Nabila Sebelum Pelaminan

By: Ach. Jalaludin | 07 Oktober 2020 | 366
Cerpen : Nabila Sebelum Pelaminan
Cerpen : Nabila Sebelum Pelaminan

Sudah ketiga kalinya aku menolak ajakan suamiku dengan alasan sakit perut, mual dan tidak enak badan. Keseringanku memegang perut bukan disebabkan karena sakit, tapi karena hamil! Ya, aku hamil sudah tiga bulan. Hamil di luar nikah, aku kotor! Tubuhku sudah lebih awal dinikmati sebelum suamiku, oleh lelaki bejat yang sok suci. Ah, aku muak berbicara tentangnya!

Tiga bulan aku terbebani, semangat hidup sudah tak ada lagi. Sering kali mengurung diri di kamar mandi, membiarkan air mata hanyut dengan air ke tempat yang paling kotor. Aku benci diriku saat ini! 

Sering kali aku berpikir untuk mengakhiri hidup, karena itu adalah jalan yang paling tepat pikirku. Tapi aku tidak kuat, aku tidak ingin menderita untuk kedua kalinya. Kalau aku bunuh diri, maka tidak ada tempat untukku yang nyaman, di dunia aku menderita, di akhirat apa lagi. 

Aku sering berharap keajaiban apa yang akan menghampiriku, setiap malam pipi basah penuh harap. Aku malu menyebutnya itu do'a, malu untuk mengotori mukena dengan dosaku, sejadah, bahkan aku malu untuk sholat! Aku kotor, sangat kotor! Tiap malam aku hanya menangis, dan selimut adalah teman paling dekat untuk menenangkan perasaanku. 

Tapi Tuhan memang maha pengasih, tiga puluh hari aku menangis kehilangan semangat hidup dan keputusasaan, hanya bisa berharap pada siapa saja yang bisa mengobati rasa sedihku. Akhirnya keajaiban itu benar-benar datang.  Keajaiban ini terlalu besar bagiku. Suamiku, dialah keajaiban Tuhan yang diberikan padaku. Tapi itu terlalu besar, aku ingin cerai, aku malu, dia terlalu bijak!
***

Aku mengenal suamiku di taman. Saat itu aku sudah mulai pasrah saja dengan keadaanku yang amat menyedihkan. Kehamilanku sudah empat puluh hari, aku memutuskan untuk keluar rumah, mencari udara segar untuk melapangkan dada. Mungkin dengan udara segar malam hari membuat dadaku merasa nyaman. 

Lagi sahdunya aku duduk, sebuah mobil berhenti tepat di depanku. Saat itulah aku merasa tidak nyaman. Kaca pintu mobil depan perlahan terbuka tepat menghadapku. Aku mulai risau, di dalam hanya dua orang, semuanya duduk di depan. Untuk menghilangkan kerisauanku, aku tetap fokus ke arah lain.

"Hey!" Pemuda paling samping menyapaku, aku reflek melihatnya. Sungguh dadaku berdegup kencang, yaitu ketika mereka memberikan kode menyuruhku untuk masuk sambil memainkan alis matanya. 

"Wow! dapet hijabers! haha." Teman di sampingnya yang menyetir tertawa. Sedang aku masih tidak tau apa maksud mereka. 

"Buruan Mbak, masuk!" Panggilnya lagi, tapi aku masih tetap mematung. Keringat dingin mulai membasahi dahi, semua bulu kudukku berdiri, akankah mereka akan keluar dari mobil? Haaah.. aku trauma dengan hal ini, aku baru satu bulan yang lalu digauli orang paling bejat, dan sekarang ada dua orang bejat di depanku yang bersikap kurang ajar. Aku harus bagaimana? Aku takut...

"Oke, aku kasih DP dulu." Ia mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya dan membuka pintu. Oh tidak, dia benar-benar akan menemuiku. Apakah aku akan berteriak minta tolong? Atau aku memasrahkan saja terjun dalam kehidupan seperti ini, mungkin ini sudah takdirku. Yah.. mungkin beginilah jalan hidupku, jadi wanita bodoh dilumuri syahwat para lelaki bejat.

Sekarang aku harus memilih.  

Tapi sebelum itu kulakukan, seorang lelaki bertubuh tinggi mendatangiku dan memotong langkah pemuda yang hendak menemuiku. 

"Lu mau bawa istri gue?" Kata lelaki itu membusung dada. Kedua tangannya terselib dalam celana, penampilan yang gagah dalam situasi seperti ini. Aku tidak habis pikir dia akan menolongku dari rayuan pemuda tadi. Dadaku mulai tenang, tapi pemuda itu masih berdiri di depanku melihati pemuda tersebut masuk ke dalam mobil seraya minta maaf dan pergi.

"Kamu kenapa ada di sini?" Tanyanya ramah.

"Anu, sekedar mau duduk di sini," jawabku masih dengan dada yang belum terkontrol. Pemuda itu tampan sekali meski melihatku datar.

"Lain kali kalau malam jangan duduk sendirian di sini. Di sini biasa tempat mangkal para PSK, jadi wajar jika ada pemuda merayumu. Maaf tadi aku ngaku suami kamu." Dia tersenyum merasa bersalah. 

"Oh.. nggak papa, aku juga makasih padamu, sungguh aku tidak tau kalau di sini ya.." perkataanku terpotong dengan senyuman kebingungan. 

"Iya aku asli kota ini, dan kebetulan aku setiap malam lewat sini untuk mengajar anak-anak di panti asuhan itu." Dia menunjuk bagunan tak jauh dari taman. Aku hanya ber-oh dan membiarkan dia menjauh, meski dalam hati aku berharap padanya. 

To be continued...

 

By. Jha lal