INIKAH, AKU?

By: Hikam | 10 Oktober 2018 | 72
Ilustrasi cerpen
Ilustrasi cerpen

Ah!

Aku heran pada semua orang. Setiap aku menghampirinya, tiada lain hanya bermaksud untuk berkenalan dan bermain bersamanya. Tapi, aku masih belum sampai kehadapannya. Mereka malah kabur, ketakutan. Seperti dikejar-kejar setan. “Emangnya, diriku setan gitu?” ucapku membatin. kurasa  tidak. Walaupun sekian banyak orang yang bertemu dengan diriku, tak ada satu pun yang pernah aku dengar dari sela-sela ketakutan mereka, lontar sebuah ucap dengan sebutan ‘Setan!’. Hanya saja, mereka kabur dengan sendirinya, berlari sekuat tenaga. Sehingga, ada yang berjatuhan. Tapi, masih saja bangkit kembali.

Mengherankan sekali bukan?

Andai kalian tahu. Berapa tahun yang lalu, aku sempat bermain-main ke kota Aceh Darussalam. tepatnya, di tepi pantai yang banyak sekali orang-orang sedang asyik-asyiknya bermain  disana dengan melontarkan gelak-tawa disela-sela keasyikannya itu. Ada yang masih anak-anak dibawah umur, sudah remaja, dewasa. Bahkan, ada yang sudah tua sekali pun juga ada. Bermacam permainan yang mereka mainkan. Diantaranya bermain sepak  bola, volly, petak umpet, menumpuk pasir hingga, menjadi Istana, rumah-rumahan, saling hemburan-hemburan air satu sama lain, ada pula yang kejar-kejaran dan masih banyak lagi.

Semua itu, membuatku tertarik dan ingin untuk bergabung bersamanya. Aku merasa selama ini, tiada seorang pun yang mau menjadi teman sepermainanku. Entah, aku tak tahu alasan mereka apa. Sebegitu teganya semua orang pada diriku yang hanya menjadi seorang diri saja, tak punya siapa-siapa yang bisa aku ajak bermain, curhat, dan... Ah, tak bisa aku sebutkan satu persatu.

Ya, siapa tahu orang-orang disini baik hati dan mau menerimaku sebagai temannya. Kan sifat orang itu semuanya tak ada yang sama. Ada yang baik dan ada pula yang buruk, ya. Kan?

Aku pun berangkat dengan langkah lirih. Disela-sela langkahku, kadangkala aku merangkak dan kadangkala melompat-lompat. Ya, sampai kapan lagi aku akan mempunyai teman. Jikalau, tidak harus berjuang dan mengorbankan diriku.

“HUAKH….!!!” Ucapku  seru. Mengagetkan mereka yang tengah asyik-asyiknya  bermain di dekat pantai itu.

Tapi, tiada ada gelak-tawa mereka yang aku dengar, hanya saja teriakan histeris yang tak jelas dan berlari tergesah-gesah yang tak beraturan. Setelah  mereka mengetahuiku sudah berada di dekatnya. Dan semua permainanya, yang dimainkan itu ditinggalkan. Mereka tidak mememikirkan walaupun, barang-barang mereka begitu berharga. Begitu pula harganya, yang lumayan mahal. Malah mereka lebih memilih berlari dari pada membawanya, dari saking takutnya pada diriku. Entahlah, mereka ada yang lari ke balik batu besar. Balik pepohonan, ke atas tower, melewati jalan yang sempit dan lain sebagainya.

Sungguh, mereka tak perduli. Walau jalan yang dilewatinya sangat sempit, dan banyak bebatuan yang tajam. Sehingga, ada yang kakinya berdarah. Namun, tetap saja berlari. Mungkin diriku teramat sangat buruk, buat mereka. Sehingga, mereka mau mengorbankan dirinya terluka, sebab seringnya jatuh. Ya, semata-mata hanya demi menjauh dari aku.

Setelah, aku berfikir kembali. Mungkin saja mereka mau mengajakku untuk bermain  petak umpet. Kalau, tidak percaya lihat saja, mereka berlarian dengan bersembunyi. Disela-sela pelariannya, mereka menoleh kearahku. Ya, aku akan mengejarnya kemanapun mereka pergi dan begitu pula mencarinya dimana pun mereka bersembunyi.

