Kisah Para Generasi Emas dalam Islam

By: Ach. Jalaludin | 02 Februari 2021 | 673
ilustrasi oleh jhalal
ilustrasi oleh jhalal

Sepanjang sejarah, aksi–aksi para pemuda telah menjadi salah satu penentu perubahan sosial–politik di berbagai belahan dunia. Dengan idealisme, kematangan intelektual, dan semangat yang masih berkobar dalam diri, menjadikan pemuda sebagai sosok yang selalu berada di garda terdepan gerbang perubahan.

Dalam catatan sejarah perjalanan dakwah para Nabi dan Rasul pada masa mudanya banyak sekali hikmah dan pelajaran yang dapat diambil dan dijadikan teladan bagi generasi muda masa kini. Hikmah dan pelajaran tentang perjuangan para Nabi dan Rasul itu dalam berdakwah menegakkan kebenaran dan keadilan serta melawan para penguasa yang dzalim yang menindas dan menyengsarakan masyarakat.

Pada zaman Rasulullah, beliau mengirim pasukan ke Syam untuk berperang melawan pasukan Romawi, beliau menunjuk Usamah bin Zaid yang masih berumur 17 tahun jagi panglima. Usamah pulang ke Madinah tanpa kehilangan satu tentara pun. Padahal, sebelum sampai ke Syam, Rasulullah wafat, dan berita itu didengar oleh Heraklius, dan Heraklius menyangka pasukan Islam hilang semangatnya. Tapi nyatanya Usamah yang masih seumuran kita, mampu memimpinnya dan memenangkan peperangan itu tanpa ada pasukan yang terbunuh.

Ada juga Sayyidina Ali Ra. Saat itu, beliau berumur 17 tahun, dan seumuran itu, beliau ikut berperang dalam perang Ahzab, yang sebelumnya juga ikut dalam perang Badar dan Uhud. Peperangan itu melawan tiga bani yang bersatu untuk menyerang Madinah. Yaitu Bani Quraisy, Ghathafan dan Bani Quraizhah Yahudi. Untuk melawan kekuatan itu, Rasulullah membentuk parit yang besar, Sami bin Abdullah al-Maghlouth mencatat dalam Jejak Khalifaur Rasyidin, kedalamannya 4,5 M, lebarnya 6,5 M, setelah itu dikasih pembatas setinggi 1,8 M. Meski sebesar itu, salah satu tentara yang bernama Amru bin Wadd, seorang musyrikin Arab yang paling pemberani bahkan dijuluki Baidhatul Balad (telur bangsa) mempu malalui parit itu dengan menunggangi kuda.

Tapi Sayyidina Ali yang masih berumur 17 tahun itu langsung menghadang langkah kudanya, terjadilah pertempuran sengit antar kedua orang yang jago berkuda tersebut hingga debu berterbangan menutupi pertempuran meraka. Tapi berkat pertolongan Allah, Sayyidina Ali mampu mengalahkannya, dan saat itulah Rasulullah bertakbir diikuti para sahabat.

Peria umur 17 tahun kali ini hidup di Turki, namanya Muhammad, dalam bahasa Turki dipanggil Mehmed. Seumuran itu, beliau sudah diangkat menjadi Khalifah Islam oleh ayahnya, kalau di Indonesia dikatakan presiden, jadi seumuran kita sudah jadi presiden. Dan di usianya yang ke-21 tahun, beliau bisa menaklukkan Kostantinopel membuktikan sabda Rasulullah, ditambahlah namanya menjadi Mehmed al-Fatih. Sungguh pencapaian yang luar biasa! Coba bandingin dengan Dilan atau KJN jaman now, bisa apa mereka?

Ada juga Abdullah ibn Abbas, si kecil yang jago tafsir, hukum waris dan sastra Arab. Ada Abdullah ibn Umar, dari kecilnya tidak pernah alfa shalat malam, berkat motivasi Rasulullah Saw. yang mengatakan, “Sebaik-baik manusia adalah Abdullah, kalau dia rajin shalat malam”. Ada Muhammad ibn Idris atau Imam Syafi’i, si kecil yang jago sastra ini, masih belum baligh saja sudah mempunyai majlis ilmu, bahkan memberikan fatwa. Kalau dibandingkan dengan Indonesia, yang biasa ngasih fatwa itu MUI atau NU, bisa kebayang jago fikihnya.  

Pada suatu hari, Abu Hanifah-pencetus madzhab Hanafi-melihat anak kecil sedang bermain diatas tanah yang licin, lantas beliau menegur, “Awas! nanti kamu jatuh”.

Mendengar hal itu, anak tersebut menjawab, “Seharusnya anda yang lebih hati-hati, syekh, sebab tergelincirnya orang alim (salah memberikan fatwa) adalah bencana bagi umat”. Mulai saat itulah Abu Hanifah sangat hati-hati dalam menentukan hukum.

Disaat khalifah Umar ibn Abdul Aziz baru jadi khalifah, banyak dari kalangan mengirim rombongan utusan untuk mengucapkan selamat. Dari salah satu rombongan terdapat anak kecil yang menjadi perwakilan untuk mengucapkan selamat. Malihat itu khalifah berkata, “Apakah tidak sebaiknya orang yang lebih tua darimu yang berbicara?”

Seketika anak itu menjawab, “Wahai khalifah, kalau kemulyaan seseorang diukur dengan usia, maka anda tidak pantas menjadi khalifah karena masih banyak yang lebih tua”.

Pada suatu kesempatan, ketika Imam Malik sedang berfatwa, datang seorang anak muda, yaitu Muhammad ibn Hasan sahabat Imam Abu Hanifah. Anak muda itu bertanya, “Bagaimana pendapat anda, sekiranya ada orang junub tidak mendapatkan air kecuali di dalam masjid?”

“Orang junub itu tidak boleh masuk masjid”. Jawab Imam Malik. “ mendengar jawaban Imam Malik anak muda itu masih belum puas, maka dia bertanya agak spesifik, “Lantas apa yang harus dilakukan jika waktu shalat telah masuk dan tau kalau ada air (dalam masjid itu)?”

“Pokoknya orang junub tidak boleh masuk masjid” jawab Imam Malik lagi. Tapi anak muda itu masih belum puas.

“Kalau menurut kamu bagaimana?” Imam Malik balik bertanya.

“Kalau menurut saya, orang itu harus tayammum dulu, baru dia boleh masuk masjid dan mengambil air dalam masjid itu untuk mandi besar” seketika itu Imam Malik terkejut, dan bertanya pada murid-muridnya tentang anak itu.

Masih banyak kisah senada lainnya, yang jelas mereka pemuda generasi emas, tidak pemalas, apa lagi keluyuran malam. Mereka itulah yang melihat agama Islam sebagai inspirasi dan motivasi, bukan sekedar aspirasi.