Terima Kasih Jombang

By: Mukmin Faishal | 09 Maret 2020 | 224
JOmbang
JOmbang

Terima kasih Jombang !

Oleh: Rasul Firdaus

Merupakan anugerah tuhan yang semestinya kita syukuri adalah perbedaan, Tanpa perbedaan mungkin di antara Bidadari dan Wildan tiada lagi yang harus di sempurnakan. Begitupun perihal pindah, dulu sang idola umat islam pernah merealisasikannya, dan betul! akan lebih nyaman nan indah pas semuanya telah pindah. Pagi indah akan terkalahkan oleh senja di ufuk barat sebab mentari telah pindah, keindahan senja akan pudar pas senyum manis bintang telah tertayangkan. Kita tak akan tau lagi bila perbedaan dan perpindahan di bumi ini tak lagi menjadi Sunnatulah, seberapa ribu orang-kah yang hanya akan bisa menikmatinya. Dan sekarang kita mulai tersenyum sebab hal itu masih bisa kita nikmati entah kemana kita ingin mengoperasikannnya, namun terkadang pindah diri tak jua mampu memindahkan hati, seperti semua yang telah aku jalani hari ini.

***

Karomi Syaputra begitulah nama asliku dengan sapaan Romi asli darah Madura yang hari ini tinggal di kota Jombang setelah dua hari lalu diutus sebagai Reporter of SCTV Channel sepecial di kota ini. Hidup di kota orang lain bukanlah suatu masalah bagiku, justru hal itu yang menyenangkan setelah treveling menjadi kewajiban untukku, ”Sebab seorang penulis harus berani boros jalan-jalan “ Begitulah tutur Bunda Sinta Yudisia. Malam ini, kulihat hanya satu bintang mewarna sebab kabut hitam masih saja membungkus erat langit malam menghapus senyum manis yang biasa menggelantung diatas sana, aku tau dingin malam ini tak sedang ceria bak rasa yang tengah menguburku bersama seorang yang sempat menjadi pelangi harianku. Teramat bohong jika aku tak merindukannya malam ini setelah sekian lama aku memutuskan untuk menjauh dari kehidupannya meski sepotong hatinya masih dia titipkan buatku, beda denganku yang tak sedikitpun meneteskan hati yang masih bermukim di sana. Tapi bukannya aku tak lagi sayang, begitupun dia, hanya saja orang terdekatnya telah menjatuhkan pelukannya kepada orang lain. Ya.. dia Fila (Syafila Putri) wanita yang setiap paginya memastikanku bahwa dia masih ada di bumi, teman kelas yang sering menikmati hangatku saat dipeluk, begitupun air matanya yang selalu di labuhkan pada kiri pundakku. Empat tahun lebih aku berpisah degannya dan tak lagi ada tukar kabar juga keadaaan. Sehingga merupakan kebiasaanku saat-saat momen-momen rindu ini datang gelisahiku adalah tidur, ya.. tiada lagi cara agar angan-angan itu punah, aku harus segera terbang pada dunia mimpi seperti malam ini aku harus segera kesana menikmati indahnya alam bawah sadar.

***

Pagi cerah, aku segera terjun kelapangan menjalani tugas seorang reporter dan hari ini merupakan kali pertamanya aku kerja. Di rumah kos aku belum mengelola makanan sendiri, otomatis aku harus  cari warung sebelum benar-benar sampai pada tujuan. Suasana jalan jombang terasa sangat romantis tak pernah sepi oleh pengunjung, begitupun beraneka ragam depot, warung, dan restorant yang bertaburan di kota ini hingga pagi ini aku memilih depots biasa saja.

Usai memarkir motor tanpa sengaja tatapanku bertemu dompet cewek tepat dibawah aku berhenti, menunduk segera aku mengambilnya dan melihat semua isi dompet itu, lebih dua juta aku menghitung serabutan beserta ATM dan beberapa ID card lainnya, tapi yang jelas tidak mungkin aku harus mencari si pemilik hari ini. Aku segera masuk dan meresapi makanan khas Jombang itu dan rasanya sama saja dengan masakan orang Madura lebih tepatnya masakan kakak dirumah, secepatnya aku melahapnya dan bergegas menuju kasir,

“Hai.! Kamu… Panggilku pada wanita yang baru saja mau meninggalkan kasir yang sebelumnya sempat aku tatap dia dalam rasa kebingungan, tampak cemas dimerah wajahnya.

“Aku.???” Jawabnya memastikan dengan raut wajahnya yang masih jelas sendu.

“Iya kamu!  Asti Nirmala Sari kan ?” dia hanya mengangguk terlihat keheranan besar di wajah sendunya mengapa aku bisa langsung tau namanya.

