MADURAKU

By: Syaiful Hukama Ira | 13 Maret 2019 | 58
Hanif Pratunggal
Hanif Pratunggal

MADURAKU
Ango’an poteah tolang etembheng pote mata,
Pulau madura adalah pulau dengan sejuta keindahan. Setiap estetika keindahanya takkan pernah  habis untuk diceritakan dengan goresan tinta penulis manapun. Menggambarkan keindahanya takkan  usai hanya diceritakan dengan kata-kata gubahan penuh kekaguman sekalipun. He…begitulah yang dikatakan banyak penyair  Madura.
Kepuasan akan  makna keindahan alam dengan penduduknya yang  ramah yang sarat akan nilai-nilai dan ghirah yang tinggi akan didapatkan bila berkunjung langsung ke pulau ini.
Keramahan dan senyum simpul yang selalu menghiasi bibir penduduk pulau Madura adalah sebuah tabiat murni yang dimiliki orang-orang  Madura. Tak ada orang Madura  yang tak tersenyum bila bertemu dengan orang yang belum dikenalnya. Namun meski demikian janganlah penduduk Madura disinggung harga dirinya atau siri kata orang Makasar, meskipun ia hanya seorang penyabit rumput, seorang tukang memelihara kuda orang lain, atau hanya rakyat biasa, namun mesti disadari bahwa ia mempunyai harga diri. Bagaimanapun tinggi pangakat seseorang, dia tetap tidak boleh memandang rendah kepada orang lain sebab ada pepatah “tang colo’ penter ngucak tuan, tapeh tang are’ ta’ penter nguca’ tuan”  tegasnya ialah bahwa seorang yang berbudi siri akan bersikap hormat kepada yang patut dihormati, selama yang patut dihormat tidak menghina dan merendahkannya. Bukit akan didakinya, betapapun tingginya, curang bakal dituruni betapapun curamnya, asal harga dirinya sebagai manusia jangan disinggung. Atau dengan kata lain jangan mengangkat kaki, di muka orang aceh, jangan menyentak badik di muka orang bugis, jangan dipegang kepala orang minang dengan tangan kiri dan jangan mengangkat celurit di muka orang Madura, orang madura menyebut itu pantang. 
Itulah ghirah yang sering kali dicap fanatik oleh bangsa barat, ini adalah kisah tentang ghirah seorang pemuda berdarah Madura, tentang menjaga muruah, harga diri, atau siri pada diri.
***
Namaku  Bunga, dan ini Andini  kami berdua adalah  Mahasiwi dari Yogyakarta, jauh-jauh datang ke Madura untuk tugas penelitian tentang kebudayaan yang ada di pulau Madura.  sudah hampir satu minggu kami berada di pulau Madura, membaca setiap kebudayaan yang hidup dan tumbuh di pulau ini.  namun hingga saat ini aku masih bertanya-tanya dan heran pada pembimbingku kenapa harus Madura yang mesti menjadi objek penelitianku, kenapa pula harus budaya Madura yang harus ku teliti apa menariknya? Gerutuku dalam hati, saat ini aku berada di halaman rumah kepala desa, di sampingku ada Andini yang larut dalam kesibukanya memburu gambar penduduk yang sedang berladang dan membajak  sawah di kejauhan sana. Yang membuatku semakin heran saja pada temanku, apa menariknya? Tanyaku dalam diam.
Tidak jauh dari tempatku berdiri ada Saladin, dia adalah penduduk asli Madura, yang menjadi penunjuk atau yang membatu kami selama tugas penelitian ini, Saladin adalah seorang remaja yang memiliki kepribadian yang dingin sedingin es, keperibadiannya yang introvet dan misterius telah membawaku pada berbagai hal-hal yang belum pernah kutemukan pada laki-laki umumnya, dia begitu menjaga jarak dan pandangannya, yang mungkin hal itulah yang membuatku menemukan banyak  kesulitan selama beradabtasi dengannya, Saladin  adalah sosok lelaki  yang tampan dan bisa diandalkan dalam penelitian ini, meski dia selalu menjadi Saladin yang pendiam.
Setiap kali aku mengutuk budaya Madura yang aku anggap terlalu Fanatik, primitif, dan tidak dinamis, Saladin hanya terdiam tidak menanggapi. “Suatu hari kau akan mengerti dan takjub pada budaya Madura”  hanya itu yang selalu dia sampaikan padaku setiap kali aku mengkritik budayanya.
***
sore itu aku berada di lapangan kerapan sapi, indah menyaksikan keramain di kaki senja, teriakan para pendukung masing-masing suporter memberi dukungan untuk tim daerah mereka masing-masing, ini merupakan pengalaman pertamaku menyaksikan kerapan sapi, itupun dikarenakan tugas penelitian, kalau tidak, mana mau aku berada di kermaian seperti ini. seperti yang terjadi denganku saat ini, aku dan andini ditinggalkan begitu saja oleh Saladin “menyebalkan”
Saladin kamu dimana...? teriakku dalam hati.
Bagaimana tidak dia yang tugasnya jadi pembantu kami malah enak-enakan keluyuran main seenaknya tinggalkan aku dan Andini di tempat yang tidak pernah ku kunjungi, gimna kalau aku tersesat coba?
Hah...tersesat..? ucap Andini terkejut sambil mengalihkan pandanganya padaku.
Saat ingin ku jawab pertayaan Andini tiba-tiba aku dikejutkan oleh teriakan nama Saladin.
Saladin.... Saladin... Saladin....terdengar teriakan  suporter meneriakkan  nama Saladin, 
