Menyoal Kekuasaan Tuhan

By: Hanif Muslim | 21 Desember 2020 | 136
Banyuanyar.net
Banyuanyar.net

Ada sebuah narasi sekaligus pertayaan singkat yang menggelitik  rasionalitas saya sebagai santri yang sempat ngaji tauhid (meskipun sedikit) “benarkah Allah itu maha kuasa? 

Bukankah setiap kekuasaan menunjukkan dan meniscayakan adanya sesuatu yang dikuasai, setiap cinta meniscayakan adanya yang dicintai, subjek dikatakan sebagai pemberi jika  ada objek yang diberi. Pertanyaannya adalah, lalu bagaimana dengan kekuasaan Allah  swt sebelum manusia dan alam itu diciptakan?” benarkah sifat Qudrahnya Allah masih bergantung pada sesuatu yang lain? 

kita semua tahu bahwa mengingkari kekuasaan-Nya berarti telah keluar dari sesuatu yang sangat esensial dalam Aqidah Ahlu sunnah. Dan bagaimana cara memberi sanggahan yang tidak doktrinal pada narasi di atas?

Model narasi di atas sebenarnya hampir sama dengan pertanyaan para filosof terdahulu “bagaimana mungkin Allah swt yang Qadim menciptakan sesuatu yang baru (hadist)?” pertanyaan itu sempat menjadi perdebatan antara ahli kalam dan para filosof,  karena idealnya yang Qadim menciptakan yang Qadim, maka Kalangan Asy’ariyah menawarkan beberapa gagasan yang kemudian dijadikan sebagai dasar bagi aqidah ahlu sunnah wal jama’ah hingga saat ini.

Sifat Qudrohnya  Allah swt memiliki dua ta’alluq  (hubungan dengan Objeknya) yang pertama ta’alluq suluhi Qadim (potensial) dan yang kedua ta’alluq tanjisi hadist (aktual). Qudrohnya Allah memang Qodim, dan memiliki potensi untuk menciptakan sesuatu atau tidak menciptakan sesuatu, dan potensi itu tidak akan menjadi hilang ketika sudah aktual. Misalnya anak kecil, sejak lahir ia sudah memiliki kedua mata dan kemampuan untuk melihat tapi, ia baru bisa melihat mobil setelah lima tahun kemudian misalnya yakni setelah mobil itu ada. Artinya anak itu bukan tidak bisa melihat sebelum mobil itu ada. 

Hal ini sama dengan sifat Ghufron (pemaaf) bagi Allah swt. Allah itu memiliki sifat pengampun sejak azali, lalu kemudian ia ciptakan makluk kemudian dan memohon Ampunan dan Allah mengampuni (aktual) pertanyaannya apakah sebelum atau ketika tidak ada makhluk sifat pengampunnya Allah menjadi hilang? Jawabannya tentu saja tidak, karena secara suluhi Qodim atau potensial Allah swt. itu sudah pengampun meskipun aktualisasinya kemudian. 

Jadi, jangan katakan, harus nunggu manusia berbuat dosa dulu dan minta maaf baru Allah bisa dikatakan ghufron? Ini konyol