Ragam Cita-cita Santri dalam Wawancara Tes Masuk Program BMTeam

By: Ach. Jalaludin | 11 Desember 2021 | 322
ilustrasi oleh jhalal
ilustrasi oleh jhalal

Saya diberikan tugas mewawancarai santri yang berminat belajar bersama BMTeam (09/10). Sebuah kegiatan belajar editing video dan desain grafis. Dilaksanakan di Gedung Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK) Banyuanayar. Bagi saya ini menarik, karena saya memang selalu iseng bertanya banyak hal pada seseorang meski dinilai tidak penting untuk ditanyakan. 

Saya menyebutnya sebagai talk eksperimen, sebuah seni mencari jawaban pada seseorang mengenai apa yang dia rasakan dan ketahui tanpa sepengetahuan dirinya atau narasumber. Saya tidak tau ini ada teorinya atau tidak, tapi saya menyebutnya begitu. 

Dari talk eksperimen ini saya mendapatkan banyak hal, terutama tentang cita-cita dan kondisi mental. 

Cita-cita mereka beragam, dari ingin jadi peternak, tukang bengkel, presiden hingga mau mengalahkan pendiri Microsoft dan Facebook yang sekarang berubah menjadi Meta. 

Bukan tanpa alasan, mereka paling banyak mengamati pekerjaan orang tua mereka sendiri, mengerti, beberapa sudah membantu melakukannya hingga sadar dia yang akan melakukannya suatu saat nanti. 

Bagi yang bercita-cita besar ingin mengalahkan Mark Zuckerberg dan Bill Gates saya hanya hanya bilang begini:

"Ini luar biasa, kebanyakan seiring bertambahnya usia bukan semakin kuat tekad dalam menggapai cita-cita, tapi semakin sedikit dan berkurang karena melihat keadaan diri dan lingkungan hingga memilih menggapai cita-cita yang lebih ringan, apakah kamu akan terus bertahan dengan cita-citamu?" 

"Iya, saya akan berusaha sebagaimana pendiri McDonald yang berusaha ribuan kali hingga dapat menggapai cita-citanya." Rupanya dia tau banyak hal, dia sudah bisa memotivasi dirinya, mungkin sering membaca buku motivasi. 

Mendengar itu saya meminjam perkataan teman saya, "sesuatu yang tidak direncanakan sama saja dengan merencanakan kegagalan, apa yang kamu rencanakan untuk mengalahkan dua tokoh itu?" 

Dia malah tersenyum, melihat kanan-kiri, artinya berusaha mengingat atau mengarang jawaban. 

"Saya baca di buku, jika cita-citamu kau tulis, itu artinya kau sudah 50% untuk mewujudkan cita-citamu. Dan cita-cita saya sudah saya tulis semuanya," jawabnya kemudian. 

Mengenai gangguan mental, datang seorang santri, melihat gejala di wajahnya saya suruh perkenalkan diri lalu bertanya, 

"Sebenarnya, apa yang benar-benar ingin kamu ketahui dalam hidup kamu?" 

Dia cuma diam, tersenyum dan menunduk. Saya tidak tau pandangannya secara psikologis, tetapi saya melihat, harusnya ada seseorang yang mampu menjelaskan secara dewasa mengenai kondisi mental seseorang khususnya remaja saat ini. Hanya sekadar menjadi tempat konsultasi bagi ragam persoalan mental yang tengah terjadi.

Data Riskesdas (riset kesehatan dasar) 2018 menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional  yang ditunjukkan dengan gejala-gejala  depresi  dan  kecemasan  untuk  usia  15  tahun  ke  atas  mencapai  sekitar  6,1%  dari  jumlah  penduduk Indonesia atau setara dengan 11 juta orang. Itu sebanding dengan 1 dari 10 remaja di Indonesia mengalami yang namanya ganguan mental.

Di lingkungan kita banyak orang yang mengalami gangguan mental salah dalam penanganannya. Hingga kerap terjadi orang yang mengalami gangguan mental diperlakukan tidak manusiawi. Dianggap kerasukan jin, dipasung bertahun-tahun, diikat dan dikasih makan dengan gizi seadanya. Beberapa orang masih bergantung ke tukang ruqyah, tapi sudahlah, saya tidak akan membahas tukang ruqyah. 

Di Indonesian tingkat pemasungan orang dengan gangguan jiwa sebesar 14%, pernah pasung seumur hidup dan 31,5%, dipasung 3 bulan terakhir. Selain itu sebesar 91% masyarakat Indonesia yang mengalami gangguan jiwa tidak tertangani dengan baik dan hanya 9% sisanya yang dapat tertangani.

Saya tidak bisa menyebutkan semua data di sini, baca saja di jurnal terbaru. Orang yang bunuh diri akibat gangguan mental banyak, di dunia satu orang dalam 40 detik, di Indonesia ada lima orang dalam sehari. ini menunjukkan bahwa angka kematian akibat bunuh diri saja

Menariknya, saat wawancara dari mereka ada yang sudah menyebut etika atau akhlak dengan kata attitude. Ini sebuah perkembangan kosa kata kekinian, di mana orang lebih suka menyebut sederhana dengan minimalis, tiba-tiba ditinggal dengan ghosting, dapat cemooh dengan toxic. 

Artinya masyarakat kita khususnya remaja saat ini sudah dapat mengklasifikasikan ragam permasalahan sosial menjadi sesuatu yang dapat dipahami.