“Iya aku tau namamu, juga alamatmu, begitupun ulang tahunmu dari ini” jawabku sedikit luas sambil mengeluarkan dompet cewek dari saku belakang, wanita itu terkejut dan sangat terkejut atas dompetnya yang sudah bisa dia lihat dari sebelumnya yang memang hilang tanpa diduga. Wanita itu banyak berterima kasih padaku, sebab aku telah mengembalikannya dengan keadaan sangat utuh.

Kita meleset keluar berdua, tak sedikitpun ada kata sunyi diantara kita sebab wanita itu tiada hentinya bertanya special about me, mulai dari identitas dan pengalaman hidupku di Jombang, minta semua dari akun Medsosku WA, IG, FB dan yang lain sebagainya. Dia minta, sore ini akan mengajakku sekedar keliling kota jombang hanya sebatas bentuk terimakasihnya, kebetulah aku masih dikatagorokan orang baru disini, rasanya ini juga sangat penting bagiku kedepannya.

Setelah aku benar-benar menyelesaikan pekerjaanku hari ini, bergegas aku memilih kembali ke rumah kos sebab sore ini dia akan segera menjemputku kesana dan… Grrrrrrtt, ponselku bergetar, dan benar, tidak lain dan tidak bukan adalah Asti, ternyata dia telah mendahuluiku sampai di kos-an, aku hanya mengabarinya bahwa aku segera sampai juga kesana.

***

Jam telah menunjukkan jam 5 sore, sepatutnya jika mentari telah membakar cakrawala menciptakan bayangan-bayangan besar di kota ini menguning, begitulah aku menikmatinya dari dalam mobil Asti, tak banyak kata yang kubicarakan pada dia, namun bukan berarti kita diselimuti kesuniyaan dan keheningan dalam ruangan mobil itu sebab banyak hal yang Asti ceritakan padaku khususnya tentang kota Jombang,

“Jadi tidak heran lagi jikalau Kota ini punya slogan JOMBANG BERIMAN sebab teramat banyak tokoh-tokoh islam yang menjalani kehidupannya di kota ini, salah satunya yang paling terkenal adalah GUSDUR, makam beliau deket dari sini kok, bahkan banyak masyarakat Indonesia yang menyebutnya Jombang itu kota Santri” cerita Asti seiring dia mengemudi mobilnya, aku hanya bisa mengangguk pada wanita yang bisa kusebut sangat familiar, dia memang asyik, aku senang cara dia bergaul, dan satu hal lagi yang paling aku sukai darinya, dia juga suka selfie, suka mengabadikan moment-moment yang menurut orang lain gak penting, tapi menurutnya jauh lebih penting dari apa yang mereka bilang penting. Ya, seperti tadi dia langsung  save moment di dalam mobil sebelum kita benar-benar berangkat, senyam-senyum di depan kamera special whit me. Dan hal itu sukses membuatku teringat pada seseorang yang karakternya cukup sama dengan Asti, ya… dia Fila, aku sekarang terbawa melamunkan dia kembali, mungkin sebab teramat banyaknya moment-moment nyaman kita yang juga terabadikan dimana-mana, tapi tidak! Aku tak boleh mengekori apa yang tengah kuangani, seharusnya aku berusaha melupakannya, dia buka siapa-siapa aku lagi dan sekarang aku bersama Asti bukan Fila, meskipun Asti adalah orang baru dikehidupanku, setidaknya aku bisa hidup lebih nyaman di kota ini. aku harus berubah, harus cepat move-on membuka lembaran baru tuk memuat kisah yang lebih indah nan abadi di dunia dan dikehidupan berikutnya, teramat menyayangkan jika diri ini terus saja memusatkan jalan hidup bersama bayangannya, “dan mulai sekarang aku harus bersikap seolah Asti special in my life” batinku seraya menatap pada wanita cantik disampingku yang tak jua menghentikan senyumnya, aku yakin hidupku tak kan kemarau lagi bila dia tetap seperti itu.

“kita menikmati sore ini di taman kota saja” bicaranya seraya dia turun yang juga diikuti aku, ingin segera menikmati taman yang terlihat begitu asri, sebelumnya aku tak tau nama taman yang dia pilih sore ini, tapi setelah kuniatkan untuk menanyakan perihal itu, tatapanku sendiri yang menjawabnya setelah tak sengaja melihat title besar berwarna putih tulang TAMAN KEPLAK SARI.

