Santri dan Tiga Ilmu Agama

By: Ach. Jalaludin | 17 Agustus 2021 | 412
ilustrasi oleh @jhalaal_
ilustrasi oleh @jhalaal_

Kalau mau dibilang sebel sebenarnya iya, tapi kalau sudah setiap hari dilakukan, aku anggap biasa saja.

Kakiku bergerak lincah mencari sandal sebelah yang masih belum terpasang karena beberapa kali tersenggol kaki santri yang juga sibuk mencari sandal.

Aku merasa lega ketika kedua sandalku terpasang, untung nggak kebawa kaki ribuan santri lainnya.

"Heey!"

Abdul memukul pundakku dari belakang. Aku menoleh sebentar sembari melihat ke depan tampa ekspresi.

"Lu ko' diem aja tadi? Biasanya ngasih argumen."

Kami baru selesai mengikuti bahtsul masail setiap minggu sekali. Tadi aku memang diem, entah kenapa berat untuk ikut ngasih pendapat.

"Entahlah, aku males."

"Karena kitab itu?" Abdul melirik kitab dipangkuanku. Aku tidak menjawab dalam artian membenarkan Abdul.

"Ilmu agama itu ada tiga, pertama al-Qur'an, kedua Hadits dan ketiga adalah jawaban aku tidak tau." Abdul membacakan penggalan kitab yang ada di pangkuanku, "itu kata Imam Malik kan?"

"Ko' tau?" Tanyaku heran, tapi Abdul hanya tertawa kecil.

"Yah.. para ulama dulu memang hati-hati dalam memberikan pendapat terhadap suatu hukum. Kamu baca juga kan hadits Abdullah bin Ja'far? Beliau mengatakan: “orang yang berani berfatwa di antara kamu adalah yang paling berani terhadap neraka."

Untuk beberapa saat aku terdiam sambil merenungi perkataan Abdul. Ada benarnya juga, bahkan Imam Malik dengan tagas menjawab tidak tau kepada orang-orang yang bertanya tentang masalah agama.

Salah seorang murid sahabat bernama al-Barra' berkata: "Aku menemui 120 orang sahabat Rasulullah SAW, setiap kali ditanya mengenai satu persoalan, mereka mengharap kiranya ada orang selain dirinya yang menjawab."

Tapi aku juga penasaran kepada Abdul, sejak kapan dia membaca kitab ini, kalau aku lihat sepertinya penampilannya setiap hari biasa saja.

"Terus kenapa ko' kamu juga ikut diam tadi?" Tanyaku, Abdul tadi mempersoalkan aku karena tidak berargumen saat bahtsul masail, tapi dia sendiri ada di paling belakang.

"Hehe.. entahlah, ketemu di dapur umum ya!"

Aku mengangguk..