Bunga...? Andini sudah berlari membelah keramaian suporter yang berjejer di pinggir lapangan, 
Aku penasaran langkahku  mengikuti Andini melihat apa sebenarnya yang sedang terjadi, hingga akhirnya Andini menunjukkan  sosok Saladin yang aku cari, 
“itu Saladin bukan” tanya Andini kepadaku. 
“Lihat itu bunga Saladin gagah sekali di atas pacuan kerapan sapi dia pasti mampu mengalahkan musuh-musuhnya dengan mudah”. Aku terdiam tidak menjawab, pandanganku  masih  mencari-cari sosok Saladin yang Andini maksud, hingga kemudian aku terkejut  pada sosok yang dari tadi terus-menerus  namanya diteriakkan dengan penuh semangat oleh penonton di sepanjang lapangan, siapa sebenarnya Saladin, benarkan dia Saladin yang pendiam itu, menit-menit berikutnya teriakan-teriakan nama Saladin mulai senyap setelah Saladin memenangkan pertandingan kerapan sapi sore itu, aku dan Andini  akhirnya memutuskan keluar dari keramaian,  aku harus segera  menghampiri dan mencari Saladin yang  masih belum  muncul, di tengah-tengah banyaknya penonton yang datang dari berbagai pulau yang ada di luar Madura. Lapangan yang luas dan keramain ini benar-benar membuat aku dan Andini kebingungan, di saat kami hendak istirahat sejenak,  tiba-tiba ada segerombolan laki-laki seumuran Saladin menuju ke tempat kami berdiam, yang membuatku semakin gelisah, 
“Hai gadis-gadis manis..!” mereka menyapa kami berdua dengan  tatapan yang semakin membuat kami berdua jengkel, 
Sepertnya mereka bukan penduduk Madura, penduduk Madura adalah penduduk yang ramah dan tau adat.. 
Semakin lama mereka semakin kurang ajar, hingga akhirnya aku angkat suara, berusaha mengusir mereka yang semakin menjadi-jadi,  namun mereka tetap tak mengindahkan, justru mereka malah tertawa,  
“Cuek banget kalian, jangan sok jual mahal deh” ucap mereka di susul dengan gelak tawa yang lain. 
“Hei jangan ganggu mereka”  
Bunga itu Saladin ucap Andini memberitahuku Saladin yang lagi berjalan menuju kami berdua,
Mereka semua menatap Saladin,
” siapa kau kami tidak ada urusan denganmu” 
“Mereka adalah saudariku jika kau ganggu mereka maka kau telah mencoba berurusan denganku”. 
“O iya memangnya kamu mau apa jika kami mengganggu gadis-gadis ini haha. Mereka semua mulai kurang ajar, di depan Saladin mereka tidak mengindahkan perkataannya sedikitpun. 
Andini mulai teriak-teriak, tidak tahan dengan tangan-tangan bejat mereka
“hentikan..”teriak Saladin, sekali lagi namun percuma saja mereka semua membatu. Saladin saat ini telah berubah dia bukan Saladin yang pendiam dan misterius 
bruuk..bruuk... Saladin menerjang mereka dari belakang, ketika mereka semua membalikkan badan Saladin sudah siap dengan kuda-kudanya, terjadilah pertempuran yang tidak seimbang antara Saladin dan segerombolan pemuda tadi, namun dengan kemampuan bela diri yang Saladin miliki satu-persatu dia berhasil melupuhkan mereka semua. Namun pertarungan belum selesai salah satu dari mereka ada yang bangkit dengan pisau di genggamanya, 
“Saladin..................!”  bunga berteriak
secepat kilat Saladin kembali dengan posisi siap dan berhasil melumpuhkan musuh hingga tak berkutik, namun sayang, Saladin jatuh tersungkur tidak mampu menghindari tusukan pisau itu. 
Bunga dan Andini yang terdiam mematung berlari berhamburan mengahmpiri Saladin yang tergeletak. 
“Kamu harus kuat  Saladin?” Ucap Andini sambil teriak-teriak minta tolong
 Saladin kenapa kamu lakukan ini...? tanya Bunga dengan mata berkaca-kaca 
Saladin tersenyum simpul dengan darah dilambungnya
 “ini yang dimaksud ghirah bunga, semua yang memakai kerudung dan kutang itu adalah saudiriku yang mesti ku lingdungi bunga, Bagi Saladin luka karena tusukan, hukuman bertahun-tahun penjara, untuk membela kehormatan kepada saudarinya tidaklah  seberapa bunga, karena bagi Saladin hukuman bertahun-tahun untuk membela Saudarinya bukanlah suatu kehinaan.  Justru sebaliknya jika ada saudarinya diganggu kehormatanya kemudian hal itu dibiarkan begitu saja, itulah kehinaan, biarpun Saladin hidup bertahun-tahun setelahnya tidak akan ada artinya, biarpun Saladin bebas lepas dari penjara, Saladin tidak akan ada harganya, semisal menjadi orang buangan, bahkan lebih hina dari itu, itulah yang dinamakan syaraf, syaraf telah masuk dan menjadi darah daging bagi Saladin dan masyarakat pulau Madura, inilah yang oleh pemuda Madura disebut “anggo’an pote tolang tanembheng potte mata”. 
Bunga terdiam matanya berkaca-kaca menatap Saladin, 
“Tapi Saladin ini sangat membahayakan nyawa Saladin” ucap Bunga
“Bunga Kalau rasa malu menimpa diri tidak ada obatnya kecuali nyawa tebusannya, bagi Saladin tidak melawan ketika Saudarinya diganggu itulah kematian”
Bunga diam membatu matanya basah, memahami dan menyadari akan penilaianya yang keliru terhadap potret masyarakat Buadaya Madura. 

 

by : Hanif Pratunggal