“Setauku dikota Jombang gak ada wisatnya loh” bicaraku usai selfie-selfie sama Asti,

“Emang! Selama aku hidup disini, hanya taman ini yang bisa kuanggap wisata, dan bukan berarti aku gak pernah wisata, tapi lebih tepatnya aku dibilang wisatawan kalau cuma dilingkup dalam negeri, seperti ke jogja, bali, bandung dan yang lainnya” jawabnya sedikit lebar yang kemudian dia meleset memesan minuman, aku sebagai penikmat baru di taman ini masih saja termenung bersama senyum yang tak hentinya terurai. Jika kupikir kembali, hal ini adalah hadiah Tuhan untuk kali pertama yang special di kota ini sebagai sarana agar aku bisa cepat kerasan, hingga tuhan mengirimkan Guider cantik dengan kesenangannya dia menemaniku, semoga saja hal seperti ini tak hanya berlaku di hari ini juga, sebab yang begitu jelas aku dan Asti masih bisa disemogakan dan lebih jelasnya perbedaan aku sama Asti tak serumit perbedaanku dengan Fila.

Aku sudah duduk dimana Asti menyuruhku sebelum dia pergi membeli sesuatu tepat disebelah gedung  berwarna-warni. Menikmati senja di taman ini cukup nyaman meski tak senikmat di tepi pantai, kurasa ini tak jauh beda apalagi banyak pengunjung romantis lainnya, Really! I like this moment.

“Lama ya… Nunggunya?” Sapa Asti seketika duduk bersebelahan dengan minuman yang secepatnya dia kasih ke aku.

“Nggak sama sekali, aku juga baru duduk, baru 5 menit maksudnya, hehe…”

“Hmz… maaf juga ya, jika kamu gak suka minumannya, aku lupa tadi gak nanya, jadi aku samain aja dengan punyaku”

“Kamu tau? Tadi aku kira kamu nebak minuman favorit aku terus kamu berhasil”

“So! Kamu juga penikmat setia jeruk, Sejak kapan.?”

“sejak aku tau di dunia ini ada cewek yang suka jeruk, suka selfie lagi, mungkin dia gak tau perihal aku yang punya karakter yang sama.” Jawabku sambil memandang panorama di taman itu, dan sepertinya pemandangannya cukup membawakanku kata-kata sedikit gombal, hingga akupun tak bisa sunyi dan terus melanjutkan bicaraku,

“Dan kamu tak perlu bertanya lagi perihal siapa cewek yang kumaksud, sebab dia itu kamu”

“Hmz… bisa aja kamu.” Jawab singkat Asti yang sudah terlihat salting.

“Nggak, aku gak bisa, karena bisanya cuma ke kamu.!” Detik ini Asti benar-benar memukul lenganku dan tertawa bersama, terlihatnya kita adalah sepasang kekasih yang telah lama bersama, meskipun sejatinya kita hanyalah dua jomblo yang saling menyamankan hati pada seseorang yang baru kenal, aku begitu setuju jika mereka mengatakan bahwa akan ada indah disetiap pindah, teramat bohong jika aku tak merasakannya sore ini.

***

“Al-Insanu Jadid Wayuhibbul Jadid”. Hati memang suka perihal baru namun akan sulit pula tuk pergi meninggalkan suatu yang sempat membuatnya nyaman. Sekarang, aku sudah merasakannya bersama orang baru dikehidupanku, Asti sudah mulai masuk dan tenggelam disetiap hariku, tidak jarang mengajakku bermain, berlibur berdua, sering menemaninya santai dirumahnya, bahkan diajak dinner bersama keluarganya pun aku sering, meski terkadang pula aku menolaknya, tapi bukan berarti aku tak merespon dan tak mau menghargainya, hanya saja terkadang waktu tak lagi merestui lebih tepatnya berbenturan dengan jam kerja, seperti yang harus kujalani hari ini, aku tengah tak bisa menemani Asti ber-weekend sebab ada hal yang lebih peting kusudahi sesuai dengan jabatanku disini.

Baru saja aku menginjak dua bulan tinggal di kota ini menjalani hari-hari indah dalam banyak moment indah, cerah bak pagi ini kunikmati, hari ini aku harus meliput acara dekat taman pertama kali aku datangi bersama Asti yaitu Taman Keplak Sari tepatnya di gedung Gren red Syariah Hotel Jombang, sesuai dengan waktu yang telah aku setting, jam sepuluh siang aku sudah berada ditempat. Acaranya cukup menertarikkan banyak penonton dari masyarakat sekitar, yang dikemas dengan FESTIVAL GAMBUS JAWA. Sehari penuh aku sibuk ditempat acara sampai jam 4 sore baru saja kelar acaranya, selanjutnya tiada planning lagi kecuali aku harus segera ke rumah kos dan istirahat. Menyelami acara yang tadi, rasanya cukup tuk dibilang melelahkan namun  sebelumnya aku harus menyelesaikan sholat ashar di masjid terdekat pas disebelah baratnya Hotel itu.

