Niat dan Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Belajar 

By: Ach. Jalaludin | 19 Juli 2022 | 431
dokumen banyuanyar media team
dokumen banyuanyar media team

Gebyar Idul Adha (GIA) merupakan event perlombaan yang diadakan setiap tahun di bulan Dzulhijjah. Di dalamnya memuat berbagai cabang lomba untuk mengasah bakat dan kemampuan yang dimiliki santri. 

Bertepatan hari Senin, (malam Selasa, 18/07) diadakan penutupan GIA yang dihadiri langsung oleh pengasuh RKH. Hasbullah Muhammad, Lc. Dalam acara tersebut, beliau menjelaskan tentang macam-macam niat dan hal yang harus diperhatikan dalam mencari ilmu. 

Beliau mengingatkan terlebih dahulu bahwa saat itu adalah penutupan lomba, dimana program pesantren dan kegiatan akan aktif seperti sedia kala. Oleh karena itu penting ada niat yang baik dan benar untuk memulai pelajaran. 

“Yang pertama adalah niat untuk mensyukuri akal, kalian wajib bersyukur karena diberikan akal yang normal oleh Allah SWT.” Begitu dauh beliau mengawali tausyiahnya. Bersyukur yang beliau maksud adalah dengan menggunakan akal untuk membiasakan muthalaah, karena bagi beliau, kebanyakan orang sukses bukan karena yang mempunyai IQ lebih besar, melainkan orang yang biasa tetapi rutin dalam mengulang-ulang pelajarannya. 

Beliau ingat pada masa-masa abahnya, dimana ketika santri mengaji ke almarhum RKH. Muhammad Syamsul Arifin, santri saat itu banyak mengulang pelajarannya di kamarnya masing-masing selesainya mengikuti kajian dari beliau. Oleh sebab itulah beliau berpesan untuk tidak menumpuk maklumat (pengetahuan) dengan cara mengamalkan dan mengulang-ulang pelajaran. 

“Pesan saya, jangan menumpuk maklumat (pengetahuan), jangan kalian setelah belajar di sekolah langsung ditinggalkan, minimal dibaca tiga kali. Ada yang lebih baik dengan ikrar-nya (mengulangnya) lebih banyak.” 

Beliau bahkan memberikan gambaran untuk muthalaah setiap pelajaran hingga lima kali, keesokannya jadi empat kali, hari berikutnya tiga kali, hari berikutnya dua kali dan hari berikutnya satu kali, begitupun pelajaran lainnya setiap hari. Sebab itulah beliau tidak menyarankan untuk belajar kebut, yaitu belajar semalam suntuk hanya untuk menghadapi ujian keesokan harinya. 

Niat berikutnya yang dijelaskan beliau adalah untuk menghilangkan kebodohan. Beliau juga menjelaskan bahwa sahabat dulu untuk tau satu hadits saja itu harus menempuh perjalanan selama sebulan. 

“Kalau dulu hanya satu hadits saja tidak tau, ada satu sahabat menempuh perjalanan satu bulan, disiapkan unta, itu berangkat, lalu pulang lagi satu bulan. ‘saya dengar anda satu-satunya yang hafal satu hadits ini, tolong sampaikan pada saya’.” 

Meski begitu, ketika seseorang mempunyai ilmu harus tetap tawadhu layaknya padi, “kemudian terpenting adalah untuk mengamalkan ilmu. Al-ilmu lil amal, ilmu adalah untuk diamalkan , semakin tinggi ilmunya, semakin tawadhu orang itu. Ibarat padi, semakin berisi, semakin berisi, maka jan nunduk (semakin  menunduk).”

Disamping itu kita juga dianjurkan untuk banyak berdo’a, lebih-lebih di waktu malam ketika selesai shalat tahajud. Beliau bercerita saat naik mobil dengan abahnya, RKH. Muhammad Syamsul Arifin berpesan, “been mun adu’a ka Allah areah ting mareh tahajud (tenga malem) areah cek mustajappah (kamu kalau berdo’a kepada Allah itu saat selesai shalat tahajud, itu waktu paling mustajab).”