Pesona Abadi Wanita Shalihah

By: Abdullah Tamami | 19 Februari 2020 | 916
Artikel Pesona Abadi Wanita Shalihah
Artikel Pesona Abadi Wanita Shalihah

Andai dikumpulkan seluruh yang menjadi kesenangan dan kenikmatan di dunia ini, mulai dari makanan, tempat serta segala macam bentuk perhiasan. Maka tidak sedikit pun menyamai kedudukan istri yang shalihah. Begitulah kira-kira hadis riwayat Abdullah Ibn Umar menyebutkan. Sebuah perkataan yang keluar dari lisan mulia seorang yang tidak pernah berdusta serta seorang yang diberikan keceradasan berpikir dan mengamati sepuluh kali lipat manusai biasa.

Tentulah menemukan mutiara tidak semudah apa yang kita bayangkan. Kita harus menyelam, menempuh dasar laut untuk menemukan biji kecil itu. Ya, begitu juga perempuan shalihah, stok yang terbatas serta keberadaan yang begitu berharga pun menjadikanya sulit ditemukan. Hal ini sudah pernah disampaikan oleh Rasulullah 14 abad silam, beliau mengibaratkan bahwa mencari istri shalihah di zaman akhir itu seperti mencari se ekor الغراب الأعصم (al gurab  al asham) yang maknanya burung gagak yang hitam di bagian ketiaknya. Ya, sama-sama sulit untuk mendapatkanya.

Tentang keshalihan, maka naluri siapakah yang tak mendambakan? Tentu juga seorang laki-laki yang paling hina dan bejat pun akan memilih bersama istri yang baik. Pertanyaanya, siapakah istri yang shalihah itu?

Al-Quran sendiri dalam beberapa ayatnya kerap menyinggung tema istri shalihah beserta sebagian perumpamaan. Sebab disadari atau tidak keberadaan seorang wanita pendamping hidup merupakan tonggak utuh dan kokohnya mahligai rumah tangga. Sebagaimana bangunan dalam sebuah sebuah rumah tangga, maka wanita adalah pondasinya, semakin kuat pondasi maka bangunan akan semakin lama bertahan, begitu juga sebaliknya, jika perempuan sebagai pondasi lemah dan rapuh maka selang beberapa waktu akan hancur juga.

Sebagai salah satu contohnya, Allah menggambarkan wanita shalihah dalam surah An-Nisa ayat 34: “...Wanita (istri) shalihah adalah ia yang taat lagi memelihara diri (ketika suami) tidak ada dikarenakan Allah telah menjaga mereka.” Senada dengan ayat ini, Nabi Muhammad SAW pernah menyebutkan kriteria wanita shalihah, ”Maukah kau ku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang laki-laki? Yaitu istri sahlihah yang bila dipandang akan menyenagkan, bila diperintah akan menaati dan bila sang suami pergi ia akan menjaga dirinya.” (HR. Abu daud).

Di lain ayat, al-quran memberikan posisi istimewa seorang istri shalihah, ia sebagai Qurratu Ayun atau penyejuk mata bagi suaminya. Dan ternyata makna Qurratu Ayun yang dimaksudkan bukanlah terletak pada fisik dan parasnya yang cantik jelita, mayoritas Ulama dalam menafsirkan ayat 74 surat Al-Furqon itu tidak demikian. Sebagai salah satu contohnya Ibnu Katsir pernah menukil perkataan sahabat Ikrimah bahwasanya Qurratu Ayun ialah mereka yang senantiasa taat kepada Allah Taala.

Hal inilah yang menjadi daya tarik dan pesona seorang wanita, keindahan yang selamanya tak akan pernah lapuk termakan waktu. Beda dengan paras cantik yang dimiliki seorang perempuan yang kelak akan mengalami masa penuaan.

Lantas bukan serta merta membuang sisi lain yang dimiliki seorang wanita, bahkan Nabi Muhammad SAW pun menyebutkan empat kriteria yang biasanya wanita itu dinikahi, yakni harta, kedudukan, kecantikan dan sisi agama.

Sebab, tentu antara ketiga sisi itu barangkali menjadi daya tarik tersendiri bagi laki-laki sebagai seorang manusia yang diciptakan dengan bekal mencintai dan condong pada kecantikan, harta dan tahta. Sebagaimana misalnya kecantikan seorang wanita menjadi pengantar condongnya hati sebagai sebuah ketenangan dan kesejukan pandangan. Ini fitrah.        

Namun, Nabi Muhammad SAW mengingatkan kita bahwa keberuntungan akan diperoleh seorang laki-laki yang memilih wanita atas dasar agama yang kuat. Seakan akan Nabi Muhammad SAW ingin berpesan bahwa kecantikan, harta dan tahta itu adalah bagian kecil dari kesenangan dunia, yang lambat laun juga akan mengalami yang namanya kebinasaan dan hanya tersisa kesalehan yang kekal abadi. Mafhum muwafaqah-nya, tentu menjadi keberuntungan berlipat ganda jika di samping istri yang kuat agamanya diseimbangi dengan rupa yang cantik jelita.

Mengenai posisi dan peran seorang istri dalam keluarga, maka terus terang ia adalah kunci masa depan dan satu-satunya cerminan dari sebuah peradaban manusia. Keluarga, anak keturunan dan potret sebuah masyarakat merupakan bagian tak terpisahakan dari peran seorang wanita dalam rumah tangga.

Tidaklah baik sebuah kehidupan rumah tangga dengan keturunan anak yang baik pula melainkan terdapat seorang wanita shalihah yang menjadi tonggak pendidikan. Begitu juga dengan cerminan suatu masyarakat, maju dan tidaknya adalah sebuah kelanjutan desain dari pendidikan keluarga. Dan inilah yang menentukan sebuah peradaban manusia. Makanya tak heran, banyak dari tokoh-tokoh besar berpengaruh lahir dari keluarga kecil yang memiliki seorang perempuan kuat lagi shalihah.

Maka tidak berlebihan jika ada perkataan “Ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya, jika kau menyiapkanya, maka niscaya kau telah mencetak masyarakat yang berkualitas.” Berangkat dari kesadaran tersebut, Dr. Khalid Al Hazimi memberikan keterangan dalam kitab ushul at-tarbiyah al-islamiyah bahwasanya memilih pasangan yang buruk di antara suami-istri akan menggiring kehidupan rumah tangga yang diliputi khilafat atau beragam perbedaan yang nantinya akan berpengaruh pada pendidikan anak.

Dan pada intinya selektif dalam memilih seorang istri adalah sebuah perencanaan besar dan proyek kehidupan yang tidak hanya melibatkan kehidupan di dunia, lebih dari itu di akhirat kelak akan tampak jaminanya. Ya rabb, karuniakanlah hamba. (Abdullah Tamami)