Keistimewaan Salat Berjamaah dalam Membentuk Sebuah Kecerdasan Emosional

By: Naufal El Fany | 14 November 2022 | 168
Ilustrasi by @elfanynaufal
Ilustrasi by @elfanynaufal

Pembiasaan sholat berjamaah menjadi salah satu aspek penting dalam membentuk sebuah kecerdasan emosional. Dalam hal iniselain siswa terbiasa melaksanakan sholat berjamaah, juga diharapkan dengan ibadah sholat berjamaah siswa mencerminkan sikap selalu taat dan patuh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pembiasaan sholat berjamaah dalam membentuk sebuah kecerdasan emosional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan desainstudi kasus (single case) kasus tunggal. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh santri Banyuanyar. Sedangkan objek dalam penelitian ini yaitu pembentukan kecerdasan emosional dengan pembiasaan sholat berjamaah. Teknik analisis data menggunakan analisis interaktif dengan langkah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan dari hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pengaruh pembiasaan sholat berjamah dalam membentuk karakter dalam diri.

Adapun faktor pendukung dalam membentuk karakter peserta didik diantaranya adanya dukungan dari orang tua, komitmen bersama warga sekolah, dan fasilitas yang memadai. Sedangkan faktor penghambatnya diantaranya yaitu latar belakang peserta didik yang berbeda-beda, kurangnya kesadaran peserta didik, dan lingkungan atau pergaulan peserta didik.

Ibadah merupakan salah satu sendi dari pelajaran Islam yang harus ditegaskan. Keimanan seseorang itu harus dibuktikan dengan ketaannya dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Menjalankan ibadah merupakan sebuah bukti seseorang itu menjalankan perintah kepada Allah SWT, salah-satu ibadah yang harus dilaksanakan orang umat Islam adalah Shalat. Perintah shalat merupakan tradisi yang diwariskan semua Nabi dan Rasul sebagai salah satu bentuk ibadah kepada Allah SWT. Seiring dengan perkembangan zaman, terkadang kita menajalankan shalat sekedar menjalankan perintah-Nya saja. 

Menurut Said Hawa yang dikutip oleh Gus AA menjelaskan tentang Shalat merupakan poros inti hubungan antara manusia dengan Tuhanya, disamping juga merupakan poros inti untuk menghidupkan makna-makna keimanan dalam hatinnya. Selain itu shalat merupakan bukti penghambaan seseorang kepada Allah SWT. Shalat merupakan ibadah yang wajib dilakukan oleh setiap insan manusia yang beragama Islam, shalat ini dilaksanakan lima kali dalam sehari semalam. Sholat yang dilakukan secara intensif dapat berguna untuk menumbuhkan perbuatan- perbuatan baik, dan juga dapat menghindarkan dari perbuatan tercela. Agar ketenangan dan ketentraman hati selalu menemani dalam hidupnya, maka hatinya harus selalu ingat kepada Allah, dan agar hati selalu ingat kepada Allah, maka kontinuitas dan kualitas (kekhusuan) shalatnya harus dijaga. Dengan kata lain, apabila seseorang tidak dapat menjaga kontinuitas dan kualitas shalatnya, maka gelisah tidak mungkin akan dipisah dari dirinya. Hal ini menunjukkan bahwa shalat merupakan ibadah yang mempunyai manfaat bagi diri seseorang untuk menentramkan jiwa dan raganya, agar emosi yang ada dalam diri seseorang dapat dikendalikan dan dapat menghindarkan seseorang dari kegelisahan hati.

Kecerdasan emosional mempunyai tolok ukur seperti integritas, komitmen, konsistensi, dan totalitas. Robert K. Cooper, Ph.D. dan Ayaman Sawaf memberikan suatu metode untuk meningkatkan kecerdasaan emosional yaitu meluangkan waktu dua atau tiga menit dan bangun lima menit lebih awal daripada biasanya, duduklah dengan tenang, pasang telinga hati. Dengan seperti ini secara langsung akan mendatangkan kejujuran emosi (hati). 

Dengan ketenangan yang diperoleh individu melalui shalat, individu akan lebih mampu mengenali emosinya, dan mengelola emosinya dengan lebih baik dan terarah. Dan dengan adanya nilai sosial dan kebersamaan yang terdapat dalam shalat berjamaah, dapat meningkatkan rasa social dan empati, dapat meningkatkan kemampuan diri dalam menyesuaikan lingkungan dan masyarakat, memotivasi dirinya untuk bertindak dalam cara yang sesuai dengan tuntutan lingkungan, mengenal emosi orang lain, serta membina hubungan yang harmonis dengan orang lain, yang merupakan poin-poin penting yang menunjukkan kualitas emosional bagi keberhasilan seseorang.

Shalat secara bahasa (etimologi) berarti Do’a. Sedangkan secara istilah (terminologi) berarti satu macam atau bentuk ibadah yang diwujudkan dengan melakukan perbuatan-perbuatan tertentu disertai dengan ucapan-ucapan tertentu dan dengan syarat-syarat tertentu pula. Allah SWT berfirman dalam Q.S Al- Ankabut: 45

   اتل ما أ حيإليك من الكتاب واقم الصلوة, إن الصلوة تنهى عن الفحشاء والمنكر, ولذكرالله أكبر, والله يعلم ما تصنعون.45

Artinya: ”Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S Al- Ankabut : 45).

