Nasihat Abah

By: Ach. Jalaludin | 14 September 2021 | 317
ilustrasi oleh @jhalaal_
ilustrasi oleh @jhalaal_

“Kalau Ummi menyuruhku ikut kamu, Ra.”

Namaku Ratu, biasa dipanggil Ra.

“Sebenarnya tidak ada masalah, Bil, hanya saja aku kurang terbiasa jika banyak bergaul dengan peria, ini beda dengan di rumah, Bil.”

Kami saat itu bicara sambil tiduran di kamar, Bila sering menginap di sini sudah seperti saudaraku. Sebelum tidur, kami biasa  berdiskusi tentang pilihan kami yang mau kuliah di luar pesantren.

“Terus?” Bila berkata seadanya, sepetinya sudah ngantuk. Dia membelakangiku di atas tempat tidur.

“Entahlah, Abah memang seperti itu,” aku diam agak lama. “Waktu itu ketika liburan santri, Abah memanggilku bertanya tentang kesanggupanku untuk kuliah, tak ada Umi, cuma aku dan Abah waktu itu. Aku menjawab, insyaallah siap, Bah, do’akan juga. Hal itu membuat Abah diam agak lama setelah itu berkata,

Tadhuluu filssilmi kaaffah…’ katanya pelan sekali. ‘Itu adalah jawaban Rasulullah ketika ada sahabat yang menyatakan keislamannya tapi masih ingin menjalankan agama lain. Rukun Islam ada berapa?’ Abah menatapku,

‘Lima’ jawabku mantap.

‘Rukun iman?’

‘Enam.’

Aku menjawab dengan keheranan. Abah terus bertanya hal yang dasar dalam Islam, hingga ada yang tidak bisa ku jawab,

‘Sunnah wudhu’?’

Aku diam, Bil, entah berapa aku lupa membuat pipiku memerah karena malu, aku hanya senyum pada Abah. Tapi Abah mengajukan pertanyaan lain.

‘Berapa ilmu yang wajib dipelajari?’

‘Tiga.’

‘Apa saja?’

‘Tauhid, fikih dan akhlak.’

‘Dalam tauhid, kita mengikuti Imam?’

‘Abu Hasan al-Asy’ary dan al-Maturidi’

‘Dalam fikih?’

‘Madz’hab arba’ah.’

‘Kalau akhlak?’

Aku tidak menjawab, karena memang sepertinya tidak ada, ikut imam siapa? Sejauh ini sepertinya tak ada. Memang ada kitab-kitab tentang akhlak atau adab, tapi tak disebutkan harus ikut imam siapa.

‘Dulu Aisyah pernah ditanya.’ Abah melihat sembarang arah, ‘ia ditanya perihal akhlak Rasulullah, ia menjawab, kana khulukuhul qur’an, akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an atau bersumber dari al-Qur’an. Ini adalah sempurnanya agama, agamamu terlihat sempurna jika disini benar.’ Abah diam melihatku agak lama ‘Ingat juga, ada perbedaan mendasar antara fikih dan tauhid.’

Sampai disitulah Abah meninggalkanku, Bil, aku masih belum terlalu mengerti maksudnya.”

Bila diam sebentar, aku tidak tau apakah karena mendengar ceritaku atau memang telah tidur, sepertinya aku bercerita lama sekali.

“Aku juga pernah ditanya oleh beliau, setelah ta’lim shobah di mushola.” Bila reflek membalikkan tubuhnya melihatku. Aku melihat Bila penasaran.

“Abah bertanya, ‘apa ummul qur’an?’ aku jawab, suratul fatihah, lalu Abah nanya lagi, ‘apa ummul hadits? Saat itu aku tidak tau, sungguh malu, seperti kamu mungkin, tapi beliau tersenyum sambil berkata.

'yaitu sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Umar ibn Khatthab saat para sahabat berkumpul dengan Rasulullah’.

Entahlah, aku tidak mengerti, Ra.”

Mendengar cerita Bila membuatku berpikir hadist tersebut, mencari teka-teki yang diajukan Abah. Memang begitulah Abah, selalu membuat bagaimana supaya orang tau sendiri. Dan itu baik bagiku, hingga nanti tak hanya ikut-ikutan dalam segala hal.

Bila adalah sepupuku, ibunya saudaraan dengan Abah. Dia sering ke rumah, baru menetap saat SMA, umurnya lebih tua aku sekitar dua bulanan, makanya dia juga bilang Abah pada Abahku.

“Aku tau hadist itu” kataku mantap tak lama kemudian.

“Benarkah, apa?

“Kamu baca hadits yang disusun oleh Imam Nawawi” suruhku sambil tersenyum pada Bila hingga membuat Bila jengkel.

“Kamu ngak jauh beda dengan Abahmu!” ketusnya, membalik badan dan menutupi tubuhnya dengan selimut.

Aku hanya tersenyum...