Hermeneutika Sebuah Metode Interpretasi Dalam Kajian Filsafat Sejarah

By: Ahmad Imron | 08 Juni 2022 | 120
Sumber : Internet
Sumber : Internet

Oleh: Muhammad Hasbullah

Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Suka Jogja

Hermeneutika merupakan sebuah metode interpretasi terhadap sebuah simbol baik berupa teks atau lambang lainnya. Dalam perkembangannya sebagai metode hermeneutika banyak dianut oleh berbagai disiplin ilmu demi mengungkapkan makna yang tersirat dalam sebuah simbol atau teks. Salah satu disiplin ilmu yang menggunakan hermeneutika sebagai metodenya adalah sejarah. Sejarah menggunakan hermeneutika pada bagian interpretasi. Tujuan dari penelitian ini untuk menunjukan pentingnya hermeneutika dalam kajian filsafat sejarah. Metode penelitian yang diterapkan adalah kualitatif deskriptifanalisis. Hasil dari penelitian ini menunjukan beberapa hal, diantaranya yaitu, varian atau jenis-jenis dalam hermeneutika mulai dari hermeneutika romantis milik Friedrich Ernst Daniel Schleiermarcher, hermeneutika metodis karya Wilhelm Dilthey, hermeneutika fenomenologis yang dibangun oleh Edmund Husserl, hermeneutika dialektis dengan eksemplar Martin Herdegger, hermeneutika kritisnya Jurgen Habermas, dan hermeneutika milik Paul Ricouer yang sering digunakan dalam teks sastra serta yang terakhir metode hermeneutika dekonstruksionis hasil pemikiran Jacques Derrida. Selain itu dibahas juga alasan hermeneutika menjadi sebuah metode dalam filsafat sejarah dan bagaimana cara memahami filsafat sejarah dengan hermeneutika. Sehingga penelitian ini berfokus pada hermeneutika sebagai metode penafsiran teks dalam filsafat sejarah dan varian yang sering digunakan dalam hermeneutika pada kajian filsafat sejarah. Hal ini dilakukan demi membatasi terlalu luasnya objek kajian dalam penelitian.

Hermeneutika jika dilihat asal usul bahasanya berasal dari bahasa Yunani, yaitu hermeneia yang berarti penafsiran, kemudian bahasa itu dikembangkan menjadi hermeneuein yang artinya menafsirkan. Namun pada intinya kedua kata tersebut memiliki keterkaitan erat dengan dewa mitologi Yunani yang bernama Hermes atau Hermeios. Hermes dianggap memiliki tugas dalam menyampaikan dan menerjemahkan pesan dari dewa Olympus ke dalam bahasa manusia, agar manusia tersebut dapat mengikuti kehendak dewa (Palmer, 2003). Hal utama dari hermeneutika secara konsekuensif adalah memastikan dari sebuah kata, kalimat, teks, ataupun sebagainya. Bentuk-bentuk simbolis dari pemahaman instruksi juga berkaitan dengan hermenutika. Maka dari itu, hermeneutika erat kaitannya dengan kegiatan penafsiran dan pemahaman makna (Saidi, 2008). Hermeneutika dianggap sebagai paradigmatik bagi yang memahami filsafat. Namun bagi pihak yang kurang memahami istilah dan makna dari hermeneutika, beranggapan bahwa hal utama dari hermeneutika adalah penafsiran yang segalanya bersifat subjektif. Filsafat mengartikan bahwa hermeneutika merupakan kerangka filsafat atau paradigma untuk bisa paham dengan segala aspek, baik politik, agama, ilmu, hukum, seni, dan lainnya (Puspitadewi, 2007). Pada dasarnya hermeneutika adalah refleksi tentang upaya pemahaman, dalam konteks sejarah upaya pemahaman teks, simbol dan lainnya dilakukan dari berbagai aspek tersebut dilakukan untuk kesadaran historis (Gadamer, 2010). Sebagai sebuah praktik dan salah satu cabang ilmu pengetahuan, hermeneutika dalam sejarah sebagai metodologi penafsiran teks. Penafsiran teks harus melalui kajian-kajian filosofis dan berbagai macam teori, jika tahapantahapan tersebut sudah dilakukan maka munculah hermeneutika sebagai disiplin ilmu pengetahuan dengan penafsiran teks sebagai sumber-sumber (Raharjo, 2012). Makna hermeneutika dalam proses menginterpretasi suatu sumber, teks, simbolsimbol, maupun peristiwa sejarah, hermeneutika harus sampai pada pemahaman yang paling mendasar, karena hermenutika itu sendiri tidak hanya sekedar memahami, namun sebuah alat bantu dalam memahami dan memaknai sejarah sekaligus menjembatani antara pengalaman dahulu dengan kondisi saat ini. Bagi ahli sejarah atau orang yang sedang memahami sejarah, hermeneutika lebih penting dari teori-teori atau argumentasi (Ankersmit, 1987). Pemahaman objek sejarah tidak hanya teks atau sampai peristiwa sejarah saja, melainkan perilaku tokoh sejarah pun dapat ditafsirkan. Oleh sebab itu hermeneutika mempunyai peran penting dalam hal memahami sejarah yang memaparkan dan menjelaskan peristiwa yang menyangkut manusia berdasarkan teks maupun peristiwanya. Pemaparan dan penjelasan tersebut dapat dijadikan bahan kajian oleh manusia saat ini dan untuk merancang masa yang akan datang (Rowse, 2015). Dalam memahami sejarah yang terindikasi dalam kajian sejarah hanya beragam kejadian, institusi, dan pribadi yang memiliki signifikasi secara historis, yakni cukup mempunyai pengaruh terhadap lingkungan yang baru dimana kajian tersebut berada. Kajian tersebut tentunya memiliki manfaat untuk lingkungan baru dan sebagai bahan kajian saat ini untuk yang lebih baik di masa yang akan datang (Madjid & Wahyudhi, 2014). Hermeneutika memiliki proses yaitu mendalami sebuah objek sejarah yang dikaji, dalam proses ini melibatkan pemahaman jalan pikiran orang lain. Makna dari memahami hal ini untuk menghayati sebuah objek sehingga menghasilkan pertanyaan baru bahkan kesimpulan yang didapat. Ahli sejarah atau seseorang yang sedang memahami sejarah sering berinteraksi dengan objek yang dikajinya, interaksi tersebut tentu tidak hanya dengan teks saja, namun dengan pelaku dalam peristiwa tersebut menimbulkan hal baru untuk dikaji. Dalam pengkajian sejarah hermeneutika dianggap penting, dalam arti yang digunakan dalam pemahaman sejarah, hermeneutika adalah menafsirkan teks-teks dari masa lalu dan menerangkan perilaku seorang pelaku sejarah. Perbedaan dari kedua arti antara menafsirkan dan menerangkan yaitu menafsirkan identik dengan kesatuan data-data maupun teks, sedangkan menerangkan adalah pemberian jawaban atas perilaku yang dilakukan oleh pelaku sejarah (Ankersmit, 1987).