Ramadhan: Itikaf atau Stay at Home

By: Faisal Amir | 08 April 2020 | 615
Artikel Oleh: Muhsin Muis
Artikel Oleh: Muhsin Muis

Ramadhan: I’tikaf atau Stay at Home

Oleh: Muhsin Muis

(Dosen dan Penulis Buku-buku Islam)

 

Rajab sudah dilalui, Sya’ban sedang dijalani, Ramadhan sedang menanti. Sementara, Covid-19 masih menghantui. Berharap, semoga sebelum memasuki bulan suci sudah pergi, agar kita, umat Islam, khususnya, bisa tenang dan fokus mendekatkan diri pada Sang Ilahi.

Ramadhan adalah bulan kebanggaan umat Islam. Padanya Al-Qur'an diturunkan. Di dalamnya terdapat malam lailatul qadar. Suatu malam yang nilainya jauh lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu, turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr: 3-5).

Pada bulan Ramadhan, umat Islam di seluruh pelosok dunia diwajibkan berpuasa selama satu bulan, dimulai dari sejak fajar sidik terbit, yang ditandai dengan makan sahur, hingga matahari terbenam, yang ditandai dengan ifthar. Baik yang tua renta apalagi yang muda, yang laki-laki atau yang perempuan, yang hamil dan yang menyusui, semuanya dikenai kewajiban.

Hanya, bagi mereka yang tidak kuasa, mereka diberikan dispensasi boleh meninggalkan, tapi tetap harus menggantinya di luar Ramadhan. Baik itu diganti dengan berpuasa, membayar fidyah, ataupun kedua-duanya, sebanyak jumlah hari yang ditinggalkan. Itulah indahnya ajaran Islam. Memudahkan dan tidak memberatkan, namun tetap tidak boleh terlalaikan. “Kepadamu Allah menghendaki kemudahan, dan kepadamu Allah tidak menghendaki kesukaran”. (QS. Al-Baqarah: 185).

Selain berpuasa, ibadah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan umat Islam pada bulan Ramadhan adalah sholat sunnah tarawih. Bagai sayur tanpa garam. Berpuasa pun demikian. Tidak sempurna kiranya, jika puasa dikerjakan, namun tarawih ditinggalkan.

Konon, Rasulullah SAW. melaksanakan sholat tarawih ini secara berjamaah di masjid bersama para sahabat. Namun, karena beliau khawatir shalat tersebut diwajibkan bagi umat Islam, maka beliau meninggalkanya dan memilih melaksanakannya di rumah sendirian. Para sahabat pun mengikuti langkah beliau. Mereka melaksanakannya di rumah mereka masing-masing.

Pada masa kepemimpinan khalifah Abu Bakar as-Shiddiq, pelaksanaan sholat tarawih masih sama dengan masa Rasulullah saw. masih hidup. Namun, sejak kepemimpinan khalifah Umar bin Khattab, pelaksanaanya berubah. Sayyidina Umar ra. melakukan gebrakan baru, dengan mengumpulkan semua pengikut Rasulullah SAW. dalam satu masjid dan menunjuk satu imam untuk melaksanakan ibadah shalat tarawih secara berjemaah. Maka, sejak saat itulah, shalat tarawih mulai dilaksanakan secara berjamaah.

Umat Islam, pada saat itu, sepekat dengan ide dan tindakan Umar tersebut. Sebab, menurut mereka termasuk Umar bin Khattab kekhawatir Rasulullah SAW. terhadap diwajibkannya sholat tersebut sudah bisa dimengerti dan difahami. Oleh karena itu, sebagian ulama berpendapat, bahwa pada dasarnya sholat tarawih adalah sunnah Rasulullah SAW., tapi dalam pelaksanaannya secara berjama’ah itu sunnah Umar bin Khattab RA.

Jumlah raka’at shalat tarawih berbeda-beda pendapat. Mayoritas sahabat sejak masa Umar bin Khattab dan juga telah disepakati oleh para madzhab yang empat, ada 20 raka’at, selain witir. Sedangkan dengan sholat witir ada 23 raka’at. Sementara, sebagian ulama, seperti Al-Aswad bin Yazid, mengatakan ada 40 raka’at dan witir 7 rakaat. Imam Malik di salah satu pendapatnya mengatakan ada 36 raka’at, selain witir. Bahkan, ada juga sebagian yang berpendapat ada 8 rakaat selain witir.

