SANTRI PEMERSATU NEGERI

By: Faisal Amir | 22 Oktober 2018 | 34
Doc. Imron
Doc. Imron

Persatuan dan kesatuan dalam segala perbedaan ada dalam status santri di pesantren. Satu pesantren menghadirkan ribuan bahkan jutaan santri berjiwa NKRI. Ia hadir untuk menyatu dan menggerakkan arti Pancasila yang menjadi bagian berharga bagi raga dan jiwa rakyat Indonesia.

Kajian santri ialah Al-Quran dan Hadis, aturan santri adalah akhlak Nabi dan aktifitas santri adalah mengaji bersama kiyai. Mencitai negeri adalah wujud nyata dari santri bernasionalis. Keislaman, Keilmuan dan Kepesantrenan merupakan tiga unsur yang tak bisa dipisahkan dalam jiwa menjadi santri. Kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas merupakan tujuan santri berintegritas tinggi untuk negeri, kerja nyata jika ia dapat mengaplikasikan sesuai Syariat yang ada, tanpa mengada-ada.

Hari santri untuk santri bagian pemersatu negeri merupakan tujuan utama para tokoh masa kini. Menjadi santri tak semudah membalikan telapak tangan dan gejolak nafsu dalam hati, ia butuh pengorbanan. Pengorbanan yang ditempuh dengan kesabaran. Pelajaran santri ditopang dalam bersabar dalam menggerakkan roda kehidupan. Perjalanan santri merupakan perjalanan yang haqiqi, teraplikasi, terinspirasi dan berjiwa NKRI.

Santri kini tak merasakan sakitnya ditembak mati, namun ia merasakan tangisan negeri yang kerap kali terjangkit penyakit pemecah negeri. Tak jarang negara lain ikut bersimpati, menangisi dan sering kali menertawai. Santri kini tak lagi melihat penjajahan tentara asing yang menginjak harga diri, namun ia melihat pemikiran asing yang perlahan berkeliaran di lini kehidupan tanah ibu Pertiwi. Miris sekali, jika kita tatap lekat-lekat problematika negeri yang tak henti-hentinya menggrogoti tubuh Indonesia yang kita cinta dan sayangi.

Sekali santri tetaplah santri. Santri bukan ia yang ada di pesantren saja, santri juga ia yang ada di luar pesantren, namun hatinya membuka jendela ihsan, Islam dan iman yang kuat melawan westernisasi yang kini melebar dari berbagai penjuru negeri. Santri di pesantren pun bukan santri, jika hatinya tak ada secuil pun ihsan, keimanan dan keislaman. Gelar santri merupakan gelar untuk umat negeri, yang mengerti syariat dan Islam yang bertoleransi

Inspirasi negeri diwujudkan dengan gelar santri yang dimiliki oleh pejuang negeri dan pecinta tanah air Indonesia. Ia terinspirasi akan bentuk pengorbanan untuk mempertahankan kedaulatan NKRI. Ia bersorak syahid atas perjuangan yang dikerahkan. Santri mengamati segala kejadian di dalam negeri, agar ia juga berperan dalam segala perjalanan kenegaraan. Tokoh pejuang yang kerap kali menyumbangkan aspirasi perlu diberi apresiasi. Guna mensyukuri perjuangan Kiyai dan santri saat hak kenegaraan ingin direnggut oleh tentara asing yang tak berperikemanusiaan.

Apresiasi itulah yang kita rasakan hari ini, pemerintah berjiwa santri, ia memandang rekaman sejarah yang tak akan punah hingga titik darah bercucuran di tanah. Hari Santri Nasional, begitulah yang kita kenal sekarang. Hari Santri Nasional Wujud nyata dari tujuan bangsa mensyukuri kemerdekaan dan arti perjuangan.

Hari Santri Nasional adalah doa para pejuang untuk semua santri Indonesia di masa depan. Jangan sia-siakan momen Hari Santri Nasional 22 Oktober, tanggal itu bersejerah untuk tetap diabadikan dalam sejarah santri di zaman sekarang untuk masa depan negara yang tetap mengharapkan kemajuan.

Terimakasih santri, engkau abdi para tokoh negeri, hadirmu penyejuk hati, kiprahmu diharapkan untuk burung garuda agar kembali mengepakkan sayapnya dan terbang menuju masa depan negara nan cemerlang. Jangan permalukan pejuang. Salam Santri untuk Negeri.

Hari Santri Nasional

Senin 22 Oktober 2018

MARON AL-HAFDZOH