Romantisme Ilmu dan Takwa

By: Hanif Muslim | 16 November 2020 | 52
Banyuanyar.net
Banyuanyar.net

Akan keluar manusia dari arah timur dan membaca Al-Qur’an, namun tidak melewati tenggorokan mereka, mereka melesat keluar dari agama bagai anak panah yang melesat dari busurnya. Mereka tidak akan kembali kepadanya sampai anak panah itu kembali ke busurnya (HR. Bukhari)
Kemudian dari kelompok orang ini maksudnya Abdullah bin Dzil khuwaishirah akan muncul  nanti orang-orang yang pandai membaca Al-Qur’an, tapi tidak sampai pada tenggorokannya, bahkan mereka membunuh orang Islam, dan membiarkan para penyembah berhala, mereka keluar dari Islam seperti anak panah yang melesat dari busurnya, seandainya aku masih mendapati mereka akan ku musnahkan mereka seperti musnahnya kaum Ad (HR. Muslim)
Tanpa diperhatikan secara presisi pun sudah jelas konteks sejarah hadits tersebut, terjadi ketika pulang dari ekspedisi fathu mekkah, waktu itu pasukan muslim berhasil mengepung  bani Hawazin, dan  berhasil meraih kemenangan, setelah itu Rasulullah membagikan ghanimah yang berbentuk perak yang disimpan oleh Bilal bin Rabah. Saat pembagian berlangsung datanglah Abdullah bin Dzil khuwaishirah, yang digambarkan memiliki postur tubuh yang kurus dan  memiliki jidat yang berwarna hitam. Di hadapan Rasulullah SAW. dengan Percaya diri (PD) dia melontarkan protes dan  berani berkata, “I’dil ya Muhammad”  bebuat adil lah wahai Muhammad”  seolah-olah dari perkataannya ia benar dan Nabi Muhammad  tidak adil, padahal sudah jelas semua  yang dilakukan oleh Nabi sudah sesuai petunjuk dari Allah.
Dari Abu Said beliau juga menuturkan: Umar bin Khattab ra. berkata wahai Rasulullah idzinkan kepenggal lehernya, Rasulullah saw. menjawab biarkan dia, kelak dia akan memiliki banyak pengikut yang shalat kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan shalat mereka, puasa kalian tidak apa-apanya dibandingkan puasa mereka.
sejarah kemudian menjelasakn tragedi pembunuhan kahlifah keempat Sayyidina Ali ra yang syahid di tangan Abdurrahman bin Muljam At-tamimi, Imamnya kaum Khawarij yang sesuku dengan Abdullah bin Dzil Al-khuwaishirah. Seorang ahli Al-Qur’an yang pernah dipilih untuk mengajar di Mezir di masa pemerintahan Sayyidina Umar bin Khattab karena kepandaiannya di bidang Al-Qur’an.
Namun, kita juga tentu tahu sebelum tragedi memilukan itu terjadi, Rasulullah saw, telah mewartakan kepada Sayyidina Ali ra. suatu saat ia akan syahid dengan cara ditebas kepalanya, dan seburuk-buruk manusia adalah pelakunya.
Bagaimana bisa orang yang  alim dan rajin ibadah yang bahkan kata Rasulullah shalatnya lebih hebat dibandingkan shalatnya  para sahabat sekalipun, puasanya para sahabat tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan puasa mereka, apalagi jika dibandingkan dengan shalat dan ibadah umat hari ini,  tentu saja  bukan levelnya. dimana-mana banyak kita temukan orang-orang yang berbicara kelas tinggi, berpengetahuan luas, tapi sekali lagi pengetahuan tinggal lah sebuah pengetahuan, tanpa ada kesadaran, penerapan dan evaluasi, nilai Islam dan kandungan Al-Qur’an tidak ter-internalisasikan ke dalam kehidupan sehari-hari.
Yang membuat kita geleng-geleng kepala dan mengkerutkan dahi adalah Abdurraham bin Muljam At tamimi, dan juga Abdullah bin Dzil khuwaishirah, selain mereka rajin ibadah, Qiyamul lail, shalatnya apalagi,   dan kapsitas keilmuawanya tidak perlu disangsikan lagi, Abdurrahman bin Muljam hafal Qur’an dan imam dari kaum Khawarij, sampai di sini timbul sebuah anomali  dan pertanyaan bagaimana bisa seorang yang hafal Qur’an tapi seburuk-buruknya manusia? bagaimana bisa seorang yang shalatnya lebih hebat dari pada shalatnya para sahabat nabi berani-beraninya memprotes Nabi?
