Menyoal ke Esaan Tuhan

By: Hanif Muslim | 28 Desember 2020 | 168
Banyuanyar.net
Banyuanyar.net

MENYOAL KE ESAAN ALLAH

Salah satu sifat yang wajib dimiliki oleh Allah swt adalah sifat wahdaniyat (Esa). Kita semua juga menyakini dan mengakui  ke Esaan Allah itu. baik Esa dalam dzat, sifat dan af’alnya dengan artian tidak ada kuantitas bagi Allah.  namun dalam perkembangannya ternyata proses keberimanan tersebut tidaklah sesederhana itu.

misalnya ketika kita dihadapkan terhadap beragam sifat Allah lalu ada ujaran “katanya Esa tapi kok sifat Allah ada dua puluh” di dalam Al-Qur’an sendiri ada penyeifatan yang berbeda kadang Allah disebut ghofir, pada bagian yang lain Allah juga disebut Ghofur dan juga ghaffar, yang antara ketiganya tidak sama. 

Dalam hal ini kita ambil dua contoh saja pada kata ghofir dan ghoffar. kata Ghoffar ini  jauh memiliki makna yang lebih tinggi karena menggunakan sighat mubalaghah atau superlative, sedangkan ghofir ( pengampun), Ghoffar (maha pengampun), pertanyaannya dari mana makna tambahan itu (ada ziyadah fil makna)  karena ketika Ghaffar (mengampuni banyak dosa) dan ghofir (pengampun dosa) keduanya berbeda dan otomatis ketika kita mengatakan sifat Allah itu tidak tunggal akan terjadi kontradiksi dengan sifat wahdaniyatnya Allah swt. 

Maka jawabannya adalah adanya ghofir dan ghoffar itu tidak kembali kepada Allah swt. tapi, kembali kepada makhluk itu sendiri.  Jadi, karena Allah mengampuni dosa maka kita menyebut Allah ghofir lalu  Allah mengampuni banyak dosa baik dosa kecil maupun dosa yang besar maka Allah ghoffar,  dan jika Allah sering mengampuni dosa maka Allah disebut Ghofur. Sehingga dengan demikian sifat Allah itu tetap tunggal cuman yang membuat berbeda adalah ketika kita melihat dari relasinya dengan makhluk. Misalnya saya kasih analogi seorang dokter ia memiliki seluruh jenis obat-obatan tapi ketika ada orang yang sakit (sakit ringan) anggaplah ia si A  lalu kemudian sang dokter memberinya beberapa kapsul saja, tapi ketika si B yang datang berobat (sakit) parah sang dokter memberinya satu gudang obat misalnya. Maka ketika kita tanya apakah si dokter memiliki obat? Maka jawabanya adalah iya, tapi apakah jumlahnya sedikit atau banyak maka jika ditanya pada si A ia akan menjawabnya sedikit lain lagi jika ditanyakan kepada si B. Maka dengan demikian adanya perbedaan itu tidaklah kembali kepada Allah tapi, kembali kepada makhluk itu sendiri.
.
.
Dalam ilmu tauhid ada yang disebut sifat at dzat, ini adalah sifat mutlaknya Allah atau dengan kata lain tidak  berhubungan dengan makhluknya contoh Al-alim,  ada juga sifat al af’al/fi’il seperti Ar-rahman (membutuhkan objek), termasuk Al-Ghoffar karena membutuhkan objek maka ia masuk ke sifat al af’al, untuk membedakannya sederhana saja cukup memahami apakah ia membutuhkan objek atau tidak,  misalnya Allah “As sabur” kita tinggal melihat apakah ia ada hubungan dengan makhluk atau tidak sesederhana itu. 

Lalu selanjutnya bagaimana menganalisis firman Allah الله ليس بظلاّم للعبيد (Allah tidak akan mendholimi hambanya) kata dhallam adalah bentuk mubalaghah dari kata dholim. pertanyaannya dholim dan dhallam lebih tinggi mana levelnya? Kita semua sudah tahu jawabannya. Tapi persoalannya tidak selesai di situ  dalam kaidah bahasa sesuatu yang diafirmasi positif pada bentuk mubalaghahnya maka ia juga berlaku pada bentuk yang biasa seperti contoh Alim dan Allamah, jika orang itu Allamah maka secara otomatis ia juga Alim, tetapi jika ia alim belum tentu ia Allamah, atau jika orang itu ghoffar maka bentuk biasanya secara otomatis juga diafirmasi. Dan Itu berlaku pada kalimat yang positif. lalu bagaimana jika kalimat itu negatif, maka, kaidahnya menjadi jika sesuatu dinegasikan bentuk superlative nya maka belum tentu negasi juga bentuk biasanya seperti contoh jika orang itu tidak Allamah maka masih memungkinkan ia alim tapi jika yang dinegasikan adalah bentuk biasanya maka sudah pasti negasi juga bentuk superlative nya  contoh jika orang itu tidak alim maka sudah pasti ia tidak allamah.

Pertayaan besarnya adalah kenapa pada ayat الله ليس بظلاّم للعبيد itu yang dinegasikan adalah bentuk superlativenya seakan-sekan jika kita menggunakan kaidah bahasa di atas maka akan menjadi Allah itu tidak dhallam tapi mungkin saja Allah dholim? Atau dengan redaksi yang lain Allah itu dholim tapi sedikit. 

Maka disini pentingnya untuk melihat relasi kata yang diafirmasi atau yg dinegasikan dengan kata berikutnya.