Ustadz Khalil Berharap Santri Menjadi Generasi Ulul Albab

By: Syaiful Hukama Ira | 12 November 2018 | 119
Ustadz Khalil saat penutupan acara Become OSIS MA
Ustadz Khalil saat penutupan acara Become OSIS MA

ULUL ALBAB di dalam al-Quran dijelaskan sebagai orang-orang yang menyeimbangkan dua dimensi kecerdasan. Yaitu kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual. Dalam hal ini Allah menjelaskanya sebagai “alladziina yadzkurunallaah qiyaaman wa qu’uudan wa ‘alaa junuubihim” ,  yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring. Kemudian dilanjutkan “wayatafakkaruun fi khalqis samaawaati wal ardh” dan mereka yang merenungkan penciptaan langit dan bumi.

Demikian Ustadz H. Moh. Khalil Asy’ari, Ketua Umum Pengurus LPI Darul Ulum PP Banyuanyar, menyampaikan sambutannya pada Penutupan The Big Competition yang diseleggarakan oleh OSIS MA Darul Ulum Banyuanyar, Senin malam (12/11/2018).

Ustadz Khalil menyampaikan Ulul Albab adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan spritual dan intelektual. Mereka mengingat Allah pada setiap waktu, dan yang merenukan penciptaan langit dan bumi. Dalam hal ini beliau sangat berharap siswa yang hadir dapat menjadi generasi Ulul Albab tersebut.  

“Atas nama pengurus, saya punya harapan besar kepada generasi-generasi yang saat ini mengenyam pendidikan, mulai di tingkat bawah sampai tingkat atas, untuk menjadi generasi Ulul Albab. Karena siapa lagi yang akan meneruskan, kalau bukan generasi sekarang, seperti kalian semua ini,” jelasnya pada acara yang bertempat di halaman madrasah itu.

Menurutnya untuk menjadi Ulul Albab adalah bagaimana para generasi terus membaca banyak hal. Termasuk membaca alam semesta yang ada di sekitar. Ini guna menjawab ayat yang pertama kali turun iqra', bacalah!.

Berkenaan dengan kompetisi yang digelar, Ustadz Khalil mengemukakan bahwa kompetisi sejatinya hanya rangsangan. Kalau ada yang hanya bertujuan untuk menjadi juara menurutnya itu merupakan kesalahan besar. Karena jika hanya ingin menjadi juara, setalah lomba selesai, dan tidak berarti apa-apa.

“Kalau tujuan (mengikuti lomba) hanya ingin menjadi juara itu salah besar. Karena itu setelah menjadi juara akan selesai juga,” jelasnya.

Ustadz Khalil kemudian menjelaskan tujuan yang sejati dari sebuah kompetisi, yaitu mengamalkan ilmu untuk kebaikan, untuk mengabdi kepada Allah dan bermanfaat bagi sesama.

“Tujuan utamanya adalah mengamalkan ilmu untuk mengabdi kepada Allah dan bermanfat bagi sesama. Jangan hanya bertujuan untuk menjadi juara,” lanjutnya.

Beliau juga menyampaikan bagaimana semuanya senantiasa bergerak untuk kemajuan bersama. Bersama, kata Ustadz Khalil, bukan harus sama. Tapi justru indahnya kebersamaan bisa terwujud dalam perbedaan. Sesuai dengan semobayan Negara Republik Indonesia; Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu jua. Beliau kemudian membandingnya dengan tabuhan rebana.

“Kita tahu tabuhan rebana itu bisa inda didengar, karena berbeda-beda. Bagaimana kalau tabuhan sama? Pasti tidak akan enak didengar. Jadi keindahan terwujud karena perbedaan,” pungkasnya.

The Big Competition yang diseleggarakan oleh OSIS MA Darul Ulum Banyuanyar digelar sejak akhir September lalu. Ajang ini disingkat menjadi Become. Kegiatan ini rutin digelar dengan memperlombakan beberapa cabang kompetisi. Tahun ini terdiri dari 3 cabang bidang yaitu akademik, olahraga, dan keasrian. Bidang akademik bernama Madu Award, bidang olahraga bernama HSC, dan bidang keasrian namanya M-Free.

(asd)