Muhadoroh Dawliyah: Banyuanyar dikunjungi Syaikh Dari Yaman

By: Abd Aziz Wishol | 11 Januari 2020 | 577
Suasana Muhadarah Dauliyah
Suasana Muhadarah Dauliyah

BANYUANYAR. 10/01/2020 Banyuanyar dikunjungi Syaikh Muhammad bin Hasan Al-Auqali Al-Yamani yang datang Dari Yaman dengan memberi Tausiyah.
15 Jumadil Ula 1441 Pada waktu Sholat Maghrib suasana Masjid Jami' Banyuanyar bernuansa beda dari biasanya, karena waktu itu sholat berjamaah diimami Syaikh Muhammad bin Hasan Al-Auqali Al-Yamani dari yaman yang bacaan sholatnya jelas dan bertajwid bagus.
Dilanjutkan dengan adanya acara Muhadarah Ilmiah yang bertema  الدراسة في اصول الدينية وما تحتاج الامة في هذه الساعة  (Pembelajaran dalam asas agama dan apa yang dibutuhkan ummat di masa kini)
Acara yang dipandu langsung oleh Dr. Abdul Muqit, M.Th.I. selaku PK 1 STIBA Banyunyar membacakan susunan acara dan memandunya dengan berbahasa Arab.
Acara pun dimulai dengan pembacaan Surah Al-Fatihah yang dipimpin oleh RKH Hasbullah Muhammad Syamsul Arifin, Lc. 
Pembacaan ayat suci Al-Qur'an dilantunkan dengan merdu oleh ananda Dodi Adrian Febriansyah yang pernah menjuarai lomba tingkat Asean tahun kemaren itu.
Acara inti pun dimulai dengan seksama oleh Muhadir kali ini Syaikh Muhammad bin Hasan Al-Auqali Al-Yamani yang diterjemah oleh Ust. Qohiri, Lc. 
Beliau memaparkan dengan luas dan jelas tentang apa yang berhubungan dengan tema acara tersebut.
Di antaranya beliau mengutip hadis riwayat muslim, yang hadist ini juga telah dinukil RKH. Syamsul Arifin dalam kitabnya Arba'un Hadistan di hadist pertama, yaitu 
Dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata : Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata : “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata,”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.
Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”.
Nabi menjawab,”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah, malaikatNya, kitab-kitabNya, para RasulNya, hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.”
Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,” Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
Lelaki itu berkata lagi : “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?”
Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.”
Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!”
Nabi menjawab,”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya, jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.”
Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga berselang waktu Nabi bertanya kepadaku : “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?”
Aku menjawab,”Allah dan RasulNya lebih mengetahui,” Beliau bersabda,”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” 
Hal penting dari hadis ini yang banyak kita tidak menyadarinya dan tidak mengenengahkan masalah ini dalam topik pembahasan ialah, sebenarnya rukun agama yang perlu dikaji sebenarnya tidaklah hanya berkutat pada tiga persoalan saja (Islam, Iman, Ihsan) melainkan ada empat  yaitu ditambah dengan Imarah Lisssa'ah pengetahuan tentang tanda-tanda hari kiamat seharusnya juga diperdalam lagi, apalagi di zaman berkecamuknya fitnah seperti saat ini.

Mengapa konflik yang terjadi sekarang ini kian banyak menimpa umat Islam? itu di antaranya karena kurangnya pemahaman umat Islam dalam mempelajari ilmu yang terakhir ini, sebab bagaimanpun Islam kita haruslah dibentengi dengan sekuat mungkin.
Sebenarnya Rasulullah Saw. dulu pernah berkhotbah panjang sekali tentang problematika akhir zaman ini, dimulai ba'da ashar hingga matahari akan terbenam menurut kisah dari Abu Hurairah ra. Sehingga dia berkata sungguh aku mendengar dari Rasulullah saw begitu banyak ilmu dan ilmu ini ada dua kategori, yang pertama ilmu tentang hal ihwal Islam dan telah aku sampaikan semuanya kepada umat, dan yang kedua ilmu yang memang aku sengaja rahasiakan, karena jikalau aka sampaikan ilmu ini niscaya mereka akan membunuhku.
Nah itulah ilmu tentang Akhir Zaman, yang jikalau masa sekarang perlu dikaji dan disampaikan pada umat karena memang sudah waktunya untuk diketahui.
Karena Rasulullah tidaklah menyampaikan suatu khotbah tentang bahaya fitnah kecuali telah memberi solusi atas hal itu, jelas Syaikh dari Yaman itu.
Di sesi dialog salah satu santri bertannya dan langsung dijawab oleh Syaikh dengan baik dan lugas. Di antaranya tentang cara meraih Islam, Iman, Ihsan ini dengan sempurna. Yaitu orang bertahap dalam hal ini sampai beliau menjelaskan tentang ihsan yang begitu urgen, orang ada dua tingkatan dalam hal ini, yaitu tingkat Musyahadah, dan Muwadhobah.
Tingkat pertama, beribadah kepada Allah seaakan melihat Allah -dengan luasnya Rahmat dan Karunia Allah yang ada di alam semesta- dan tingkatan inilah yang paling baik, jikalau tidak bisa demikian maka ada tingkat kedua yaitu beribadah dengan rasa selalu diawasi oleh Allah SWT.

Setelah panjang lebar Muhadarah Dauliyah terlaksana dengan baik, acara pun berakhir dengan diparipurnai doa langsung oleh RKH. Muhammad Syamsul Arifin, Pengasuh Pondok Pesantren Banyuanyar dengan khusyuk yang diamini ribuan santri yang dari tadi hadir menyimak Muhadarah dalam serangkaian acara.
Dan setelahnya pemberian kenang-kenangan atau cendra mata oleh Pondok Pesantren Banyaunyar kepada Syaikh Muhammad bin Hasan Al-Auqali Al-YamAl-Yaman. (Sabiq)