Pesantren Sudah Lama Mengenal Literasi | Milad FLP ke-25

By: Ach. Jalaludin | 22 Februari 2022 | 365
Lukman Hakim AG. saat mengisi acara talk show FLP ranting Banyuanyar
Lukman Hakim AG. saat mengisi acara talk show FLP ranting Banyuanyar

Banyuanyar (22/02), dalam rangka memperingati Hari Lahir Forum Lingkar Pena (FLP) yang ke-25, FLP Ranting Banyuanyar mengadakan acara Talk Show sekaligus puncak acara dari seremonial acara sebelumnya yang dimulai sejak 20 Januari 2022.

Acara dikemas dengan Talk Show yang diletakkan di Aula Al-Istbatiyah lantai tiga. Hadir Luman Hakim AG sebagai pemateri dan Moh. Ali Wafa sebagai hostnya. Acara tersebut mengangkat tema tantangan atau nasib literasi di era digital terutama dalam mengahadapi era 5.0.

Menurut Lukman, berbicara literasi bagi seorang santri seperti mengarungi lautan dari saking luasnya. Santri setiap harinya sudah banyak melakukan aktivitas literasi tanpa kita sadari. Seperti halnya mengaji kitab kuning, Al-Qur'an serta buku pelajaran lainnya.

"Literasi hanyalah lambang, sebutan. Sedangkan santri sebelum lambang itu ada sudah menjalankan aktivitas literasi itu." Jelas Lukman yang saat ini tengah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Madura.

Lukman menambahkan, literasi seperti baca, tulis dan diskusi sudah merupakan kebiasaan santri sejak dulu. Bahkan tegas Lukman, sebelum negara ini menggalakkan program masyarakat supaya tidak buta aksara (tidak bisa baca) pesantren sudah lebih awal mengajari masyarakat membaca.

"Hanya saja, masyarakat kita dulu itu yang dipelajari adalah bahasa Arab, jadi banyak kakek-kakek kita dan orang tua itu kalau disuruh ngaji bisa, tapi suruh baca latin tidak bisa."

Hal itu dapat dimaklumi karena dulu bahasa daerah khususnya Jawa-Madura lebih banyak menggunakan bahasa Arab dibandingkan bahasa Indonesia seperti saat ini. Oleh karena itu aktivitas literasi di pesantren yang sudah dibudayakan sejak dulu harus terus ditingkatkan. (Jalal)