Namun, ulama berpendapat bahwa jumlah raka’at sholat tarawih yang 8 raka’at tidak bisa disebut sholat tarawih. Sebab, secara gramatika Bahasa Arab, tarawih (تراويح) merupakan shigat muntahal jumu’ (menunjukkan pada makna bilangan dengan jumlah paling banyak) dari kata tarwihatun (ترويحة) yang memiliki arti “pengistirahatan”.

Atas dasar itulah, shalat sunnah disebut sholat tarawih, karena pada setiap selesai melaksanakan 4 rakaat, para jama’ah yang melaksanakan sholat tersebut, biasanya mestinya jika di Indonesia berhenti sejenak untuk beristirahat. Kemudian setelah itu, dilanjutkan kembali. Tentunya, jika hanya terdiri dari 8 rakaat, maka pada sholat tersebut hanya ada 2 kali istirahat. Jika hanya 2 kali istirahat, maka sudah pasti itu tidak bisa disebut dengan banyak, apalagi paling banyak (Allam Syauqi 1434: 48).

Selain shalat  tarawih, beri’tikaf juga salah satu ibadah yang sangat dianjurkan bahkan bisa wajib, jika dinadzarkan pada bulan Ramadhan meskipun di luar Ramadhan juga dibolehkan. Dalam hal ini, Rasulullah SAW. bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Siti Aisyah, beliau berkata, “Rasulullah SAW. senantiasa beri’tikaf pada 10 akhir bulan suci Ramadhan hingga beliau wafat. Kemudian, setelah itu, istri-istri beliau juga senantiasa melaksankan I’tikaf (pada 10 akhir bulan suci tersebut)” (HR. Muttafaq alaih).

I’tikaf, secara etimologi adalah berdiam atau menetap pada sesuatu yang baik ataupun yang buruk. Sedangkan secara terminologi, I’tikaf adalah berada dalam masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah swt. Maka, atas dasar itulah, mayoritas ulama sepakat bahwa salah satu syarat sahnya I’tikaf, baik itu laki-laki ataupun perempuan, harus dilaksanakan di masjid. Tidak boleh di tempat lain.

Hanya saja, bagaimana jika kondisinya seperti saat ini? Saat Covid-19 masih mewabah di sana ini. Apakah kita masih harus beri’tikaf di masjid, sementara keadaan menuntut kita untuk stay at home (diam di rumah)?

Tentu kita harus berhati-hati dalam menyikapi situasi dan kondisi seperti saat ini. Himbauan ulama dan umara’ perlu diperhatikan, agar kita tidak terjerumus pada sesuatu yang konyol. Hemat penulis, jika kita memang berada di kawasan aman, yang potensi penyebarannya sangat rendah bahkan tidak ada, maka boleh saja kita melaksanakan I’tikaf sebagaimana biasanya.

Tetapi, jika kita berada di kawasan sangat tidak aman, yang potensi penyebarannya sangat tinngi, maka memilih stay at home tetap lebih diutamakan dari pada I’tikaf di masjid. Apalagi,  I’tikaf hanya sekedar ibadah sunnah, sementara stay at home dengan tujuan hifdzu an-nafsi (menjaga diri) merupakan sebuah kewajiban dalam syariat.

Atau, jika masih ngotot ingin beri’tikaf, karena kuatir Ramadhan tahun ini adalah yang terakhir, misalkan, kita mungkin bisa mengambil pendapat sebagian ulama, seperti Muhammd bin Umar bin Lubabah, yang membolehkan I’tikaf di setiap tempat. Atau mengikuti pendapat sebagian kecil madzhab syafi’I yang memboleh laki-laki atau perempuan beri’tikaf di masjid rumahnya (tempat yang memang digunakan untuk shalat di rumah). Yang mana, menurut mereka, ibadah sunah dilakukan di rumah itu tetap lebih utama (Az-Zarqani 1411: 275). Dengan demikian, kita bisa dapat dua-duanya. Kita bisa tetap menjalankan I’tikaf, meskipun harus stay at home.