Penjual Minyak yang Mendapatkan Salam dari Rasulullah SAW.

By: Ach. Jalaludin | 29 Juli 2021 | 518
ilustrasi oleh @jhalaal_
ilustrasi oleh @jhalaal_

Berkali-kali seorang ulama yang Istiqomah shalat berjamaah bermimpi Rasulullah. Dalam mimpinya, Rasulullah memerintahkan dirinya untuk menyampaikan salam kepada penjual minyak keliling yang sering shalat di masjidnya.

Awalnya ulama itu tak percaya, seorang penjual minyak keliling itu mendapatkan salam langsung dari Rasulullah. Tapi ketika tiga kali mimpi itu terulang, barulah ulama itu percaya. Ternyata benar, ulama itu melihat seorang penjual minyak yang biasa shalat di masjidnya.

"Hai Fulan! Kemarilah!" Panggilnya ketika ia selesai shalat. Orang itu menghampirinya dengan tenang.

"Aku bermimpi Rasulullah. Beliau memberikan salam kepadamu."

Digambarkarkan oleh Kyai sikap laki-laki itu memang tenang, ia tidak mengangkat wajahnya, tetap menunduk diam. Dia juga tidak tertarik dengan ucapan ulama itu, hingga ulama itu bertanya.

"Kalau boleh tau, amalan apa yang kau kerjakan hingga mendapat salam dari Rasulullah?"

Pemuda itu menangis sejadi-jadinya, sudah lama ia simpan kenangan itu supaya tak ada seorang pun yang tau, cukup dia yang menahan beban hatinya.  Kemudian dia bercerita kejadian antara dia dengan istrinya. Itu terjadi ketika dia baru menikah, pada malam pertama si suami mengetahui ada yang aneh pada perut istrinya.

"Istriku, perutmu sedari tadi bergerak, apalah gerangan yang terjadi padamu sebelumnya?"

Istrinya diam agak lama, air matanya perlahan memcah kesunyian seraya berucap, "maaf kakanda.. aku sudah hamil."

Laki-laki itu tenang. Ia sama sekali tidak terkejut, benci, sedih ataupun marah. Karena takdir apapun sudah ditulis jauh hari sebelumnya. Takdir datang dengan sebab akibat yang pantas untuk diterima. Dia tetap dalam pikiran jernihnya, tak ada keinginan untuk memarahi istrinya atau bahkan menceraikannya, laki-laki itu hanya bertanya,

"Sudah berapa bulankah adinda?"

"Enam bulan." Jawab istrinya yang sudah siap dengan konsekuensi yang akan ia diterima. Tapi laki-laki itu memang sebagaimana yang Kyai Muhammad Syamsul Arifin ceritakan, mengagumkan sekali akhlaknya. Dia malah berucap,

"Kalau begitu, kuminta padamu sebagai seorang suami, jangan pernah kau keluar rumah hingga anak ini lahir dari perutmu."

Anak itu lahir dari perut istrinya tanpa seorang pun tau. Hingga suatu hari suaminya membawa bayi itu sambil menjual minyak dan berusaha untuk tidak ada orang yang tau. Tepat hari Jum'at, semua orang naik ke masjid untuk shalat berjamaah. Saat itulah laki-laki itu meletakkan anaknya di anak tangga tempat orang biasa turun dari masjid, lalu ia ikut shalat bersama mereka.

Selesai shalat, jamaah digemparkan oleh penemuan bayi. Salah satu jamaah memberi tau imam masjid. Mereka mendiskusikan perihal bayi itu, dan memutuskan untuk diberikan kepada penjual minyak keliling karena sudah berbulan-bulan menikah tapi istrinya belum mengandung.

Orang-orang menganggap itu adalah anak angkatnya, tapi tak ada yang tau bahwa itu adalah anaknya sendiri. Laki-laki itu berhasil menjaga aib istrinya dan berhasil pula mengasuh anaknya. Dia menyelamatkan masa depan anak dan istrinya dengan sikap yang mulia sekali.

Kisah ini sering disampaikan (alm) pengasuh KH. Muhammad Syamsul Arifin di masjid Banyuanyar ketika akad nikah dilaksanakan di sana.