“Aku pasti menemukan kalian !” ucapku kemudian. Penuh semangat.

Aku semakin mempercepat pelarianku. Hey! Lihatlah, aku menemukan seseorang yang masih mencari tempat untuk bersembunyi, dan ada pula bayi yang juga ikut berpartisipasi akan pemainan ini. Sungguh, menyenangkan, bukan?

Yes! Akhirnya, aku berhasil menangkapnya, kurangkul mereka, ada beberapa orang yang kuraih saat ini. Tapi, mengapa mereka jadi pingsan, tubuhnya lemah dan tak bergairah. Tapi, sudahlah, aku biarkan saja mereka terbaring di tempat ini. Aku akan mencari yang lainnya.

Aku berlari lebih semangat lagi, walaupun terasa lelah tak peduli apa-apa. Dari saking asyiknya  bermain bersama teman baruku ini. Aku pun melewati koridor-koridor rumah-rumah sampai memasuki pasar yang jalanya agak sempit, disitulah banyak orang  kutemukan, dan begitu pula yang ikut andil atas permainan ini. Semakin banyak peserta,  semakin seru pula permainan ini.  Ada juga yang bermain curang dengan memakai kendaraan  bermotor dan mobil. Meskipun mereka ada yang memakai hal seperti itu, aku pasti bisa menangkapnya.

Nah, apa aku bilang, dengan sekejap mata aku bisa menangkapnya. Ya, memanglah pantas diriku dikatakan jagoan yang tak ada tandingannya. Hehe..

Tak kurasa sudah setengah  hari, aku bermain dan bisa menempuh perjalanan yang cukup jauh yang kira-kira mencapai kiloan meter. Aku pun memilih berhenti tepat di depan Masjid Baiturrahman, rasa lelah terasa.  Hanya saja, rasa seru yang tak terasa sudah sejauh ini aku mengejar mereka.

Akan tetapi, entah mengapa sejak dari pertama kali menangkap mereka, semuanya menjadi pingsan dengan keadaan terdampar di tanah. Mungkin mereka dari saking takutnya pada  diriku? Ataukah mereka mau mengakal-akalkanku?. Ah, entahlah…

***

Delapan tahun sudah, aku mencari teman kemana-kemana. Namun, tak kunjung kutemukan yang bisa menerimaku sebagai temannya. Aku hanya   bisa  sedih selain tak punya teman. Aku juga tidak punya orang tua dan sanak keluarga. Bahkan, kerabatpun aku tidak punya. Sejak kecil diriku besar dengan seorang diri, tanpa ada yang merawatnya. Disamping itu, aku tidak sempurna dari anggota tubuhku, diantaranya kedua tangan, kaki, telinga, mata tidak bisa melihat dan wajah ku tak jelas bentuknya. Ya, diriku memanglah menyeramkan. Pantas saja mereka ketakutan saat melihatku.

Usahaku, tidaklah sampai disini untuk mendapatkan teman. Karena, aku yakin tidak semua orang krakternya sama. Saat ini juga, diriku berada di Negara besar Jepang. Disana  banyak orang yang sedang asyik-asyiknya berpesta pora para lelaki maupun perempuan. Baik muda, remaja bahkan sudah tua sekali pun ada disana. Namun, aku tak begitu suka dengan etikanya. Tapi, tak apalah kan Cuma berteman bukan ingin mengikuti yang jelek-jeleknya. Lagian, orang sana familiar banget, loh. Tak memandang ras, agama dan lain sebagainya untuk di jadikan teman.

“Hey, bolehkah aku ikut?!” tanyaku setengah berteriak dari jejauhan sembari berlari menujunya yang tengah membentuk sebuah kelompok dengan di warnai gelak-tawa yang begitu membahana. Aku tak tahu apa yang mereka kerjakan. Didalam sana.

Satu. Dua. Ah! Tiga detik. Sudah.

Namun, tiada respon dari mereka, hanya saja memilih tetap asyik dengan pribadinya. Aku semakin mempercepat berlariku menujunya dengan sekuat tenagaku. Ada salah seorang diantara mereka melihatku dia langsung berteriak sekeras mungkin. Lalu, berlari dengan diikuti yang lainnya. Mereka lari teramat sangat cepat sekali, tiada bedanya dengan yang di Aceh Darussalam dulu.