Suasana sore telah jelas kurasa, mulai dari gedung-gedung besar yang telah menguning dan berbagai kendaraan yang mulai memesat menandakan teramat banyaknya pegawai yang sudah meninggalkan kantor, pulang dan ingin segera berebah diri menghilangkan rasa penat. Usai menunaikan sholat aku berdiri didekat motor membenarkan arloji tuk kukalungi pada lengan kiriku, namun seketika tubuhku terasa ada yang memeluk erat dan hangat kurasa sampai tak bisa kumelepaskannya.

“Siapa kamu?” tanyaku pada wanita yang tengah menikmati hangat tubuhku, tak sepatah katapun dia berbicara melainkan hanya air matanya yang dapat kurasa, membanjiri jaketku. Heran dan bingung begitulah keadaaan yang tengah menghantuiku, untuk kesekian kalinya aku menanyakan hal yang sama,

“Hei, kamu siapa? Kemana keluargamu, kenapa harus aku?” hanya semakin erat, begitupun tangisnya yang semakin terisak jelas dan mulai bersuara diapit isak tangisnya, “Jangan lagi sebut keluarga, aku benci mereka, aku tak suka, mereka terlalu jahat dan gak peduli sama aku, aku benci!” isaknya terdengar marah dan berhasil kutemui sesuatu darinya, terlebih dari suaranya. Ya, aku masih ingat suara itu, suara yang dulu sempat menjadi awal di bangun dan tidurku. Perlahan dia mulai melepas pelukannya dan benar,

“Fila, sejak kapan kamu ada di kota ini?” Tanyaku begitu antusias

“Sejak aku tau ada seorang reporter baru di kota yang sama” jawabnya santai dan mulai pamerkan senyumnya,

“setelah empat tahun lebih aku tiada kabar, mungkin ku kau anggap sudah menjadi ibu dari beberapa anak, tapi tidak! Pas dihari pernikahanku, lelaki yang sempat kau bilang akan menjadi milikku selamanya pergi ditelan bumi hingga pernikahan kami gagal, dan aku memilih untuk melanjutkan pendidikanku, same with you.” Jelasnya didepanku mampu menghapus seluruh kosa kata yang kumiliki dan hening berkelanjutan untukku,

“Dan kau tak perlu lagi bertanya perihal aku dengan siapa sekarang, sebab didepanku hanya ada kamu seorang, beitupun ribuan hariku sebelumnya yang tak hentinya kau kurindu, dan dihari ini juga rindu itu tak lagi berat setelah aku benar-benar dapat memelukmu lagi” Bersama kesenduannya dia terus lirih mengungkapkan seluruh isi hatinya,

“Namun ada satu hal yang masih sangat kutakutkan sekarang, masihkah kau ada rasa yang sama, atau usai kita berjarak namaku saja kau tak bisa menyebutnya, Romi… ayo jawab! Aku butuh suara hatimu, kamu masih Romi yang dulu kan?”. Dimasing-masig hati aku begitu yakin, pastilah masih sama, rindu yang selama ini saling membara dari kejauhan tuhan baru saja menjawabnya.  Sekarang! Aku kembali membalas pelukannya, memusnahkan rasa pahit panjang diantara kita seraya bersuara,

“Dikelampauan hari, sempat aku berusaha untuk membiarkan hati ini berlabuh bersama hati yang baru, berusaha menyamankan hati pada hati yang lain dan mengusirmu yang setiap detiknya terus saja mengusik, namun tetap saja usahaku terkekang oleh selimut rindu yang setiap detiknya datang bersama angin kemarau, menggambarkan jelas moment-moment indah kita berdua, teramat dalam kita saling menyelam hati, hingga aku kira didetik ini juga hati kita masih dengan perasaan yang sama, dan percayalah bahwa aku masih Romi yang dulu Fil…” dengan begitu jelas aku memastikan tentang hati ini pada sepotong hati yang dari dalamnya tertanam mendalam dan saat ini benar-benar tumbuh mewangi kembali untukku.

***

Perbedaan memang anugerah Tuhan, namun pindah yang akan membawa kata indah tak semuanya akan menjadi indah bersama seorang baru, sebab keindahan dan kenyamanan bersama masa lalu hanya butuh tempat yang berbeda, mungkin saat ini aku juga harus berterima kasih pada Jombang, karenanya aku bisa kembali merasakan pelukan orang yang paling aku sayang. Detik ini, pada senja yang mulai menua aku kembali dihujani kata cinta, tenggelam lagi bersama senyum dan tawanya, lepas dibawa oleh arus manis senyum Fila. Ditaman keplak sari, untuk kali keduanya aku menikmati indah senja disini bersama orang yang aku sayang dan cintai dan merasa menjadi orang paling bahagia diluas hamparan bumi.