Maka, jawabannya, adalah karena pembacaan terhadap Al-Qur’an hanya berhenti pada lafadz-lafadznya saja, tanpa meneteskan makna dan dan nilai-nilai yang dikandungnya ke dalam jiwa dan  kehidupan nyata. Atau shalatnya hanya menjadi ritual yang mati dan miskin nilai.
Pada peristiwa pembunuhan Sayyidina Ali ra, kita juga saksikan bagaimana Abdurrahman bin Muljam dengan percaya diri (PD) mengutip ayat QS. Al-Baqarah, yang menunjukkan bahwa hukum apapun harus takluk di bawah hukum Al-Qur’an dia berfikir bahwa tindakanya adalah hukum Al-Qur’an dan sudah paling benar. Ayatnya benar tapi penggunaannya salah, hal seperti ini  juga  sempat disinggung oleh Abu Nuwas dengan perkataannya “biarkan orang-orang pergi ke Masjid dan melakukan shalat, sementara kita mabuk-mabukan saja di sini, lagi pula Al-Qur’an selalu  menyebutkan neraka itu untuk orang yang shalat fawailul lil mushallin bukan untuk para pemabuk”  ini ayatnya benar tapi penggunaanya jelas sangat jauh dari kebenaran.
 Ilmu saja kadang tidak cukup, mesti disertai iman dan ketakwaan kepada Allah swt. ini sangat relevan dengan dauh  kiyai Abdul Hamid baqir Banyuanyar, “menurut beliau, tidak ada kebahagiaan kecuali ilmu yang bermanfaat dan takwa kepada Allah” perkataan beliau sampai saat ini diabadikan dan dijadikan motto di Pesantren Banyuanyar, sebab sering kita temukan orang-orang berilmu tapi, justru malah prilkunya potensial mencelakai diri sendiri dan orang lain. Dengan kata lain ilmunya tidak memberikan kemanfaatan, contoh yang lain, kita bisa saksikan para koruptor yang hobinya makan uang rakyat, tentu mereka semua tahu bahwa perbuatannya dapat menyengsarakan rakyat, lantas kenapa tetap dikerjakannya? Jawabannya karena tidak adanya rasa takwa dalam hatinya. Tanpa rasa takwa, biarpun nantinya seseorang menjadi ilmuwan, dia akan menjadi ilmuwan bajingan. Ilmu bisa saja semakin membuat kita terhijab dari kebenaran. Perlu adanya sentuhan nurani (bertaqarrub illallah) sebagaimana yang pernah Abu Hamid Al-Ghazali contohkan (Baca: Al-Munqid min Ad dhalal)
Berbeda pendapat boleh, atau menyakini suatu golongan tidak masalah ikhtilaf justru hal itu adalah rahmat, karena jika setiap yang berbeda adalah musuh, maka Allah adalah musuh yang jelas dan mesti diperangi, sebab Allah mukhallaftu lil hawadits berbeda dari yang lain. yang tidak boleh adalah jika sampai memberhalakan kebenaran yang kita pegang, atau menyikini pendapatnya sendiri secara membabi buta, sampai melakukan tindakan kekerasan dan menghina pendapat orang lain (bughat).
dan dari para pengikut Abdurrahman bin Muljam inilah awal mula terjadi bunghat berbedaan yang berujung penentangan atau menciderai yang berbeda, atau seperti yang dilakukan pendahulunya Abdullah bin Dzil al khuwaishirah yang berani menentang pendapat Rasulullah saw. keduanya telah melakukan kesalahan yang fatal.
jadi, dari zaman dulu masa Rasulullah saw, kita bisa lihat Abu bakar  perangi Musailamah Al kadzab karena mereka mensabotasi upeti atau pajak yang seharusnya untuk pemerintah,  Sayyidina Ali ra. Perangi Muawiyah karena tidak mau berbaiat kepada pemerintahan yang sah.  Jadi, yang diperangi bukan persoalan Ikhtilafatau perbedaan pendapat, tapi, yang diperangi adalah bughat atau perkara yang tidak sekedar perbedaan saja tapi juga penentangan terhadap pemerintahan yang sah.