Pengertian sholat di atas dapat disimpulkan bahwa shalat adalah perkataan dan perbuatan yang diawali dengan takbiratul ihrom dan diakhiri dengan salam. Shalat jamaah adalah shalat yang dilakukan oleh dua orang atau lebih baik dengan salah seorang menjadi imam (ikutan) sedangkan yang lain mengikutinya atau menjadi makmumnya. Shalat berjamaah adalah shalat yang dilakukan oleh orang banyak bersama-sama, sekurang-kurangnya dua orang, seorang diantara mereka yang lebih fasih bacaanya dan lebih mengerti tentang hukum Islam dipilih menjadi imam. Dia berdiri di depan sekali, dan lainnya berdiri di belakang sebagai makmum/pengikut.      

Hukum shalat berjamaah adalah sunnah muakaddah (sangat dianjurkan), berdasarkan Firman Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat 102: “Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu,lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu”. (QS. An-Nisa’:102). 

Dari Ibnu Umar Rasulullah SAW beliau bersabda: Artinya: “Dari Ibnu Umar ra. Berkata: Rasulullah SAW bersabda: ”Shalat berjamaah lebih utama pahalanya dari pada shalat sendirian, sebanyak dua puluh derajat kelebihannya dibandingkan dengan shalat sendirian”. (HR. Bukhari dan Muslim).     

Dikalangan para ulama’ terjadi berbeda pendapat mengenai hukum shalat berjamaah.

Namun setidak-tidaknya di antara mereka berpendapat bahwa hukum shalat berjama’ah adalah sunat muakkad kecuali shalat jum’at. Pahalanya 27 derajat dibandingkan dengan shalat sendiri. 

Dengan melaksanakan shalat berjamaah, umat Islam akan merasakan kebersamaan, persaudaraan, sehingga kegairahan dalam beragama dan beribadah akan meningkat. Sebagai mana pendapat sebagian ulama’ Malikiyah, atau fardhu kifayah seperti pendapat kebanyakan ulama’ dan sebagian ulama’ Syafi’iyah.

Kecerdasan emosional (emosional intelligence) berasal dari kata emotion berarti emosi dan intelligence berarti kecerdasan. Inteligensi adalah kemampuan potensial umum untuk belajar dan bertahan hidup, yang dicirikan dengan kemampuan memecahkan masalah. Kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mengenali, mengolah, dan mengontrol emosi agar anak mampu merespons secara positif setip kondisi yang merangsang munculnya emosi-emosi ini. Menurut Peter Salovey dan Jack Mayer yang dikutip oleh Dakir dan Sardimi, mendefinisikan kecerdasan emosional adalah suatu kemampuan untuk mensinergikan antara perasaan dengan pikiran, melalui kenali, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu pikiran, memahami perasaan dan maknanya, dan mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual. Kecerdasan emosi adalah kemapuan untuk mengenali, mengolah, dan mengontrol emosi agar anak mampu merespons secara positif setiap kondisi yang merangsang munculnya emosi-emosi ini, dengan mengajari anak-anak ketrampilan emosi dan sosial, mereka akan lebih mampu untuk mengatasi berbagai masalah yang timbul selama proses perkembangannya menuju dewasa. Tidak hanya itu, dengan ketrampilan emosi dan sosialnya, anakpun akan lebih mampu mengatasi tantangan-tantangan emosional dalam kehidupan modern. Jadi, dapat disimpulkan kecerdasan emosional adalah kemampuan mengendalikan, mengenali, dan merasakan baik perasaan diri sendiri maupun orang lain, sehingga mampu merespon positif setiap kondisi yang merangsang munculnya emosi-emosi.

Daniel Goleman mengungkapkan ciri-ciri anak yang mempunyai kecerdasan emosional adalah sebagai berikut

1. Mampu memotivasi diri sendiri.  

2. Mampu bertahan menghadapi frustasi.   

3. Lebih cakap dalam menjalankan jaringan informal atau non verbal seperti jaringan komunikasi, jaringan keahlian, dan jaringan kepercayaan.  

4. Mampu mengendalikan dorongan lain.  

5. Cukup luwes untuk menentukan cara alternatif agar sasaran tetap tercapai atau mengubah sasaran jika sasaran awalnya dirasa sulit.  

6. Memiliki rasa empati yang tinggi.  

7. Mempunyai keberanian untuk memecahkan masalah.  

8. Merasa cukup banyak akal untuk menemukan cara dalam meraih tujuan.        

Didalam Islam hal-hal yang berhubungan kecakapan emosi dan spiritual seperti konsistensi (istiqomah), kerendahan hati (tawadlu), berusaha dan berserah diri (tawakal), ketulusan (keikhlasan), totalitas (kaffah), keseimbangan (tawazun), penyempurnaan (ihsan) semua itu dinamakan Ahlakul karimah. Dalam kecerdasan emosional, hal-hal diatas menjadi tolok ukur kecerdasan emosional seperti integritas, komitmen, konsistensi, sincerety, dan totalitas. Oleh karena itu, bahwa kecerdasan emosi sebenarnya akhlak di dalam agama Islam.      

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa shalat sangat bermanfaat bagi kesehatan jasmani dan rohani. Dengan shalat jiwa akan menjadi lebih tenang hal ini akan mempengaruhi perilaku sesorang dalam kehidupan sehari-hari dengan orang lain atau masyakarat dilingkungannya. Selain itu, sesorang yang sudah terbisa melakukan kegiatan shalat berjamaah akan menumbuhkan perilaku yang lebih baik, meningkatkan kedisiplinan didalam kehidupannya, bisa bergaul dengan teman sebaya yang sehat. Menambah keimanan, dan ikhlas beribadah kepada Allah SWT. 

Karena didalam agama Islam, kecerdasan emosional sebenarnya adalah akhlak karimah yang didalamnya menunjukkan bagaimana seseorang itu membangun sebuah hubungan yang baik dengan orang lain di sekitarnya.

Sovi Alfi Navilah (Mahasiswi STAI Darul Ulum Banyuanyar Jurusan Menejemen Pendidikan Islam)