Toleransi Dalam Beragama

By: Naufal El Fany | 16 November 2022 | 117
Ilustrasi by @elfanynaufal
Ilustrasi by @elfanynaufal

Kata “toleransi” pasti tidak asing lagi karena negara Indonesia, merupakan negara yang toleran. Mengapa negara Indonesia, dikatakan negara tolera? Karena dalam negara Indonesia terdapat banyak perbedaan-perbedaan, bukan cuma perbedaan dari segi rasnya saja, akan tetapi perbedaan keyakinan juga. Walaupun mereka berbeda mereka tetap satu tujuan yaitu ingin memajukan negara Indonesia.

Bukan cuma di Indonesia, dalam Islam pun kita diajarkan tentang toleransi bahkan Allah lebih suka agama yang toleran. Rasulullah mencontohkan bahwasanya perbedaan keyakinan bukan harus menjadi benteng untuk tidak bersilaturahmi kepada tetangga, Rasulullah menganjurkan untuk menyambung silaturahmi kepada tetangga, di sana tidak dijelaskan bahwasanya kita harus menjalin silaturahmi dengan tetangga yang muslim saja, dan tidak boleh kalau dengan non muslim. Rasulullah tidak berkata demikian. Rasulullah hanya menganjurkan untuk menyambung silaturahmi dengan tetangga.

Toleransi secara etimologi disebutkan dalam KBBI yaitu sesuatu yang bersifat atau bersikap menghargai, membiarkan, membolehkan pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Sedangkan dalam khazanah pemikiran Islam, kata toleransi biasa disebut dengan terma tasâmuh. Kata tasāmuh menurut Ibnu Faris berasal dari kata samaha yang artinya suhūlah yaitu mudah. Menurut Fairuz Abadi kata tersebut berasal dari kata samuha berarti jāda yaitu bermurah hati dan karuma yaitu mulia. Sedangkan menurut Ibnu Mandzur kata simāh dan samāhatun berarti al-jūd yaitu murah hati.

Toleransi adalah hubungan sesama manusia dengan manusia hidup berdampingan secara rukun dan menerima perbedaan lain dalam setiap kelompok. Hidup rukun berarti saling berlapang dada satu sama lain. Menghormati, menghargai, saling menerima seperti apa adanya sebeda apapun keyakinan dan karakter masing-masing manusia.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa, toteransi adalah hidup berdampingan saling berinteraksi tanpa memperdulikan adanya perbedaan dalam lingkungan tersebut bahkan Allah lebih suka kepada agama yang toleran  

Dalam Islam toleransi mengarah kepada sikap terbuka dan mau mengakui adanya berbagai macam perbedaan. Landasan dasar pemikiran ini firman Allah dalam Alquran surat Al-Hujarat 13 yang artinya. “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadi kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal”.

Sikap toleransi juga dicontohkan oleh Rasulullah SAW, bagaimana beliau mengajarkan kepada umatnya tentang sebuah sikap toleransi. Banyak hadits yang menceritakan tentang kunjungan Nabi Muhammad SAW kepada orang Yahudi ketika ia sakit, bersedekah nabi kepada tetangganya yang kafir bahkan bersedianya nabi untuk makan di rumah orang kafir dan masih banyak lagi lainnya yang mengungkapkan bagaimana seorang Rasulullah mengajarkan sikap toleransi.

Meskipun Islam menjunjung tinggi toleransi, penghargaan yang diberikan Islam hanya sebatas urusan muamalah atau hubungan sesama manusia. Toleransi Islam tidak sampai ke batas akidah dan keimanan yang dianut umat agama lain. Artinya, selama itu tidak mengotori atau mencemari kemurnian keyakinan terhadap Allah SWT, pintu toleransi dibuka seluas-luasnya. Batasan Allah SWT, berfirman dalam surah Al-Kafirun yang menyatakan لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku,” (QS. Al-Kafirun [109]: 6). Ayat tersebut menjelaskan bahwa toleransi tidak diizinkan jika menyangkut ritual peribadatan umat lain. Islam menghargai agama-agama lain, namun toleransi itu jangan sampai menjadikan umat Islam ikut beribadah seperti orang-orang non-muslim.

