FENOMENA KEMISKINAN PERKOTAAN DAN CARA PENANGGULANGANNYA

By: Ahmad Imron | 09 Juli 2021 | 83
Sumber internet
Sumber internet

Kemiskinan merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait, antara lain: tingkat pendapatan, pendidikan, akses terhadap barang dan jasa, lokasi geografis, jenis kelamin, dan kondisi lingkungan. Kemiskinan tidak hanya dipahami sebagai ketidakmampuan ekonomi, tetapi juga sebagai kegagalan pemenuhan hak-hak dasar dan perlakuan yang berbeda dari seseorang atau sekelompok orang dalam kehidupan yang bermartabat. Hak-hak dasar yang diakui meliputi pemenuhan kebutuhan pangan, kesehatan, pekerjaan, perumahan, air bersih, tanah, sumber daya alam dan lingkungan, dan rasa aman dari perlakuan atau ancaman kekerasan.

Perkembangan kota dipengaruhi oleh proses urbanisasi yang dapat dilihat dari aspek demografi, ekonomi dan sosial. Dari segi demografi, pertumbuhan penduduk di perkotaan disebabkan oleh pertumbuhan penduduk alami dan migrasi penduduk. Selain itu, perkembangan ini juga disebabkan oleh perubahan perekonomian yang dapat diamati pada pergeseran penyerapan tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor non pertanian, seperti perdagangan dan industri. Sedangkan dari segi sosial, perkembangan kota dapat dilihat dari perubahan pola pikir dan gaya hidup masyarakat (Mc Gee, 1971). Daerah perkotaan yang tumbuh dan berkembang semakin banyak juga mengarah pada perkembangan heterogenitas, yang menunjukkan adanya perbedaan sosial penduduk (Mc Gee, 1995).Wilayah diperkotaan yang semakin tumbuh dan berkembang juga menyebabkan berkembangnya heterogenitas yang menunjukkan suatu perbedaan sosial penduduknya (Mc Gee, 1995). Heterogenitas ini selanjutnya bisa lebih jelas terlihat dari adanya sektor formal dan informal di perkotaan. Hal ini terjadi dikarenakan adanya pemisahan antara kelompok penduduk berdasarkan perbedaan ekonomi dan sosial penduduknya. Kegiatan ekonomi formal di perkotaan tidak mampu menyerap pekerja dengan pendidikan dan kemampuan rendah, sehingga nantinya pekerja dengan produktivitas rendah bekerja pada sektor informal (Lacabana dan Cariola, 2003). Selain itu, adanya permukiman yang kumuh dengan keterbatasan sarana dan prasarana pendukung menunjukkan adanya kantong-kantong kemiskinan (slum area) di perkotaan.

Dewasa ini melalui berbagai media massa, Anda dapat membaca dan melihat perkembangan permasalahan yang ada di berbagai kota besar di Indonesia. Permasalahan yang muncul adalah: meningkatnya jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan, meningkatnya pengangguran, menipisnya sumber air minum, meningkatnya kebakaran di musim kemarau, banyak daerah yang terkena banjir saat musim hujan, meningkatnya jumlah anak jalanan dan pengemis. , meningkatnya kejadian perampokan dan sebagainya. . . Masalah-masalah ini sering dikaitkan dengan banyaknya jumlah penduduk miskin di Indonesia. Menurut laporan BPS (Anonim, 2007), angka kemiskinan di Indonesia tahun 2005-2007 tercatat mengalami peningkatan dan penurunan jumlah penduduk miskin, pada tahun 2005 terdapat 35,10 juta penduduk miskin (15,97%) di Indonesia, sama sebagai 12 , 40 juta orang (11,68%) penduduk miskin yang berada di daerah perkotaan, sedangkan di daerah pedesaan sebanyak 22,70 juta orang (19,98%). Fenomena kemiskinan merupakan lingkaran setan (vicious circle) yang sulit untuk dipecahkan, diperlukan suatu usaha yang tepat sasaran dan berkesinambungan.

Penduduk miskin di berbagai kota mempunyai suatu karakteristik yang tentunya berbeda dengan kemiskinan di kota besar seperti di kota Jakarta dan Surabaya. Faktor urbanisasi sebagai faktor utama yang mempengaruhi tidak terlalu besar dikarenakan sebagian besar penduduk miskin merupakan warga asli dan pendatang yang telah lama menjadi penduduk di tempat tersebut. Kehidupan kota yang tidak terlalu hingar bingar tentu juga berpengaruh pada sistem sosialnya. Sebagian mempunyai pekerjaan yang non formal, setiap hari memperoleh penghasilan.

Menurut beberapa pakar kemiskinan, minimal ada tiga konsep kemiskinan yangsering digunakan, yaitu kemiskinan absolut, kemiskinan relatif dan kemiskinan subyektif.Konsep kemiskinan absolut dirumuskan dengan membuat ukuran tertentu yang konkretdan lazimnya berorientasi pada kebutuhan hidup dasar minimum anggota masyarakatyaitu sandang, pangan dan papan. Sementara, konsep kemiskinan relatif dirumuskan dengan memperhatikan dimensi tempat dan waktu. Dasar asumsinya adalah bahwa kemiskinan di suatu daerah berbeda dengan kemiskinan di daerah lainnya, dan kemiskinan pada waktu tertentu berbeda dengan kemiskinan pada waktu yang lain.

Fenomena kemiskinan dan Pengangguran di Indonesia merupakan fenomena yang Kompleks dan tidak dapat secara mudah dilihat Dari satu angka absolut. Keberagaman budaya masyarakat yang menyebabkan kondisi dan permasalahan kemiskinan dan pengangguran di suatu kota  menjadi sangat beragam dengan sifat-sifat lokal yang kuat serta pengalaman kemiskinan yang berbeda secara sosial. Penduduk miskin perkotaan di perkotaan  mempunyai karakteristik yang berbeda dengan kemiskinan di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Faktor urbanisasi sebagai faktor utama yang mempengaruhi tidak terlalu besar dikarenakan sebagian besar penduduk miskin merupakan warga asli dan pendatang yang telah lama menjadi penduduk di tempat tersebut. Kehidupan kota yang tidak terlalu hingar bingar juga berpengaruh pada sistem sosialnya. Sebagian mempunyai pekerjaan yang non formal, setiap hari memperoleh penghasilan. Kota yang dijadikan sebagai kota tujuan wisata bisa  turut andil dalam mempengaruhi struktur kemiskinan ini,dikarenakan terdapat beberapa pekerjaan yang dapat dilakukan sebagai dampak dari adanya pariwisata. Dengan demikian struktur kemiskinan di perkotaan termasuk dalam struktur kemiskinan alamiah dan relatif. Hal tersebut dapat didekati dari karakteristiknya dan persepsi kemiskinan yang dirasakan warga. 

Oleh: Ach. Zulvi Syarivan Nahdi