Lebih Kejam dari Penyihir

By: Ach. Jalaludin | 05 Januari 2021 | 90
ilustrasi oleh jhalal
ilustrasi oleh jhalal

“Woi..! jangan ngupil saja kau, Sahi! Ayo giliran kau!” Petugas timer memanggil Sahi dengan toa pegang. Jupri gelagapan langsung merapikan duduknya menarik pedal gas motor tempel. Kapal Sahi maju merapat di bibir dermaga. Butuh waktu dua menit penumpang yang antri memenuhi kapal Sahi.

Aku membaca dongeng, duduk di papan kayu yang berada dipinggir dermaga, menunggu Tobi. Pagi ini, ia men-certer perahu, katanya untuk berlayar entah kemana, hal seperti ini sudah sering kita lakukan. Lagi asyiknya aku membaca dongeng, punggungku disentuh oleh tangan yang terasa kasar, membuatku kaget.

“Pak Tua!” reflek aku menoleh. Pak Tua duduk di sampingku merasakan kesejukan pagi di bibir dermaga.

“Apa yang kau baca Ilham, hingga suara bising perahu Sahi seolah tak kau dengar?” Pak Tua bertanya sambil nyegir karena melihatku tadi terkejut dipegangnya.

Pak Tua sudah aku anggap Abiku sendiri, karena ia sangat dekat dengan Abiku. Meski Pak Tua pendatang di pulau kami, ia cepat disegani penduduk karena sifatnya yang kebapakan penuh kasih sayang. Menurut penduduk sekampung, Pak Tua orang asli Kalimantan. Entahlah, aku tidak tau mengapa ia sampai di pulau kecil ini. Masalah nama asli Pak Tua, aku belum tau, dari kecil aku terbiasa menggil begitu.

Aku sering mendegar kata bijak dari Pak Tua, tapi tidak semua aku mengerti, apalagi bercerita mengenai perjalanan hidupnya. Biasanya aku pura-pura sakit perut atau apalah untuk kabur. 


“Dongeng hantu Jeruk Purut, Pak Tua. Serem banget.” Aku memperlihatkan covernya. Pak Tua hanya ber-oh. Matanya beralih menyapu hulu riak ombak yang tidak terlalu besar. Biasanya kelau sudah seperti ini, Pak Tua akan memulai cerita.

“Ilham, jika anak dibesarkan dengan kasih sayang, dia akan gampang menyalahkan. Tapi kadang jika anak dibesarkan dengan olok-olokan, maka ia akan menjadi pemalu. Sunnguh harus mempunyai pendirian dalam mendidik anak.”

Pak Tua masih terus berbicara disampingku. Memang begitulah, meski meski aku tidak terlalu paham. 

“Kau tidak sedang sakit perut kan, Ilham?”

Eh, kenapa? Dahiku berlipat.

“Maukah kau mendengarkan orang tua ini bercerita saat hidup di tengah pedalaman suku Dayak dulu?”

Aku tidak menjawab, rupanya Pak Tua telah tau kebiasaanku saat ia akan memulai cerita. Pak Tua menceritaiku mulai dari sejak aku anak-anak. Meski anak-anak menyukai cerita, tapi kalau keseringan dan ceritanya sama, juga malas mengengarnya. Maka dari itu aku kadang mencari alasan untuk tidak mendengarkan cerita Pak Tua, entah sakit perut, janji bermain dan alasan lainnya. 

Tapi tidak semua cerita Pak Tua aku tidak suka, ada juga yang membuatku terinspirasi.

Apa Pak Tua bilang? Ingin bercerita dipedalaman suku Dayak? Sepertinya bagus untuk didengar. Lagi pula aku sedang menunggu, lebih baik mendengarkan Pak Tua bercerita.

“Waktu orang tua ini seumuran dengan kau, dulu di kampung suku Dayak, hiduplah seorang nenek tua renta yang umurnya hampir satu abad. Matanya putih seperuh buta, rambutnya putih semua, giginya mungkin tinggal lima biji, tapi sudah berwarna merah pekat, oleh daun sirih. Badannya kurus kerontang dengan urat yang menyambul memperlihatkan bahwa kulitnya telah kering. Punggungnya bungkuk, kemana pun membawa tongkat. Biasanya dipanggil Nenek Kerontang.

