Pekerjaan Buruk, Buruk Pula Prasangkanya

By: Ahmad Imron | 17 Februari 2020 | 621
Pekerjaan Buruk, Buruk Pula Prasangkanya
Pekerjaan Buruk, Buruk Pula Prasangkanya

Di suatu siang. Seorang laki-laki berkulit hitam pulang dari berbelanja. Tas plastik yang dibawanya itu penuh dengan bahan  belanjaan. Dia pergi berbelanja sendiri, karena dia hendak memberikan kejutan terbaik kepada sang istri malam itu. Yang dibelinya banyak, segala jenis bahan yang akan digunakannya untuk memasak. Masakan sesuai resep yang telah dipelajari dari temannya.

Setelah sampai di rumah, lelaki berklit hitam itu membuka pintu. Dan dia langsung menuju dapur. Tas plastik yang berisi belanjaan itu diletakkan dan isinya dikeluarkan satu persatu. Karena dia hendak memasak, semua perlengkapan memasaknya dipersiapkan. Tidak lupa dia juga memakai celemek berwana putih bersih kesukaannya. Dia juga mengambil pisau yang akan digunakannya untuk memotong bahan-bahan yang perlu dipotong.

Setelah semua tertata rapi, semua bahan telah ditempatkan tempat yang sesuai. Dia mulai bekerja. Mulai dari memotong kentang dan mengirisnya. Tampak dia teramat menikmati pekerjaannya itu. Di sela-sela pekerjaannya dia sambil bersiul. Tak lama dari keasyikannya itu, tiba-tiba seekor kucing mendekat. Kucing itu langsung naik ke meja tempat bahan-bahan masakan diletakkan. Karena terkejut, dia kemudian berkehendak untuk menangkap kucing itu. maksudnya adalah agar si kucing mau dipindahkan dari tempat itu. Tapi kucing itu lari. Nahas si kucing juga menabrak mangkok yang berisi saus tomat hingga jatuh. Mangkok Saus tomat itu jatuh ke lantai dan saus tomatnya berhambur ke segala arah. Ke tubuh si kucing, lantai, tembok, bahkan hingga ke baju dan celemek yang dikenakan si lelaki. Dia semakin geram. Dengan segala cara akhirnya kucing itu berhasih ditankap.

Bersamaan dengan itu pintu terbuka dan seseorang masuk. Si istri datang. Betapa terkejutnya ketika melihat apa yang terjadi. Matanya terbelalak, jantungnya seakan copot.

Suaminya berada di dapur, dengan tangan kanan memegang pisau dan tangan kirinya memegang kucing yang tadi ditangkapnya. Kucing itu, baju, celemek yang dikenakan suaminya berlumuran warna merah. Itu darah, dalam benaknya. Juga dalam pikirnya si suami telah menyembelih kucing itu dan berkehendak memasaknya. Jelas itu adalah dugaan yang tepat dari si istri. Dugaan awal yang dimunculkan berdasar bukti-bukti kuat dab tepat sebagaimana dilihatnya.

Apakah si akan istri marah? Kalau berdasar dugaannya itu, tentu iya. Bukan hanya marah, dia juga merasa meringis, menyaksikan suaminya yang telah bertindak sadis : membunuh kucing, lalu memasaknya. Padahal yang sebenarnya tidaklah demikian. Kelak tentunya si istri akan tahu bahwa dugaan awalnya itu tidak benar. Tapi kejadian itu pasti telah membuat jantungnya copot. Oh ternyata….

***

Pesan dari cerita di atas adalah “Jangan cepat menyangka!” Karena sangkaan itu belum tentu kebenarannya. Apalagi sangkaannya adalah kejelekan.

Prasangka itu mungkin memang hanya dugaan sementara. Dugaan awal yang bisa benar atau tidak. Tapi dugaan itu sebenarnya sejalan dengan apa yang sedang dirasa atau dialami oleh yang menduga. Seperti seorang yang baru saja mencicipi mangga yang rasanya teramat kecut. Ketika ditawari mangga lain dia mungkin tidak berminat. Meskipun mangga yang diberikan belakangan itu rasanya manis. Karena dugaannya adalah mangga itu sama rasanya dengan yang sebelumnya, kecut. Karena prasangka itu, sebagaima hati yang menyangka.

Idza sa’a fi’lul mar’i, saat zhunununu. Apabila pekerjaan seseorang itu buruk, maka buruk pula prasangkanya.  Demikian disebutkan oleh Az-Zarnuji mengutip perkataan ulama’. Suasana hati, dominasi perasaan itu adalah prasangkanya. Kalau dia berkelakuan buruk, maka ketika dia menyangka, buruk pula sangkanya. Dan tentu itu berlaku sebaliknya. Yaitu, apabila prilakunya baik, maka prasangkanya juga akan baik.

Sebagaimana disebutkan di dalam hadits Rasulullah shallahu alaihi wa sallam. “Takutlah kalian pada firasat orang beriman,” katan beliau, “Karena sesungguhnya mereka melihat dengan cahaya Allah.” Karena orang beriman itu hatinya bersih. Yang memenuhinya adalah dzikir kepada Allah. Sehingga apa yang dilihatnya, atau disangkanya adalah kebaikan-kebaikan, sehingga tepat adanya.

Abdullah Saiful Mujahidin (Nama Pena)