Nilai-nilai Kemanusiaan dalam Islam

By: Ach. Jalaludin | 25 Agustus 2021 | 312
ilustrasi oleh @jhalaaal_
ilustrasi oleh @jhalaaal_

Ingat pada perkataan Gus Dur, "Kita terlalu sibuk berbicara ketuhanan hingga lupa akan kemanusiaan."

“Kemanusiaan mendahului keber-agamaan”, begitu kata Prof. Quraish Shihab dalam acara Shihab dan Shihab. Beliau memberikan contoh ketika kita hendak berwudhu, lalu ada anjing kehausan, maka kita diutamakan untuk memberikan air itu pada anjing yang kehausan. Tentu bukan berarti ingin membandingkan agama dan kemanusiaan, karena agama diturunkan juga untuk menyempurnakan sifat kemanusiaan (ahklak) dalam kehidupan manusia. Bagaimana saling toleransi, sifat menghargai, saling bantu antar sesama.

Suatu hari Sayyidina Ali hendak shalat subuh. Di tengah perjalanan beliau melihat di depannya orang tua yang jalannya lamban dan rambutnya sudah beruban. Beliau merasa tidak nyaman untuk mendahuluinya, hingga membuatnya lambat untuk shalat berjemaah dengan Rasulullah. 

Sesampainya orang tua itu di depan pintu masjid, kakek itu tidak masuki dan Sayyidina Ali mengira itu mungkin orang Nasrani. Maka beliau masuk masjid dan didapati Rasulullah Saw. sedang dalam keadaan ruku' yang agak lama tidak seperti biasanya, seolah memang sedang menunggu Sayyidina Ali ikut shalat berjemaah. 

Maka usai shalat Sayyidina Ali bertanya, "Wahai Rasulullah, kenapa engkau memanjangkan ruku' saat ini, padahal sebelumnya tidak pernah?"

Rasulullah Saw. menjawab, "Di saat aku ruku' dan hendak mengangkat kepala, tiba-tiba Jibril datang dan meletakkan sayapnya di atas punggungku. Maka ketika Jibril mengangkatnya, barulah aku mengangkat kepalaku. 

Sahabat pun heran dan bertanya, "Mengapa dia (Jibril) melakukan hal itu?" Nabi menjawab, "Aku belum menanyainya (Jibril)."

Lalu datanglah Jibril dan memberi tahu Rasulullah, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ali hendak mengikuti shalat berjemaah. Tetapi di perjalanan ia mendapati seorang tua yang seorang Nasrani dan Ali merasa tidak nyaman mendahuluinya karena ubannya dan menjaga haknya. Maka Allah memerintahku untuk menahan ruku'mu supaya Ali dapat shalat subuh berjamaah."

Lihatlah bagaimana Allah menjaga hak manusia dan rasa kemanusiaan sebagaimana Ali menghormati orang tua meski dia seorang Nasrani. Kalau memang shalat berjemaah lebih utama ketimbang menghormati orang yang meski beda keyakinan, tentu Allah tidak akan menyuruh Jibril menahan ruku' Rasulullah SAW. 

Begitu juga ketika kita kekurangan air dan hanya cukup untuk berwudhu, lalu seorang pengemis meminta air itu, maka air itu lebih baik diberikan kepadanya meski orang itu berbeda keyakinan atau bahkan binatang seperti anjing sekalipun.

Saat tidak ada yang dapat kita makan, tinggal makanan yang diharamkan dalam agama, maka kita boleh memakannya. Saat kita hendak haji, lalu tau tetangga kita kekurangan, maka lebih baik uang haji itu digunakan untuk membantu tetangga. 

Masihkah kita tidak percaya bahwa urusan kemanusiaan oleh Islam selalu didahului dari pada urusan keagamaan, meski kalau kita kaji sebenarnya agama tidak lepas dari itu. Kita yang beragama memang seharusnya menjujung kemanusiaan. Kalaupun kita nanti mati, dan urusan kemanusiaan belum terpenuhi seperti hutang misalnya. Dalam kepercayaan kita, ruh kita itu tidak akan sampai ke langit. Penyebabnya adalah hutanng, bukan karena puasa dan sholat yang belum terganti. 

Pernah suatu hari Rasulullah mendapati segerombolan orang sedang mengangkut jenazah di hadapannya. Nabi pun berdiri untuk menghormati jenazah tersebut. Sahabat yang bersama Rasulullah saat itu heran memberitahukan dengan nada yang seolah memprotes, “Wahai Rasulullah, itu jenazah Yahudi.” Lalu Rasulullah menjawab, “Iya, bukankah dia juga manusia?.”

Hadist senada juga diceritakan dalam riwayat Imam Bukhari dalam konteks ketika sahabat bernama Qois bin Sa’ad dan Sahal bin Hunaif sedang duduk di daerah Qodisiyah. Taba-tiba lewatlah orang-orang sedang membawa jenazah di depannya, dengan seketika mereka berdua berdiri untuk memberikan hormat. Dikatakan keduanya bahwa mereka adalah ahlu dimmah, warga non muslim yang baik. Maka keduanya menceritakan sikap Rasulullah terhadap orang Yahudi itu.

Hadist ini menceritakan betapa agungnya kemanusiaan dalam Islam. Rasulullah mengatakan kapada sahabat dengan kalimat dialektis, “Bukankah dia juga manusia?.” Dengan kalimat seperti itu memberikan pesan dalam kepada para sahabat bahwa manusia layak dihormati tidak berdasarkan pada latar belakang sosial dan agamanya. Semua manusia mempunyai kedudukan sama dan hak yang sama.

Rasulullah juga pernah bersabda, “Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas/biji, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah.” (HR. Bukhari)