggihan alat teknologi yang luarbiasa. Dan bagaimana agar dengan fasilitas elektronik tersebut menambah luas wawasan mereka dengan cara selancar di dunia maya.

Sedari dini anak kecil perlu untuk di motivasi agar selalu membaca kemudian menuangkan bacaan tersebut dengan idenya sendiri dalam bentuk tulisan. Membaca dan menulis adalah dua kegiatan yang harus beriiringan karena itu saling mengimbangi satu dan yang lain. Pribadi yang gemar menulis akan kekurangan kata-kata dalam menuangkan idenya jika ia tidak akrab dengan budaya membaca. Pun mereka yang sering membaca jauh akan lebih berguna jika apa yang dibacanya kemudian diaktualisasikan dalam bentuk tulisan dengan menuangkan juga kerangka ide sendiri.

Sekali lagi orang tua harus memulainya. Jika tidak memungkinkan, maka pesantren bisa menjadi alternatif dalam hal ini. Sebab di pesantren dalam durasi waktu 24 jam aktifitas santri terpantau dengan baik. Dan di pesantren mereka akan mendapatkan pendidikan yang maksimal.

 

Moh. Warits AKa,

penggiat FKMSB wil.Yogyakarta yang saat ini sedang menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.