FKMSB Yogyakarta Gelar Musywil

By: Faisal Amir | 24 Maret 2019 | 91
Acara Musywil FKMSB Jogja (foto by: FKMSB Jogja)
Acara Musywil FKMSB Jogja (foto by: FKMSB Jogja)

YOGYAKARTA, banyuanyar.net - Forum Komunikasi Mahasiswa Santri Banyuanyar (FKMSB) gelar Musyawarah Wilayah (MUSYWIL). Acara tersebut merupakan agenda yang diselenggarakan setiap tahun pada akhir kepengurusan. Tahun 2019 ini adalah MUSYWIL KE-XIV dengan mengangkat tema "Mencetak Kader yang Berintelektual dan Aktif Dalam Berkarya". Acara ini bertempat di Omah PMII Yogyakarta Jl. Sorowajan Lama Gg. Puntodewo (24/03) dengan dihadiri anggota FKMSB Yogyakarta dan majlisunnadwah. 

Ahmad Khotib selaku ketua panitia menyampaikan banyak terimakasih kepada yang terhormat majlisunnadwah dan semua anggota FKMSB Yogyakarta yang telah menyempatkan hadir dalam acara ini. 

Dengan menyetir ungkapan Bung Karno "Beri aku satu pemuda, maka akan ku goncangkan dunia" bahwa merdekanya indonesia ini tidak lepas dari perjuangan para pemuda. Tahun 1945 dengan semangat jerih mereka berkorban untuk Indonesia bahkan nyawa menjadi taruhan. Melalui konteks tersebut kemudian ada sebuah pertanyaan, bagaimana kemudian dengan pemuda sekarang? Apa kiprahnya untuk negeri tercinta? Maka dari kegelisahan teman-teman bersama diharapkan agar anggota FKMSB menjadi generasi yang berintelektual serta berkontribusi juga menghasilakn karya untuk negeri. Jelas panjang lebar mahsiswa UIN Sunan Kalijaga tersebut jurusan Ilmu Hadist. 

Mencetak kader yang berilmu tinggi dan membuahkan karya yang bisa dinikmati oleh semua kalangan bakan dunia. Sebab ilmu merupakan kualitas dan identitas diri manusia. Ilmu yang tinggi adalah indikasi bahwa orang tersebut berintelektual. Dan denga karya hal itu akan bermanfaat untuk orang lain bahkan dunia. 

"Mewakili jajaran panitia acara saya mengucapkan mohon maaf jika dalam acara ini didapati banyak kekurangan baik dari pelayanan panitia, tempat maupun suguhan" Ungkapnya mengakhiri sambutan. 

Madhur M Alif selaku Kordinator Wilayah priode 2018-2019 dalam sambutannya juga mengucapkan banyak terimakaih khususnya kepada segenap panitia yang telah bersemangat jerih payah untuk mensukseskan acara ini. 

"Tema lebih spesifik pada mencetak. Jadi bagaimana kemudian agar anggota FKMSB bisa membuhkan karya dan berintelektual. Juga agar semua anggota terlebih para senior untuk memikirkan gerak FKMSB selanjutnya agar FKMSB menjadi lebih baik dan harum di dunia" papar mahasiswa UIN Sunan Kalijaga dengan disambut teput tangan gemuruh peserta MUSYWIL. 

"Masa kepengurusan satu tahun terasa sangat cepat, padahal MUSYWIL sebelumnya baru tahun yang lalu" Dawuh KH. Affan Hasyim membuka pembicaraan dalam sambutannya. Pertama atas nama pribadi dan pengurus majlisunnadwah mengucapkan banyak terimaksih kepada kepada mas Madhur dan kawan-kawannya yang telah mengabdi di FKMSB selama masa kepengurusan. 

Lanjut beliau menjelaskan bahwa tema ini menarik, kontekstual dan relevan untuk saat ini. Artinya titik tekan dalam MUSYWIL ini bagaimana agar berjalan dengan prinsip intelektualitas. Sehingg mampu mencetak kader yang berintelektual dan berkarya. Maka proses MUSYWIL ini baiknya berjalan dengan proses intelektualitas, bukan emosional. Pun demikian kader yang maju untuk kepengurusan, adalah kader yang berintelektual. 

"Musywil adalah keniscayaan dalam setiap organisasi, sebab MUSYWIL adalah bagian dari kaderisasi dan regeneresasi dalam organisasi" Tambahnya. 

Kita saat ini memasuki era revolusi 4.0. Arinya kita sudah masuk generasi ke empat. Revolusi pertama ditandai dengan penemuan mesin uap. Revolusi kedua ditandai dengan penemuan listrik dan revolusi ke tiga dengan penemuan robot. Disatu sisi kecanggihan teknologi mengwatirkan. Maka bagaimana FKMSB berhadapan dengan kondisi seperti ini? Sekarang semuanya serba online, seperti gojek dengan mudah bisa di akses dengen gadget yang sebelumnya manual. Jelas beliau yang juga menjadi Dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 

Teknologi boleh berkembang sedemikian rupa, tetapi tidak dengan nilai lima pesantren atau disebut dengan panca lima yaitu: keikhlasan, kesederhanaan, ukhuwah islamiyah, kemandirian dan khurriyyah. Dan ini adalah kendali bagi kita dengan identits latar belakang santri. 

Di akhir sambutan beliau juga menyampaikan pesan dari mas Said untuk mendirikan LSM. Semacam lembaga yang berkiprah untuk masyarakat. Berharap agar cita-cita ini dibahas dalam masa kepengurusan berikutnya.

(Moh. Waris)