Khauf dan Raja`

By: Hanif Muslim | 22 Februari 2021 | 373
Banyuanyar.net
Banyuanyar.net

Ketika awal-awal menjadi santri Banyuanyar terus terang hal pertama yang membuat saya terkesima dan kagum. bukan ketika menyaksikan megah dan bertingkatnya gedung-gedung pesantren, atau pun ketika mengikuti program-programnya yang hebat,  atau malah jadi ketika berjumpa dengan santri-santrinya yang ganteng dan cantik-cantik misalnya. haha 

kekaguman saya justru lahir ketika membaca motto yang ditulis pada dinding-dinding kayu masjid.  bagi saya itu adalah satu hal yang unik. Pondok sebesar dan semegah Banyuanyar tapi tidak seperti pesantren besar pada umumnya yang lebih memilih motto dengan bahasa yang melangit atau bahasa kerennya "asisisi" 

dari perjumpaan dan kekaguman itu muncul sebuah  keinginan dalam diri saya untuk menuliskan hasil pembacaan sederhana saya tentang apa yang saya tangkap dari tulisan yang ada di dinding masjid itu. Sebelum malas dan abai mendahului  melalaikan niat tulus itu. 

Saya membuatnya menjadi beberapa bagian saya mulai dari bagian pertama "tadhe' kabonga'an angeng Elmo se manfaat"  menurut saya kalimat ini berbicara tentang "totalitas dan optimisme"  hingga seakan-akan ia berbunyi "semangatlah"  "jangan setengah-setengah"  sebab Idealnya (bahagia) adalah menjalani hidup dengan ilmu yang bermanfaat, sedangkan ilmu yang bermanfaat tidak akan pernah diraih tanpa totalitas penuh. Ibarat botol yang setengahnya diisi air, sebagian lain dipenuhi bensin: bila diminum akan berbahaya bagi kesehatan, dijadikan bahan bakar kendaraan juga tidak baik untuk mesin. Seperti itulah gambaran hidup yang setengah-setengah (ilmu tidak bermanfaat).
 
Selanjutnya, pada bagian kedua "sareng tako' dhe' ka Allah" kalimat ini seolah-olah ingin  memberi kita sebuah cara dan nasehat bagaimana meraih ilmu yang bermanfaat itu?  "tako' dhe' ka Allah" (takwa) itulah kuncinya,  atau dengan kata lain bersikaplah khauf dan raja' kepada Allah dalam  menuntut ilmu, Analogi sederhananya untuk khauf-raja' adalah saat seseorang hendak menuju suatu tempat, pasti ia berharap (raja') agar bisa sampai dengan selamat. Di sisi lain ia pun khawatir (khauf) pada kendala yang mengganggu di tengah perjalanan. 
علامة الرجاء حسن الطاعة
"Indikator dari harapan ialah totalitas saat mengerjakan sesuatu."
Saat seseorang benar-benar berharap ingin sampai pada suatu tempat ia pasti mempersiapkan perjalanannya dengan baik: kesehatan jasmani, ongkos keberangkatan, bahkan hati yang setia dengan tujuan utamanya. Pun demikian dengan kecemasan, ia pasti menghindari hal-hal yang dapat mengganggu kelancarannya: tidak ugal-ugalan di jalan, mencari masalah dengan membuat pekak telinga orang dengan bunyi kenalpotnya apalagi menambrak pak polisi yang tidak sedang 'tidur'.

Dengan "harapan" kita akan terhindar dari putus asa, sedang rasa cemas membuat kita lebih serius menjalani cita-cita. Dengan demikian jika kita melaksanakan keduanya maka kita akan mendapatkan bagian yang ketiga "karena ghepanika se dheddi kaontongan Ben kamuljheen dunnyah akherat"