Seseorang yang Menaklukkan Mimpinya

By: Ach. Jalaludin | 11 Agustus 2021 | 533
ilustrasi oleh @jhalaal_
ilustrasi oleh @jhalaal_

Lagi-lagi saya bermimpi hal yang lucu. Lucu sekali. Ini sudah ke sekian kalinya. Dalam keadaan sadar saya bertarung melawan lamunan semu yang dibuat dalam mimpi. Kalau digambarkan seolah saya sedang membentak seseorang Dewi Mimpi,

"Anda tidak berhak mengatur saya, ini hanya mimpi! Tidak masuk akal!"

Ya, saya selalu berusaha untuk sadar meski sedang bermimpi. Ini bermula saat masih kecil. Setiap saya dibangunin, ibu saya bercerita bahwa saya sering berbicara nggak jelas, minta sesuatu yang ibu pegang. Kalau ibu bangunin saya sambil memegang senter, maka senter itu saya minta. Pernah juga mengajak ibu jalan entah kemana, membuat ibu meneriaki saya,

"Lal, kamu mau kamana!?"

Saat itulah saya terbangun, kesadaran mengenai yang terjadi barusan mulai datang. Ini sangat memalukan. Kenapa saya tidak bisa mengatur akal saya. Begitu lemahnya hingga dikalahkan oleh mimpi sendiri.

Sedari kecil saya memang orang yang tidurnya pulas sekali. Ibu membangunkan saya susah, bahkan beberapa kali menyerah. Oleh karena itu, saya mesti bisa mengontrol diri saya meski saat tidur. Meski tidak sepenuhnya, minimal saya langsung sadar terhadap apa saja saat baru bangun, atau tau seseorang mau berinteraksi dengan saya saat saya tidur. Itu yang saya usahakan.

Mimpi tadi malam menjadi salah satu contoh bagaimana saya berebut kesadaran dengan mimpi saya.

Dalam mimpi, saya dihadirkan pada sebuah halaman web. Ini mimpi yang tidak lumrah. Saat itu saya mengikuti webinar via zoom. Ini pasti sulit untuk membedakan antara mimpi atau bukan.

Mimpi saya berjalan selayaknya webinar, tidak ada kejadian di luar nalar, bahkan suara pemateri lantang saya dengar. Kebetulan dia teman saya sendiri. Perempuan, namanya Iim.

Dia berbicara tentang ketauhidan. Menjelaskan tugas dan kewajiban manusia serta kekuasaannya atas dirinya sendiri. Dia mengeluhkan,

"Kita sebagai manusia mempunyai sedikit kekuasaan, keinginan kita dibatasi. Kita merasa kasihan melihat orang miskin, ingin mengubahnya kita tidak punya apa-apa."

Mendengar penjelasan Iim, membuat saya mengangkat tangan untuk menginterupsi. Semua peserta webinar melihat saya, pastinya lewat layar komputer masing-masing. Ketika hendak berucap, saya langsung sadar bahwa ini hanya mimpi. Kalau saya berbicara keras, menjelaskan sesuatu, ini dapat membuat saya mengigau di dunia sadar. Maka dari itu saya bersikukuh untuk tidak melakukan hal yang memalukan itu.

Dan saat itulah saya terbangun, memastikan bahwa memang itu hanya mimpi. Di depan saya tidak ada layar komputer sebagaimana dalam mimpi.

 

Saya melanjutkan tidur. Seolah ketika saya memejamkan mata seperti membuka laptop dan langsung tersambung ke acara webinar tadi. Anehnya, semua peserta melihat saya seolah marah, beberapa dari mereka berkata kasar ke saya.

"Kenapa anda tidak melanjutkan penjelasan anda?", "kamu kenapa diam?" Dan keluhan lainnya yang mereka layangkan.

Saya jadi tidak tau harus bagaimana. Tadi saya sudah bangun tidur di antaranya untuk memastikan ini hanyalah mimpi. Tapi mimpiku berusaha merubah kesadaran syaa itu seolah saya sedang melamun dan diam saat ditanya.

Saat terbangun saya juga memastikan kakak saya tidurnya pulas atau tidak. Kalau pulas maka dengan suara tidak terlalu keras tidak akan membuat kakak terbangun. Saya tau mereka akan memarahi saya karena diam saat dipersilakan memberi tanggapan terhadap pemateri.

Saat itulah saya jawab pelan sekali supaya tidak sampai membuat saya mengigau di dunia sadar. Saya jawab begini,

"Memang seperti itu, dalam terminologi teologi, tugas tuhan dan manusia berbeda. Tuhan memberi dan manusia diberi. Tentunya bukan memberi uang secara langsung atau nasi, melainkan tuhan memberi kekuasaan dan jalan untuk mendapatkan uang. Kita adalah wakil-wakil tuhan untuk memakmurkan bumi dan memberikan keadilan bagi yang kurang mampu."

Tak terasa acara webinar yang dirancang Dewi Mimpi ini akan berakhir. Yaitu ketika adzan Subuh berkumandang. Saya bangun dengan keadaan tersenyum dengan yakin bahwa saya pasti tidak mengigau di dunia sadar. Dalam hati saya berucap, apakah ini adalah di antara keutamaan yang tuhan kasih, atau tuhan hendak berdialog dengan saya melewati mimpi.

*

Di dunia lain, dunia mimpi. Satu detik setelah orang itu terbangun, Dewi Mimpi tersenyum bangga. Latar yang tadinya ruangan khusus webinar telah berubah perlahan menjadi taman dengan warna serba putih. Dewi itu berucap:

"Dialah orang yang akan melawan takdir, dia orang yang menaklukkan mimpinya.