Menjaga Gerbang Salam Dari Nafsu Kemaruk Kapitalis

By: Hanif Muslim | 28 September 2020 | 272
Gerbang Salam
Gerbang Salam

Jika pulau lombok dikenal dengan pulau seribu masjid, maka Madura dikenal dengan sebutan pulau seribu Pesantren. Dan saya kira laqab ini tidak terlalu  berlebihan untuk  dilekatkan pada pulau kecil yang penuh dengan nilai-nilai animistik dan sufistik ini. karena pada kenyataannya Madura mampu membuktikan itu dengan banyaknya jumlah Pesantren. Membanyangkan pulau Madura? Lisanmu akan menyebut beberapa nama,  Pondok pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, Demangan, Len bulan, Kembang Kuning, Banyuanyar, Sumberanyar, Al-Amin, Annuqayah dan Pondok-pondok luhur para leluhur Petilasan bakti tanpa balas budi Para begawan dakwah kepulauan Madura. 

Selain itu Pulau Madura juga sempat  diproyeksikan dan akan dijadikan sebagai serambi Mekkah sebagaimana yang telah dilakukan Provinsi Aceh, namun setelah wafatnya Kiai Tidjani Jauhari Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin, sepertinya gagasan itu berangsur-angsur surut atau barangkali sengaja dibuat surut. Ada satu anekdot yang pernah saya dengar dari  lisan para sesepuh jika ada keinginan untuk tiba di Mekkah, namun keinginannya tidak pernah tercapai, tibalah di Pamekasan "Mekkahnya orang Madura" Pa-Mekka-san Kampung besar para ulama Kutub di antara kutub-kutub ilmu agama di antara Muslimin Jawa dan Madura makanya tidak heran jika pamekasan selalu disebut-sebut sebagai kota pendidikan. 

Tapi, mungkin para pemangku jabatan dan oknum yang merasa punya hak dan kuasa, lupa atau mungkin hanya pura-pura lupa.  Pamekasan dulu tak lagi sama dengan kini, masamu hidup surau-surau penuh dengan suara anak-anak mengaji, pada tempat-tempat tertentu tidak sembarang orang berani menebang pohonnya, mengencingi dan menggali tanahnya, sekarang tanah itu tak lagi permai dilakutapa kiai dengan angkuhnya mereka berkata"Ini zaman modern, bung!"  Dan lihat saja, distro, pusat-pusat belanja, toko waralaba, wisata dan taman rekreasi memuhi banyak lahan "Zaman kapitalis!

Tanahnya tak lagi permai, ada lobang menganga karena ditambang , laut dan bukitnya berubah bentuk,  ada reklamasi karena nafsu kemaruk.  tembakaunya tak lagi bikin makmur ada pabrik rokok, harga dibuat ngawur,  petani tak lagi khusyuk berzikir, ada aksi bakar tembakau, karena sudah tak kuat mikir soal hutang. 

Sekarang kita sudah memasuki fase neoliberalisai, pelan namun dampaknya pati akan menyulap kota Pamekasan dan Madura pada umumnya, lahan-lahan luas dan semak-semak belukar sekarang telah banyak yang telah dijadikan wahana rekreasi dan tentu saja ini akan terus berlangsung pesat ke depan jika dilihat bagaimana kapitalis berkembang  pesat di Surabaya hal itu pada akhirnya akan memaksa kampung kecil ini untuk memberi salam pada pemodal dan invertor luar.  Dari sini kita jadi mengerti, untuk siapa poster senyum Bupati yang terpampang di sepanjang jalan, kalau bukan untuk para investor dari luar yang suka  memberi janji tapi kampung kita makin terbeli. 

Maka pertanyaan yang perlu dimunculkan “siapa yang akan memiliki Pamekasan” apakah perlu untuk ikut menjaga Pamekasan atau merelakannya dari sistem perivatisasi kemaruk  yang hasilnya tidak benar-benar dinikmati oleh semua penduduk. Pertanyaan ini belum terlambat untuk kita jawab, Pamekasan bukanlah Papua yang setelah warganya bersepakat untuk mengolah hasil alamnya sendiri, tanahnya sudah dicaplok oleh pemerintahan rezim Soeharto, kita masih punya waktu untuk bersepakat dan menyatukan barisan bersama para ulama’ dan kiai untuk memiliki Pamekasan.  

(Hanif Muslim)