Jomblo Sampai Halal

By: Ahmad Imron | 15 Oktober 2019 | 321
Jomblo Sampai Halal foto: Oldig BM team
Jomblo Sampai Halal foto: Oldig BM team

Jomblo jika dikaitkan dengan era sekarang jauh berbeda dengan makna aslinya, berkembangnya makna dalam kata jomblo, sejatinya mengikuti zamannya. Istilah jomblo jika dijadikan status dalam diri remaja sekarang seakan-akan mengundang banyak perselisihan. Entah hal yang menjatuhkan jati diri seseorang, yang katanya kalau berstatus jomblo bisa dicap sebagai insan yang ketinggalan zaman, jadul dan tak gaul. Parahnya lagi, jika berstatus jomblo (tidak pacaran) dikira sok alim, sok suci, sok bersih dan sok sok yang lain. 


Perkembangan manusia jomblo bisa meningkat jika kita tau aturan Syariat Islam. Dari hal tersebut, banyak yang perlu dijadikan moment kebaikan yang bermanfaat untuk dapat menghindarkan maksiat yang dosanya berlipat-lipat, semisal pacaran. Pacaran menyita banyak peribadahan yang kita lakukan, 24 jam terbuang sia-sia hanya untuk menelfon sang kekasih, SMS dan Chatting yang semua itu terkadang jauh dari hal yang bersifat postif, selalu ingin membuat sang kekasih bahagia dengan berbagai cara yang banyak menyita waktu, akhirnya ibadah kepada Sang Khaliq terlupakan dan terbengkalai tak karuan, dosa pun menjadi indikasi dari itu semua.


Secara etimologi jomblo adalah perempuan tua yang tidak laku-laku atau perawan tua. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, terjadi perluasan makna pada kata jomblo. Kini, jomblo dimaknai sebagai julukan ‘trendi’ buat mereka (baik laki-laki maupun perempuan) yang masih sendiri. Sedangkan dalam Islam, jomblo itu ialah seorang yang belum mampu menikah, lalu dalam Islam pun menganjurkan pemuda yang masih jomblo itu hendaknya berpuasa. 
“Wahai para pemuda, barang siapa diantara kamu sekalian yang telah mampu, maka hendaklah menikah, karena sesungguhnya menikah itu dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan, dan barangsiapa yang belum mampu menikah, maka berpuasalah, karena dengan berpuasa dapat menjadi penghalang (benteng) untuk melawan nafsu” (HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah dan At-Tirmidzi).


Jomblo, sekarang menjadi aib bagi kaum pemuda-pemudi, jika menyandang status tersebut. Seakan-akan mengharuskan untuk pacaran. Selain dengan beribu alasan yang diungkapkan. Salah satunya, jika kita berpacaran kita akan menghapus kesedihan hati yang sering kali menjelma di kehidupan sehari-hari. Penulis kira tidak harus berpacaran untuk menghapus kesedihan, malah kalau kita pacaran semakin mengundang mindset yang amburadul dan pikiran kita seoalah-olah semakin tidak sadar akan bahayanya berstatus pacaran itu. Kita dihipnotis oleh perasaan yang dihasut setan, sehingga kita tak sadar bahwa kebahagiaan yang dirasakan dalam pacaran adalah wujud palsu dari kesedihan yang akan kita dirasakan. 


Berpegangan tangan, berpelukan dan tak jarang sering menuju pada tindakan yang seharusnya dilakukan setelah pernikahan terjadi dan merugikan diri sendiri, khusunya bagi para muslimah, parahnya lagi jika si laki-laki tidak bertanggung jawab. Mana sisi manfaat pacaran? Tak ada kan? Maka dari itu gunakan masa remaja itu dengan tindakan yang berujung pahala dan manfaatkan waktu yang Allah SWT sediakan selama 24 jam dengan tindakan yang bernilai positif. 


Bersabar dalam status menjomblo merupakan hal yang mulia dalam agama Islam. Banyak menfaat yang bisa diperoleh oleh muslimah yang tetap setia dan merasa happy pada kejombloannya sampai ikatan halal menjemputnya. Dalam hadis Nabi pun dijelaskan “Sebagian dari keindahan keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat” (HR. Ibnu Majah).


Oleh karena itu jomblo mengajarkan kita untuk jauh dari maksiat, mengembangkan diri dan tidak membuang waktu. Bagi penulis selaku remaja, jomblo bukanlah aib melainkan status yang baik untuk disandang oleh semua remaja era sekarang dengan tujuan ‘Jomblo Sampai Halal’.

Maron Al-Hafdzoh
LPM "NUN" STIBA DUBA Pamekasan