Saring Sebelum Sharing

By: Hanif Muslim | 21 September 2020 | 248
artikel oleh Hanif Muslim
artikel oleh Hanif Muslim

Hal yang kurang baik dan sedikit norak dari media sosial (medsos) adalah setiap orang bisa ngepost apapun sesuka perut mereka, sedangkan pada sisi yang lain tidak ada yang bisa memverifikasi dan memfilter informasi yang berserakan, hal yang demikian tentu saja hanya akan memperkeruh informasi yang benar-benar benar. Sekarang permasalahannya berbeda Jika dulu yang dianggap masalah adalah kurangnya informasi, sekarang yang terjadi justru sebaliknya yaitu obesitas info (kebanyakan info). 

Terlebih lagi para pengguna medsos saat ini lebih cenderung pada hal-hal yang kontroversial, saya katakan  pengguna medsos memang bukan para pakar hadits, tapi saya kira sangat penting bagi pengguna medsos untuk  melihat tanggal berita, matan, rawi dan sanad dari setiap informasi yang diterimanya. Saring sebelum sharing ini penting untuk diterapkan dalam etika bermedsos, bukan malah mengumbar setiap informasi yang mampir di akunnya kemudian  langsung post dan share begitu saja tanpa diteliti terlebih dahulu sebelumnya. Kesadaran seperti ini penting, agar para pengguna medsos semakin bijak dalam mengolah segala informasi yang ada.  karena manusia adalah apa yang masuk ke kepalanya, maka jika informasinya baik, akan baik pula manusianya. 


Dan beberapa menu yang menjadi kesukaan mereka di medsos sangat beragam mulai dari politik, ekonomi, etnis dan pemerintahan.  Dari sekian banyak menu ini sepertinya menu agama yang paling memuakkan, karena memang agama yang paling sering dieksploitasi dengan berlindung  dibalik kesucian, dengan kata lain agama menjadi tempat sembunyi paling aman dan nyaman saat ini. 
Lalu bagaimana seharusnya menyikapi semuanya? Yang pertama adalah mengubah mindset kita tentang informasi, bahwa segala informasi yang bertebaran di medsos bisa jadi benar dan mungkin juga salah. Sikap seperti itu akan membantu kita untuk lebih teliti dan kritis dalam melihat informasi yang masuk. Itu cara yang paling sederhana.
Cara yang lebih filososfis adalah kita bisa menjadikan keraguan sebagai jalan yang indah menuju kepastian, artinya saat kita menerima informasi, yang harus dilakukan pertama kali adalah menempatkan informasi tersebut pada posisi ragu. Kemudian kita kupas dan teliti. 


Cara-cara filosofis yang demikian pernah dilakukan oleh dua filsuf yang terkenal mereka adalah Imam Abu hamid Al-Ghazali dan Rene Descartes. Al-Ghazali seperti yang diceritakan di autobiografinya kitab Al-munqid Min Ad dhalal bahwa dia pernah mengalami keraguan yang dahsyat selama dua bulan,  dia ragu terhadap kebenaran semua ilmu yang telah diperolehnya. selama itu keadaannya seperti orang yang sakit. Namun setelah melalui pengembaraan yang panjang (keraguan) pada akhirnya dia menjadi kokoh dengan segala ilmunya dan menjadi hujjah bagi umat Islam. 


Sama halnya dengan yang dialami Rene descartes sebagaimana dikisahkan di autobiografinya Meditation On Firt Filosophy bahwa keraguan telah membuatnya seperti masuk pada pusaran air yang berputar dahsyat dimana dia tidak bisa menyentuh dasar dan permukkaan suatu keadaan yang tak kalah mengerikan dengan yang dialami Al-Ghazali.
Tapi alih-alih menjadikannya skeptisis, dia justru berhasil menjadikan keraguan sebagai metode untuk membersihkan segala keraguan yang ada di benaknya. Satu persatu dia mulai mengecek pengetahuannya yang telah diberikan oleh kebudayaan tradisi dan agama menggunakan keraguan kelak metode tersebut akan dikenal dengan metode apel busuk. Untuk pembahasan kedua tokoh filsuf di atas insya Allah akan dibahas pada waktu dan kesempatan yang lain. 

 

* Hanif muslim