Meraih cinta Allah dan RasulNya, dengan Amalan Sunnah

By: Mukmin Faishal | 12 Februari 2020 | 908
Masjid Jami Darul Ulum Banyuanyar
Masjid Jami Darul Ulum Banyuanyar

Cinta Allah dan RasulNya haruslah diprioritaskan oleh orang yang beriman, karena tak sempurna iman seseorang sampai Allah dan RasulNya lebih ia cintai dibanding apapun, bahkan daripada dirinya sendiri.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian, hingga menjadikan aku lebih dicintai melebihi kecintaannya kepada anaknya, bapaknya dan seluruh manusia.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)[1]

Faidah dan keutamaan cinta Allah dan RasulNya pun melibihi segala kenikmatan yang ada dimuka bumi ini, puncaknya ialah memperoleh manisnya Iman, yang tak sebanding manis dan bahagianya daripada apapun jua, karena ia akan kekal selama-lamanya dunia akhirat, jikalau kita merasakan bahagia misal ketika mendapatkan sesuatu, coba diingat-ingat, pasti itu hanya sebentar dan sementara yang hanya membekas dalam ingatan.

Jika gula manis, ia lama-kelamaan akan hilang manisnya, bahkan gulanya pun ikut hilang setelah dipakai, jika susu enak, ia lama-kelamaan akan hilang enaknya, bahkan susnya pun ikut hilang setelah diminum, jika suatu hidangan sangat lezat, ia lama-kelamaan akan hilang lezatnya, bahkan makanannya pun ikut hilang setelah dimakan, ya begitulah sejatinya kenikmatan dunia yang hanya sementara.

Adapun cinta Allah dan RasulNya akan kekal abadi selama-lamanya, dan kebahagiaan pun akan dilimpahkan, sesuai dengan janjiNya dalam Al-Qur’an kepada para kekasihNya:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (سورة يونس:62)

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali (Kekasih) Allah itu, tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Berikut ini tiga ciri-ciri seseorang dapat memperoleh masisnya iman dari sabda Rasulullah. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, “Tiga perkara yang jika ada pada diri seseorang, ia akan meraih manisnya Iman: (1) Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) ia mencintai seseorang, tidaklah mencintainya melainkan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, (3) ia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkannya darinya sebagaimana ia benci apabila dilempar ke dalam api neraka. ” (Muttafaq 'alaih)[2]

Dan di antara jalan serta bukti cinta manusia kepada Allah dan RasulNya ialah dengan mengerjakan perkara-perkara sunnah. Dalam hadis qudsi Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasululllah Saw. bersabda:

إِنَّ اللهَ قَالَ: مَنۡ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدۡ آذَنۡتُهُ بِالۡحَرۡبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ، وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أحْبَبْتُهُ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإنْ سَألَنِي أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

Artinya: “Sesungguhnya Allah berfirman: Siapa saja yang memusuhi waliKu, maka sungguh Aku telah mengumumkan perang kepadanya. Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku; yang lebih Aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardhukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya.” (HR. Al-Bukhâri no.6502)

Mengapa melakukan sunnah-sunnah merupakan pancaran cinta Allah kepada seorang hamba, bukankah melakukan kewajiban-kewajiban lebih penting daripadanya, dan pahala yang didapat lebih sempurna?

Jawabannya sederhana, Sesungguhnya terkadang kebanyakan orang melakukan perkara-perkara wajib dikarenakan takut dari siksa yang menimpa apabila ditinggalkan, adapun orang yang melakukan perkara-perkara sunnah, tidaklah karena takut dari siksa, sebab memang boleh meninggalkannya, melainkan ia mengerjakan perkara sunnah karena tulus untuk mendekatkan diri kepada Allah, mengharap tambahan dari cintaNya, inilah sesungguhnya yang ia inginkan.

Alkisah, ada seorang wanita salehah penjadi pembantu di sebuah keluarga, suatu ketika ia sedang sholat malam di waktu yang sunyi, dan majikannya mendengar doa dalam sujudnya, wanita itu berkata: “Ya Allah Aku memohon padaMu dengan cintaMu padaku, untuk memuliakanku dengan tambahan taqwaku padaMu” teruslah sampai ia selesai dalam doanya.

Setelah ia sholat, majikannya yang dari tadi termengu mendengar doa tersebut, mulai bertanya seraya berkata: “Bagaimana kau tahu bahwa Allah mencintaimu? Bagaimana bisa kau mengatakan “Allah aku memohon padaMu dengan cintamu padaku” Maka ia berkata: “Wahai tuan, jikalau bukan karena cintaNya padaku niscaya Dia tidak mungkin membuatku terbangun dari tidurku sekarang ini, jikalau bukan karena cintaNya padaku niscaya Dia tidaka akan menunjukkanku kepada keharibaanNya, jikalau bukan karena cintaNya padaku niscaya Dia tidak akan mebuatku sadar tulus dalam berdoa.[3]

Ma sya a Allah, tepat sekali peraktaan wanita itu, sesungguhnya dengan Allah memberi kita kekuatan untuk melakukan kebaikan, itulah karena cinta dan rahmat Allah yang diberikan kepada kita, belum tentu yang lain tersadar untuk melakukan kebaikan seperti kebaikan kita itu, kecuali dengan pertolangan Allah SWT, La Hawla wa La Quwwata illa Billah…

Maka berbahagialah engkau orang yang membaca Al-Quran sepanjang siang dan malam, sebab Allah mencitaimu…!

Berbahagialah engkau para santri yang selalu belajar, mencari ilmu dengan semangat dan senang hati, sebab Allah mencintaimu…!

Berbahagialah engkau orang yang khusyu’ dalam sholat dan dzikirmu, sebab Allah mencintaimu…!

Ya, bersyukurlah…! orang-orang yang dapat istiqomah dalam mengerjakan kebaikan-kebaikan, karena mereka telah diberi petunjuk oleh Allah untuk melaksanakan itu semua. Terutama hidayahNya dengan menunjukkan Iman dan Islam.

Jadi laksanakanlah semua yang diwajibkan oleh Allah, dan tambahkanlah dengan amal-amal sunnah semampunya, dengan rasa syukur, senang, dan bahagia.

Jika kita ingin beruntung di dunia dan akhirat, kita harus berjuang untuk meraih cintaNya, dengan membuktikannya melalui amalan-amalan baik kita, yang itupun merupakan rahmat dan cintaNya, dan janganlah lupa pula untuk selalu berdoa memohon cintaNya supaya istiqomah. Sebagaimana doa yang sering disampaikan Syaikhona Muhammad Syamsul Arifin saat memberikan nasehat kepada para santri, yang ternyata doa itu merupakan tuntunan yang sangat baik bagi kita, berikut ini doanya:

اللّهُمَّ إنِّيْ أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِيْ إلَى حُبِّكَ

“Allah aku meminta cintaMu, cinta orang yang mencintaiMu, dan cinta terhadap pekerjaan yang mendekatkanku kepadaMu. “

 


[1] Teks Arab: عن أنس – رضي الله عنه – أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال :« لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده ووالده والناس أجمعين » أخرجه البخاري ومسلم

[2] Teks Arab عن أنس – رضي الله عنه – أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال  " ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سَوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إلاَّ لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّار" أخرجه البخاري ومسلم

[3] Lihat: Sa’id Ramadhan Al-Buthi, Al-Hubb Fil-Qur’an; hal 35-36.

Oleh : Sabiqul Mubarak Ibnu Ali