Ketika Allah Swt. Mengajari Nabi Musa Tentang Tauhid

By: Ach. Jalaludin | 09 Februari 2021 | 940
ilustrasi oleh jhalal
ilustrasi oleh jhalal

Ketika Allah Swt. Mengajari Nabi Musa Tentang Tauhid

Nabi Musa As. pernah mengeluhkan sakit perut kepada Allah SWT. Turunlah petunjuk untuk mengobatinya dengan tanaman rumput. Berkat izin Allah SWT, Nabi Musa As. sembuh setelah makan rumput tersebut

Nabi Musa mengalami sakit serupa beberapa waktu setelahnya. Berkat pengalaman sebelumnya, ia langsung mengonsumsi rumput itu kembali. Alih-alih sembuh, pemimpin Bani Israil ini makin parah sakitnya. Ia pun mengadu kepada Allah SWT.

"Ya Tuhan, dulu aku makan rumput itu Engkau memberikan manfaat atasnya. Namun saat aku memakannya lagi, penyakitku justru bertambah."

Allah SWT menjawab, "Sesungguhnya engkau pada kali pertama pergi padang rumput dengan memohon kesembuhan kepadaku, sehingga kesembuhan tercapai di dalamnya. Sedangkan pada kali kedua engkau pergi ke padang rumput tanpa berhara kepadaku, meliankan kau yakin saja bahwa rumput itu bisa menyembuhkanmu, sehingga penyakitmu bertambah. Apakah engkau tidak tahu bahwa dunia ini seluruhnya adalah racun mematikan. Dan penawarnya adalah nama-Ku. Ketahuilah Musa, sesungguhnya yang menyambuhkan itu aku lewat padang rumput tersebut, bukan kamu."

Sebuah pesan tersirat bagi orang-orang beriman dari peristiwa sakitnya Nabi Musa a.s. bahwa jangan pernah melupakan Dzat yang menggerakkan tangan dokter atau para penyedia jasa pengobatan lainnya.

Di kisah yang lain, sebagaimana telah kita ketahui, Nabi Musa dibuka hijab (penutup) sehingga dengan telinganya bisa mendengarkan kalam Allah yang bukan huruf (tulisan) dan bukan pula suara.  Dalam firman-Nya "wakallamallahu Musa taklima" bahwa Allah berfirman kepada Musa dengan sebenar-benarnya firman.

Suatu hari, kaumbnya meminta pada Nabi Musa As. “Wahai Musa, bukankah kau boleh berbicara dengan Tuhan? Kami ingin mengundangnya makan malam”

Nabi Musa as marah luar biasa, lalu ia berkata; ”Tuhan tidak pernah makan dan minum”

Ketika Nabi Musa As. datang ke gunung Sinai untuk berbicara dengan Allah, Allah SWT bersabda;
“Mengapa engkau tidak menyampaikan kepadaKu undangan makan malam dari hambaku?”

Nabi Musa as menjawab; “Engkau pasti tidak akan menerima undangan tidak santun seperti itu”

Allah S.W.T berfirman; “Simpan pengetahuanmu antara kau dan Aku. Katakan pada mereka, Aku akan datang menemui undangan itu.”

Turunlah Nabi Musa As. dari gunung Sinai dan mengumumkan bahwa Tuhan akan datang untuk makan malam bersama Bani Israil. Tentu saja semua orang, termasuk Nabi Musa As., menyiapkan jamuan yang amat mewah.

Ketika mereka sedang menyiapkan hidangan-hidangan terlezat dan mempersiapkan segalanya, seorang kakek tua muncul tanpa diduga. Orang itu miskin dan kelaparan, ia meminta sesuatu untuk dimakan.

Para koki yang sibuk memasak menolaknya; “Tidak, tidak, kami sedang menunggu Tuhan. Nanti ketika Tuhan datang, kita makan bersama-sama. Mengapa kamu tidak ikut membantu? Lebih baik kamu ikut mengambilkan air dari sumur!”

Mereka tidak memberi apa-apa untuk kakek malang itu. Waktu berlalu tetapi Tuhan ternyata tidak datang. Nabi Musa As. amat malu dan tidak tahu harus berkata apa kepada para pengikutnya.

Keesokan harinya, Nabi Musa As. pergi ke gunung Sinai dan berkata; “Tuhan, apa yang Engkau lakukan kepadaku? Aku berusaha meyakinkan setiap orang bahwa Engkau ada. Engkau Katakan, Engkau akan datang ke jamuan kami. Tetapi Engkau ternyata tidak muncul. Sekarang tidak ada yang akan mempercayaiku lagi.”

“Aku datang, jika kau memberi makan kepada hambaKu yang miskin, kau telah memberi makan kepadaku”

Artinya setiap amal kita hanya untuk Alla Swt. berbuat baik kepada seseorang yang membutuhkan sama saja kita berbuat baik kapada Allah. Menolong hamba yang membutuhkan itu juga menolong Allah. Dalam segala niat kebaikan, pasti kita peruntukkan hanya kepada Allah. Dengan sebab Allah-lah kita berbuat kebaikan.