Menghidupkan Nilai-nilai Esensial dari Sosok KH. Abdul Hamid Baqir

By: Hanif Muslim | 28 Desember 2020 | 367
alm. RKH. Abdul Hamid Baqir
alm. RKH. Abdul Hamid Baqir

Hari ini sebagian besar perhatian kita cenderung lebih fokus pada  karomah dan cerita-cerita di luar nalar yang pernah dialami oleh almarhum Kiyai Abdul Hamid Baqir,  dari pada sekedar menziarah-teladani nilai-nilai keistiqomahan dan ajaran-ajaran beliau. Seharusnya kita mulai dengan mengajukan sebuah pertanyaan yang lebih fundamentalis, bagaimanakah cara menerapkan pekerti beliau, dalam kehidupan yang sudah hampir kering nilai dan bercorak formalistik ini.  sehingga ketika membuat satu kebijakan tentulah kebijakan itu ala beliau yang tidak melanggar aturan agama dan negara, ketika mencanangkan kurikulum pendidikan, pastinya kurikulum yang serat dengan nilai-nilai yang beliau pernah ajarkan, dan begitu pun dalam ranah kebudayaan, dan politik (meskipun hal itu tidak mudah) Bagaimana memulainya?.


Sikap seperti itu juga bisa kita saksikan pada realitas yang terjadi hari ini misalnya, dalam konteks cara beragama, banyak yang masih sebatas formalitas saja meneladani Almarhum Kiyai Abdul Hamid Baqir bahkan sebagian sudah puas sekadar jadi penyambung cerita kekeramatan beliau.  mengapa bukan cara berpikir beliau yang kita tiru sebagai pola bertindak, kenapa bukan kecerdasan beliau yang kita duplikasi untuk kemudian kita jadikan kurikulum di sekolah-sekolah kita? Begitulah kira-kira kesan yang dapat ditangkap dari KH. Sibli pada seminar nasional Pena santri 2020 yang digelar di halaman pondok pesantren banyuanyar oleh persatuan Alumni Darul Ulum Banyuanyar (PERADABAN) 
Beliau (KH. Sibli) juga menyampaikan bagiamana ia sendiri telah menerapkan beberapa ajaran almarhum Kiyai baqir di Madrasah yang beliau asuh sebagai contoh dan gambaran dari pesan-pesan yang telah ia sampaikan.

Hal senada juga disampaikan oleh KH. Khosin dari sumnep beliau memberikan sugesti kepada semua audien yang hadir untuk senantiasa mengaktualisasikan amalan-amalan almarhum. Tidak hanya dalam aspekl yang berkaitan dengan keagamaan saja, misalnya dalam menyiarkan nilai-nilai Islam almarhum juga memiliki metode yang unik,  seperti yang disampaikan oleh KH. Muhammad Hasibin dari Blumbungan, bagaimana Almarhum menghentikan para pemuda yang kerjaannya membawa senjata tajam tanpa sedikitpun melakukan tindakan kekerasan, bagaimana Almarhum menghentikan para pejudi tanpa sedikitpun menyinggung apalagi menyakiti. 

Begitu juga dalam mengatur kurikulum pendidikan almarhum memiliki pemikiran progresif dan tegas dalam mengambil tindakan hal ini diceritakan oleh KH. Isbat dari Jember sebagai pemateri ke-3 pada seminar tersebut. ada juga Dr. KH. Kholilurrahman yang mengulas prihal laku spiritual dan hal-hal yang mistik yang almarhum miliki.

Ada sembilan pemateri dalam seminar Nasional yang mengulas sosok Almarhum Kiyai Baqir tersebut,  selain yang disebut di atas ada juga yang tidak bisa hadir,  sebut saja Kiyai Muzammil dari Jember. selain itu, acara tersebut juga dihadiri oleh para Kiyai yang ada di daerah Jawa Timur.