Rakornas PP FKMSB; Peran Santri Masih Kurang Maksimal dalam Upaya Menanggulangi Intoleransi dan Radi

By: Faisal Amir | 22 Agustus 2021 | 287
RAKORNAS FKMSB
RAKORNAS FKMSB

Yogyakarta - Dalam upaya optimalisasi peran santri menanggulangi radikalisme dan intoleransi, Pengurus Pusat Forum Komunikasi Mahasiswa Santri Banyuanyar (FKMSB) 2020-2022 mengadakan stadium general dalam rangka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas), Sabtu (21/08) di Hotel Merapi Merbabu Yogyakarta.

Abdurrahman, Ketua Umum PP FKMSB, malihat banyak intoleransi dan radikalisme yang terjadi akhir-akhir ini dan berharap santri ikut serta dalam menyikapi hal tersebut.

Sebagai kontribusi organisasi alumni pesantren, latar belakang Stadium General mengambil tema Menyikapi radikalisme dan intoleransi, santri bisa apa?, untuk menyikapi maraknya berbagai kejadian intoleransi di Indonesia.

"Santri harus tidak menutup diri terhadap persoalan intoleransi dan radikalisme, kita harus mengambil peran dan keikutsertaan dalam menanggulanginya" dalam sambutannya.

Usman Efendi Ketua Panitia, menjelaskan bahwa tema Stadium General dalam Rakornas tahun ini adalah untuk mengukuhkan dan mengingatkan kembali kepada FKMSB semua wilayah se nasional dan wilayah istimewa Madinah dan Malaysia tentang urgennya ikut serta menanggulangi intoleransi dan radikalisme.

"Harapannya peserta FKMSB dari semua wilayah bisa mempunyai bekal untuk menanggulangi intoleransi dan radikalisme di wilayah masing-masing" Papar Usman dalamnya sambutannya.

Peran santri dalam upaya menanggulangi radikalisme dan intoleransi dianggap masih kurang maksimal. Seperti yang disampaikan oleh pemateri Aziz Faiz dalam acara Stadium General.

Padahal menurut Faiz, ada karakteristik yang dimiliki santri yang bisa dijadikan alat untuk menanggulanginya seperti sifat Istiqomah dan kajian keislaman yang menjadi titik fokusnya.

Selain itu, Faiz menjelaskan ketidakmaksimalan peran santri dalam menanggulangi intoleransi dan radikalisme disebabkan beberapa faktor diantaranya adalah ruang lingkup santri yang hanya memfokuskan di ranah pedesaan tidak melihat persoalan keislaman di perkotaan.

"Santri masih terlalu asyik dengan budaya sendiri belum masuk ke ruang-ruang perkotaan" jelasnya.

Selain kajian ruang lingkup yang terlalu sempit, Faiz melihat tujuan belajar santri atau pesantren perlu diperbaiki. Sejauh ini tujuan tujuannya hanya untuk kepentingan ritual dan etika sosial.

Seharusnya, menurut Faiz tujuan belajar santri atau pesantren juga harus melihat realitas sosial dan bisa ditarik ke ranah kenegaraan atau nasionalisme.

"Tujuannya lebih diperluas kurang lebih ke tataran sosial seperti kenegaraan, mencetak sosial yang kohesi" Tegas dosen muda UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu.

Selaras dengan pernyataan Faiz, Abd Muhaimin Ketua Forum Persaudaraan Umat Beragama (FPUB), menjelaskan sebagai seorang santri harus memiliki fanatisme sebagai karakteristik dan jati diri.

Menurut Muhaimin, santri harus fanatik terhadap ajaran agama yang dibawa Rasulullah dan selalu teguh pendirian sehingga tercipta pluralitas dalam beragama dan bersosial.

*Reporter: Ach Nurul Luthfi*