“Hey! Jangan lari. Aku hanya mau jadi teman kalian!” teriakku sangat lantang sembari terus berlari mengejarnya.

Mereka tak mau kalah saing, semakin mempercepat pula pelariannya. Mereka berlari menuju jalan yang berbeda-beda. Bahkan, ada yang lari ke gedung tinggi. Mungkin sekiranya diriku tidak bisa menjangkaunya. Namun, mereka salah fatal, aku sangat bisa menjangkaunya. Walau banyak barang yang berharga dan berat-berat yang sempatku bawa dari berbagai tempat yang melekat pada tubuhku.  Tapi, rasa berat itu mah biasa bagiku. Tak memandang kecil-besarnya, semuanya aku bawa belari mengejar mereka.

Hey! Lihatlah diatas sana, banyak pesawat beterbangan dan beberapa kerlap-kerlip kamera CDRL mengarah padaku. Mungkin mereka heran karena, tak pernah melihatku sebelumnya. Begitu terlihat aneh seperti ini. Sehingga, aku perlu dimasukkan ke media-media masa baik cetak maupun yang lainnya. Hmmmzz  seperti artis gitu-lah, aku. Sungguh, tak pernah aku bayangkan walaupun sejelek diriku. Tapi, masih banyak peminatnya untuk menampilkan pada medianya. lebih mengherankan lagi mungkin, bagunan tinggi bisa aku patahkan dengan tidak terlalu banyak membuang keringat. Sebab, aku mencari mereka dan mengejarnya dengan susah payah namun, hasilnya tetap sama dengan yang di Aceh, terjatuh, lalu pingsan. Sungguh, Mengherankan, bukan?.

***

Tanda-tanya besar tetap saja, bersarang dibenakku. Kenapa tiada seorangpun yang mau berteman denganku? Meski, Aku sudah bertahun-tahun lamanya mencari seorang teman semata. Namun, hasilnya tetap nihil tak ada seorang pun yang mau. Walaupun, aku sudah berkelana kemana-mana demi butuhnya diriku pada seorang teman. Tapi, semuanya tak ada hasil yang positif.

Apakah aku memanglah tercipta tidak mempunyai siapa-siapa di dunia? Tidak sempurna? Membuat semua orang ketakutan? Bagunan dirobohkan? Membuat kerusakan? Ladang-ladang, pepohonan berdiri rapi penuh kehijauan, peralatan mahal teramat sangat berharganya. Semuanya rata dengan tanah, ludes tak berguna. Dan membuat semua orang meninggal dunia, yang menurutku dulu hanya pingsan belaka dan aku biarkan terdampar ditanah-tanah begitu saja. Semuanya tak tersisa sampai bayi tak berdosa pun jua.

Baru kali ini, aku mencoba untuk memahami semua ini, jikalau fakta dan realitalah yang mengatakan sendiri. Aku tercipta seperti itu, penuh perbedaan dan membuat kerusakan yang spritual dimuka bumi. Jikalau, penghuninya sendiri yang membuatnya terlebih dahulu. Sebagaimana firman Allah:

Aku memanglah awalnya tak percaya akan namaku yang begitu menakutkan walaupun, kedengarannya saja. Namaku sempat mendengarnya dulu saat berada di Aceh hingga, ke Jepang pun juga sama. Kata penyebutannya pun tak ada yang berbeda. Mendengar itu, aku langsung tanggap. Sebab, mereka yang mengatakan seperti itu sembari menoleh padaku, tengah berlari ketakutan. Bahkan aku sempat tak mau menerimanya. Karena, namaku yang membuat semua orang ketakutan dan tak mau menerima diriku sebagai temannya. Hanya gara-gara nama. Tapi, dengan keadaan terpaksa mau tak mau, aku harus menerima apa adanya, terhadap takdirku yang Allah swt berikan padaku sebagai ciptaan-Nya, dan memanglah diriku sampai kapanpun tak pernah bisa berteman dengan manusia, tumbuhan, hewan, rerumahan dan lain sebaginya yang ada di muka bumi  ini. Kecuali, mahluk yang bisa hidup didalam lautan. Karena diriku adalah Tsunami yang banyak di takuti oleh para mahluk ciptaan Allah yang tak bisa hidup dalam alamku.(*)

Banyuanyar, 29 November 2015

Chandra Mahesa