Manusia merupakan makhluk sosial, di mana manusia memiliki ketergantungan dengan manusia lainnya. Hajat seorang manusia ialah memiliki agama yang bersifat kodrati, sebab dengan adanya agama inilah manusia menjadi makhluk yang berbeda dengan makhluk lainnya. Agama menjadi suatu komponen penting dalam tatanan kehidupan sosialis yang tidak dapat dipisahkan, karena secara definisi agama berarti seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya atau hubungan manusia dengan manusia lainnya. Agama menjadi sebagai integrator sosial yang mempunyai fungsi sebagai perekat antar umat manusia terhadap sesama, sebagai bentuk atas rasa kemanusiaan, berdasarkan atas dasar kepentingan bersama sehingga melahirkan ketenteraman, rasa damai, nyaman antara satu dengan yang lainnya.

Pemahaman tentang agama juga tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai kebudayaan, di mana manusia hidup berdasarkan budaya dan tak ada manusia yang dalam tatanan kehidupannya tanpa hadirnya budaya. Kebudayaan inilah yang sebenarnya berpangkal pada agama, sehingga segala pergerakan, diarahkan dan dikendalikan oleh agama. Bukan malah sebaliknya, dimana agama yang dikendalikan oleh budaya. dapat disimpulkan bahwasanya dengan adanya agama hidup masyarakat lebih terarah dimana masyarakat hidup dengan aturan sesuai agama yang mereka yakini bukan mengikiti Budaya kebarat baratan.

Dan juga dijelaskan dalam hadis tentang toleransi dan pengakuan Allah SWT bahwasanya Allah menyukai agama yang toleran diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas berikut: عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَدْيَانِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ “Dari Ibnu Abbas, ia berkata: ‘Ditanyakan kepada Rasulullah SAW, ‘Agama manakah yang paling dicintai oleh Allah?’, maka beliau bersabda: ‘Al-hanifiyyah as-samhah atau agama yang lurus lagi toleran [maksudnya agama Islam],” (HR. Ahmad).

Toleransi Islam tidak mengukur pada kualitas Individunya saja atau pada tampilan eksternalnya saja entah itu dari fisiknya ataupun dari seberapa kaya nya orang tersebut akan tetapi yang paling penting dalam islam adalam keiman dan ketakwaan kepada Allah dan Rasulnya : حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ أَبِي هِلَالٍ، عَنْ بَكْرٍ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ: “انْظُرْ، فَإِنَّكَ لَسْتَ بِخَيْرٍ مِنْ أَحْمَرَ وَلَا أَسْوَدَ إِلَّا أَنْ تَفْضُلَهُ بِتَقْوَى “Telah menceritakan kepada kami Waki, dari Abu Hilal, dari Bakar, dari Abu Zar [Al-Ghifari] yang mengatakan bahwa sesungguhnya Nabi SAW pernah bersabda kepadanya: ‘Perhatikanlah, sesungguhnya kebaikanmu bukan karena kamu dari kulit merah dan tidak pula dari kulit hitam, melainkan kamu beroleh keutamaan karena takwa kepada Allah SWT,” (H.R. Ahmad).

Jadi disini sudah jelas bahwasanya orang itu dinilai bukan karna anaknya siapa,bukan karena kepintarannya,atau parasnya saja melainkan orang tersebut dinilai dari ketakwaan dan keimanannya.

Dapat disimpulkan bahwasanya islam merupakan agama yang toleran kepada agama selain Islam, (non muslim) bahkan diceritakan dalam hadis bagaimana sikap Rasulullah terhadap non muslim, Rasulullah berkunjung kerumah non muslim, beliau menyuapi non muslim, bahkan beliau makan dirumah orang kafir Quraisy. Sudah jelas bukan bahwasanya Islam ini merupakan agama yang sangat bertoleran salah besar kalau ada orang yang bilang islam agama yang teroris, yang fanatik kepada sebuah perbedaan,orang yang mengatakan seperti itu berarti orang tersebut tidak mengenal Islam.

Juga dijelaskan dalam hadis bahwasanya Allah lebih suka pada agama yang toleran,y akni agama islam, di negara Indonesia negara yang toleran, buktinya didalamnya banyak perbedaan-perbedaan akan tetapi tidak dipermasalahkan sama mereka.

ASWIROH (Mahasiswi STAI Darul Ulum Banyuanyar, Program Menejemen Pendidikan Islam)