Maaf Virtual

By: Hanif Muslim | 12 Mei 2021 | 260
Banyuanyar.net
Banyuanyar.net

Bukan sebuah kebetulan jika setiap hari raya Idul Fitri, ponsel atau akun media sosial kita dibanjiri notif ucapan “selamat hari raya idul fitri” dan “mohon maaf lahir batin” mulai dari keluarga, tentangga, teman bahkan iklan sarung dan sirup yang sesekali mampir di layar televisi. Sungguh fenomena tahunan yang menarik.
Hanya saja, sebagaimana hukum kekekalan energi, ketika ada yang bertambah pasti ada yang berkurang, efek yang ditimbulkan dari kebiasaan obral maaf ini sekurang-sekurangnya  adalah kata “maaf” akan semakin kehilangan makna esensinya, maaf yang lazimnya dibarengi dengan penyesalan, i'tikad untuk tidak mengulangi kesalahan lagi, janji untuk tidak melakukan kebiasaan yang nirmakna kembali, jadi terasa begitu tawar dan tidak bertahan lama,  ia tidak lebih dari sekadar iklan-iklan yang berseleweran di televisi menawarkan berbagai kesegaran dan keunggulan, yang pada kenyataannya  hanya menjadi formalitas belaka dan miskin makna. Sehingga menurut hemat saya (yang tidak terlalu hemat) antara subjek dan objek seperti tidak benar-benar melakukan sebuah komunikasi.
Karena, Idealnya sebuah kata memiliki kemampuan performatif, atau meminjam istilah John Langsaw Austin, speech-act (tindak-ucapan). Dengan ini, sebuah ungkapan akan lebih hidup, sebab tujuannya bukan sekadar berbahasa atau menyampaikan suatu pernyataan tapi merealisasikannya dengan tindakan. 
Lalu, jika demikian, apakah kata “maaf” harus dilupakan? Tidak disebar melalui pesan WA atau media sosial lainnya? Tentu tidak! Sekali-kali tidak demikian. Kata “maaf” tetap diucapkan kepada keluarga, tetangga atau sahabat, namun cara dan kualitas dari kata tersebut harus ditingkatkan.
Salah satu cara yang bijak ialah dengan tidak mengumbar kata “maaf” secara serampangan, tapi cobalah sapa satu persatu, sebutkan nama masing-masing orang yang ingin kita pintai maaf. Dengan begitu, maka komitmen dan janji untuk benar-benar berbuat baik kepada mereka bisa tertanam dengan subur.
Dan yang tak kalah penting,  jika ada waktu luang, marilah budayakan silaturrahmi secara fisik tidak hanya sekadar di akun medsos atau virtual saja, sebab hari ini keakraban fisik kehangatannya semakin hilang oleh pertemuan dunia Maya. 
Semoga kita semua senantiasa dihindarkan dari maaf yang kering makna dan jauh dari ketulusan.