“Dia tidak seperti Nenek kebanyakan, Ilham. Yang dimakan setiap hari adalah ubi yang ia tanam tak jauh dari rumahnya. Orang mendatanginya bukan untuk apa, tapi mengandu nasib. Bertanya kapan memulai bisnis yang menguntungkan, minta do’a-do’a dan lainnya. Kalau ada sesuatu yang hilang, ia cukup mengetukkan tongkatnya, maka ia tau ciri-ciri orang yang mengambilnya atau bahkan namanya.

“Ilmunya semakin hari semakin bertambah, bukan cuma orang biasa yang mendatanginya, bukan cuma orang biasa, tetapi juga para pejabat yang haus kekuasaan. Bahkan, ilmunya pun meminta tumbal, yaitu bayi yang masih genap berumur 4 bulan.

“Maka gemparlah penduduk kampung waktu itu, kepala suku yang mengetauhinya, mengirim sembilan orang yang sudah berilmu untuk menghentikan Nenek Kerontang, tapi belum sampai di depan rumahnya, Nenek Kerontang cukup menyemburkan ludah merahnya, maka sembilan utusan itu seketika langsung lumpuh. Lidah itu pun tidak bisa diinjak.

“Kamu tau apa yang dilkukan orang tua ini saat itu?” Pak Tua membetulakan tempat duduknya. “Orang tua ini dengan taman-teman lainnya mencari kebiasaan nenek kerontang. Ternyata kebiasaannya memakan ubi yang ia tanam tak jauh dari rumahnya. Dirusaklah ubi itu, lalu dibakar dan disirami dengan getah karet.

“Maka mulai saat itulah penduduk tidak merasakan aura dari ilmunya, rumahnya juga sudah bisa didekati. Rupanya itu adalah ritual yang harus dilakukan Nenek Kerontang dengan memakan dan meminum getahnya, makanya tubuhnya kurus dan kering. Tidak usah menunggu lama,  penduduk yang memang marah sejak dulu, karena menyadari Nenek Kerontang lama tidak keluar rumah dan rumahnya pun bisa didekati, maka penduduk membakar rumah tersebut beserta nenek kerontang di dalamnya."

Pak Tua melihatku sejenak.

“Kamu terkesima sekali, Ilham. Padahal masih ada kisah yang lebih kejam dibanding kisah Nenek Kerontang. Dan itu terjadi mungkin setiap hari.”

Aku tidak bertanya ataupun menanggapi perkataan Pak Tua, karena aku tau Pak Tua masih akan terus bercerita. Memang begitulah Pak Tua, tidak akan berhenti jika masih ada yang ingin mendeganrkan. Sedang aku, entahlah, aku paham atau tidak.

“Kalau Nenek Kerontang tadi memakan ubi dan menyemburkan ludahnya, tetapi untuk orang-orang yang ini hanya melemparkan ubinya saja puluhan orang meninggal, hancur lebur. Kelakuannya mencuri, merampas dan menghianat. Bahkan mungkin saat ini uang kita telah dirampas.

“Dia hidup dimasa kita, Ilham. Dulu orang-orang seperti itu hanya melemparkan dua karung ubi maka hancurlah dua kota di Jepang, Nagasaki dan Hirosima. Kelaparan dimana-mana. Tapi banyak orang tidak sadar akan hal itu. Kalau Nenek Kerontang kelakuannya telah jelas dan hanya melibatkan orang sekampung, tapi sihir ini tidak kasat mata dan bisa melibatkan penduduk seluruh dunia. Hanya kita tidak sadar dari dulu. Mereka itulah para bedebah. Banyak koruptor di negri ini...”

“Ilham!”

Panggilan Tobi memotong cerita Pak Tua dari atas perahu. Hamdi, Didik dan Ayung melambaikan tangan. Aku hanya tersenyum kepada Pak Tua mau berangkat, benakku. Lalu aku mencium punggung tangannya dan langsung melompat ketepian pelabuhan.

“Ilham..!”  Pak Tua memanggilku.

“Dongeng kau ketinggalan!”